Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Inilah Kisah Tim Pengibar Bendera Al Mizan di HUT ke-81 RI dan Milad ke-41 PAM Cabang Lamongan 

Iklan Landscape Smamda
Inilah Kisah Tim Pengibar Bendera Al Mizan di HUT ke-81 RI dan Milad ke-41 PAM Cabang Lamongan 
Tim Pengibar Bendera Al Mizan berpose bersama mahasiswa Turki setelah prosesi upacara. (Tim Media/PWMU.CO)
pwmu.co -

Terik matahari tidak menyurutkan semangat ratusan para santri Panti Asuhan dan Pondok Pesantren (PA dan PP) Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.

Senin (17/8/2026) pagi, tepat pada 08.00 WIB mereka berdiri tegap mengikuti Upacara Akbar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Milad ke-41 Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Lamongan.

Upacara yang digelar di halaman Asrama Putra Reguler Al Mizan itu berlangsung khidmat. Salah satu bagian yang menjadi perhatian adalah penampilan Tim Pengibar Bendera yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Momentum tersebut terasa semakin istimewa karena tanggal berdirinya Indonesia dan Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Lamongan sama-sama jatuh pada 17 Agustus. Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, sedangkan Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Lamongan berdiri pada 17 Agustus 1985.

Dua momentum itu seolah bertemu dalam satu perayaan: mengenang perjuangan kemerdekaan bangsa sekaligus perjalanan panjang pengabdian Al Mizan selama 41 tahun.

Tiga Kali Pertemuan, Persiapan Serius

Di balik keberhasilan Tim Pengibar Bendera, ada proses latihan yang dilakukan secara sederhana tetapi penuh kesungguhan.

Pelatih Tim Pengibar Bendera, Ahmad Sholahudin, S.Bns, mengatakan para petugas hanya menjalani tiga kali pertemuan latihan sebelum tampil dalam upacara.

“Alhamdulillah, anak-anak yang ditunjuk sebagai pengibar bendera dan pimpinan upacara sangat antusias dalam berlatih,” ujarnya.

Latihan dilaksanakan di halaman Masjid Al Ghoihab asrama putra. Meski waktu persiapan relatif singkat, para santri berusaha mengikuti setiap arahan dengan serius.

Keterbatasan sarana sempat menjadi kendala. Pada latihan pertama dan kedua, tim belum memiliki bendera Merah Putih berukuran besar sehingga sementara menggunakan bendera berukuran sekitar 1 x 1,5 meter.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan untuk mengurangi kesungguhan. Justru dari kondisi itu para santri belajar bahwa keberhasilan sebuah tugas tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi juga oleh kemauan untuk berlatih dan bekerja sama.

Ketegangan Terbayar Lunas

Ketika upacara dimulai, suasana halaman Al Mizan berubah menjadi penuh khidmat. Santri bersama keluarga besar Al Mizan menyambut para tamu undangan, mulai dari para sesepuh, Badan Pembina, Mudir dan Wakil Mudir, hingga para guru.

Upacara juga dihadiri tiga mahasiswa asal Turki bersama Sekretaris PCIM Turki. Kehadiran mereka menjadi warna tersendiri dalam peringatan kemerdekaan Indonesia di lingkungan Al Mizan.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Ketua PCM Lamongan, KH Drs Saifudin Zuhri, M.Ag.

Sholahuddin mengungkapkan, pelaksanaan upacara secara umum berlangsung lancar dan tertib. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi para peserta.

“Beberapa anak tidak kuat karena kelelahan dan panas terik matahari. Dari tim pengibar juga ada sedikit rasa takut ketika pembukaan bendera dari lipatan pembawa baki,” tuturnya.

Namun, kekhawatiran tersebut akhirnya dapat dilewati. Keseriusan selama latihan menjadi bekal bagi para santri untuk menyelesaikan tugas hingga akhir.

“Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada halangan yang berarti,” imbuhnya.

Bukan Sekadar Mengibarkan Bendera

Bagi Ahmad Sholahudin, keberhasilan para santri menjalankan tugas bukan sekadar tentang sempurnanya prosesi pengibaran bendera.

Lebih dari itu, terdapat pelajaran tentang disiplin, keberanian, tanggung jawab, kekompakan, dan saling menguatkan.

“Alhamdulillah sangat senang dan bangga sekali ketika anak-anak telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Mereka saling menguatkan satu sama lain,” katanya.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pembuktian bahwa kesungguhan dalam menjalankan proses akan menghasilkan sesuatu yang maksimal.

Ia berharap pengalaman ini dapat memotivasi santri-santri Al Mizan lainnya untuk berani mencoba hal-hal baru.

SMPM 5 Pucang SBY

Bahkan, kata Sholahuddin, para santri yang mengikuti latihan mulai memiliki cita-cita lebih besar. Mereka ingin mengikuti seleksi menjadi Tim Pