Manusia diciptakan dalam keadaan yang demikian sempurna, baik secara fisik maupun mental. Fisik dan mental merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya menyatu dalam diri manusia. Jika keduanya terpisah, manusia tidak lagi disebut sebagai manusia yang hidup, melainkan menjadi mayit atau jenazah.
Fisik manusia sesungguhnya diciptakan secara lengkap, mulai dari kepala hingga kaki. Fisik manusia berbeda dengan kera atau gorila. Apalagi, manusia bukan berasal dari monyet. Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan merupakan makhluk yang dimuliakan oleh Allah Swt, sebagaimana firman-Nya dalam QS. At-Tin ayat 4 dan QS. Al-Isra ayat 70.
Fungsinya dalam Kehidupan Sehari-hari
Di antara bagian tubuh manusia yang diciptakan dengan sebaik-baiknya adalah tangan, telapak tangan, dan jari-jemari. Semua organ tersebut bekerja secara serasi dan saling mendukung dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.
Organ-organ tersebut benar-benar berfungsi ketika manusia makan, minum, mandi, menyikat gigi, mencuci, memasak, mengetik, menulis, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Tangan, telapak tangan, dan jari-jemari bekerja dengan sempurna dalam mendukung aktivitas tersebut. Hal ini menunjukkan kesempurnaan penciptaan manusia, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Qiyamah ayat 3–4.
Makhluk lainnya tidak menggunakan tangan, telapak tangan, dan jari-jarinya untuk melakukan berbagai aktivitas kompleks seperti manusia. Meskipun beberapa jenis hewan, seperti monyet, kera, dan gorila, memiliki anggota tubuh yang menyerupai tangan manusia dan menggunakannya untuk memegang, makan, minum, bergelantungan, serta memanjat pohon, kemampuan tersebut berbeda dengan kemampuan manusia.
Aktivitas yang dilakukan manusia, seperti mandi, menyikat gigi, memasak, menulis, dan mengetik, merupakan bagian dari kemampuan manusia dalam memanfaatkan anggota tubuhnya untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Hal ini mengingatkan kita akan nikmat dan kesempurnaan ciptaan Allah Swt, sebagaimana antara lain disebutkan dalam QS. Al-Qalam ayat 1 dan QS. Al-‘Alaq ayat 1–2.
Jari-jari manusia juga dapat digunakan untuk berbagai aktivitas lainnya. Jari tangan dapat digunakan untuk memakai cincin dan berbagai aksesori. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengenakan cincin di sini.” Anas berisyarat pada jari kelingking di tangan sebelah kiri. (HR. Muslim no. 2095)
Jari-jari manusia juga dapat digunakan untuk memijat, mengurut, dan meraba. Penyandang tunanetra, misalnya, menggunakan jari-jari tangannya untuk mengenali benda yang tidak dapat dilihat atau membantu menjalankan aktivitas sehari-hari. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut:
“Aku melihat wanita itu dalam keadaan buta, meraba-raba jalannya dengan menyentuh dinding (yang ada di dekatnya)….” (HR. Muslim no. 1610)
Jari-jari manusia terdiri atas lima jari, baik pada tangan maupun kaki. Masing-masing memiliki nama, yaitu ibu jari (al-ibham), jari telunjuk (as-sabbabah), jari tengah (al-wusta), jari manis (al-binsir), dan jari kelingking (al-khinsir).
Fungsinya dalam Salat
Saat seorang muslim melaksanakan ibadah, berbagai anggota tubuh turut aktif, termasuk jari-jari tangan dan kaki. Dalam salat, misalnya, jari-jari memiliki fungsi dalam beberapa gerakan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
Pertama, saat takbiratul ihram, takbir untuk rukuk, dan bangkit dari rukuk
Pada saat takbiratul ihram, jari-jari kedua tangan turut bergerak ketika tangan diangkat menghadap ke arah kiblat. Tangan bersama jari-jarinya berada dalam keadaan terbuka, tidak digenggam atau dikepalkan.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadis:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat kedua tangannya sejajar pundaknya ketika memulai (membuka) salat, ketika beliau bertakbir untuk rukuk, ketika mengangkat kepala dan bangkit dari rukuk beliau juga mengangkat tangan. Saat itu beliau mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamdu. Beliau tidak mengangkat tangannya ketika turun untuk sujud.” (HR. Bukhari no. 735 dan Muslim no. 390)
Kedua, dalam keadaan bersedekap
Pada saat bersedekap dalam salat, yaitu meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, jari-jari kedua tangan juga memiliki fungsi masing-masing.
Hal ini disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Dari Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Aku pernah salat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau meletakkan tangan kanan pada tangan kiri di dadanya.’” (HR. Ibnu Khuzaimah, 1:243; Al-Baihaqi, 2:30)
Ketiga, saat melakukan rukuk
Ketika rukuk dalam salat, kedua tangan diletakkan pada lutut, dengan jari-jari tangan direnggangkan. Tangan kanan berada pada lutut kanan dan tangan kiri pada lutut kiri.
Amalan ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad Saw:
“Jika rukuk, beliau meletakkan kedua tangannya di lututnya dan merenggangkan jari-jemarinya.” (HR. Abu Dawud no. 731. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sahih).
Dalam riwayat lainnya disebutkan:
“Kemudian beliau rukuk dan meletakkan kedua tangannya di lututnya seakan-akan beliau menggenggam kedua lututnya tersebut.”
(HR. Abu Dawud no. 734, Tirmidzi no. 260, dan Ibnu Majah no. 863. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sahih).
Keempat, dalam sujud
Saat sujud dalam salat, jari-jari juga aktif berfungsi bersama tangan. Jari-jari tangan kanan dan kiri berada di atas tempat sujud, sedangkan jari-jari kaki diarahkan dan ditegakkan sesuai tuntunan salat.
Keadaan ini sesuai dengan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang (anggota tubuh): pada dahi—beliau menunjuk hidungnya—, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung jari kedua kaki.’” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490, 230).
Kelima, ketika duduk di antara dua sujud
Pada saat duduk di antara dua sujud, jari-jari kaki dan tangan juga memiliki posisi tertentu. Jari-jari kaki kanan ditegakkan menghadap kiblat, sedangkan kaki kiri menjadi tempat duduk.
Adapun kedua tangan diletakkan di atas paha atau lutut sesuai dengan tuntunan salat.
Hal ini dijelaskan dalam hadis:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan….” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226)
Keenam, dalam tasyahud awal dan akhir
Saat melakukan tasyahud awal maupun akhir, jari-jari tangan kanan dan kiri juga memiliki fungsi dalam salat. Pada keduanya terdapat persamaan dan perbedaan.
Persamaannya, tangan kiri diletakkan pada paha atau lutut kiri, sedangkan tangan kanan diletakkan pada paha atau lutut kanan.
Perbedaannya, antara lain sebagai berikut:
-
Pada saat tasyahud, jari telunjuk tangan kanan digunakan sebagai isyarat. Sementara jari-jari lainnya berada dalam posisi tertentu sesuai tuntunan yang disebutkan dalam hadis.
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk bertasyahud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lututnya yang kiri dan meletakkan tangan kanannya di atas lututnya yang kanan, membentuk lima puluh tiga dan berisyarat dengan telunjuknya.” (HR. Muslim)
-
Dalam tasyahud awal, kaki kiri digunakan sebagai tempat duduk dan kaki kanan ditegakkan. Dalam tasyahud akhir, terdapat perbedaan posisi kaki sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya, menegakkan kaki kanannya, dan duduk di atas lantai.” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226)
Fungsinya dalam Zikir dan Doa
Dalam berzikir dan berdoa, khususnya setelah melaksanakan salat, jari-jari juga dapat digunakan sebagai bagian dari anggota tubuh yang mendukung ibadah. Penggunaan jari-jari dalam berzikir memiliki nilai tersendiri karena jari-jemari tersebut merupakan bagian dari anggota tubuh yang diciptakan oleh Allah Swt.
Pertama, dalam berzikir
Setelah melaksanakan salat, setiap muslim disunnahkan untuk berzikir dengan membaca tasbih, tahmid, dan takbir sebanyak 33 kali, serta tahlil. Dalam menghitung zikir tersebut, seseorang dapat menggunakan jari-jari tangannya.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami, ‘Hendaknya kalian bertasbih (mengucapkan Subhanallah), bertahlil (mengucapkan Laa ilaaha illallah), dan bertaqdis (menyucikan Allah), dan hitunglah dengan ujung jari-jemari kalian karena itu semua akan ditanya dan diajak bicara (pada hari kiamat), janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat Allah.’” (HR. Tirmidzi no. 3583 dan Abu Dawud no. 1501)
Kedua, dalam berdoa
Ketika berdoa, tangan juga dapat digunakan untuk mendukung ibadah tersebut. Dalam berdoa, seseorang disunnahkan mengangkat kedua tangannya sebagai bentuk permohonan kepada Allah Swt.
Hal ini dijelaskan dalam hadis:
“Sesungguhnya Rabb kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia. Dia malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya (meminta kepada-Nya), lalu dikembalikan dalam keadaan kosong, tidak mendapat apa-apa.” (Sunan Abu Dawud, Kitab Salat, Bab Doa 2/78 No. 1488; Sunan At-Tirmidzi, Bab Doa 13/68; Musnad Ahmad 5/438).
Semua ini menunjukkan kekuasaan dan kebesaran Allah Azza wa Jalla. Setiap sesuatu yang diciptakan-Nya tidak ada yang sia-sia.
Allah Swt berfirman:
“…Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia….” (QS. Ali Imran: 191)
Semua bagian tubuh manusia memiliki fungsi dan dapat menjadi sarana untuk beribadah. Termasuk jari-jari tangan dan kaki. Karena itu, kita hendaknya tidak mengabaikan fungsi dan nikmat tersebut, tetapi memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk syukur kepada Allah Swt. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments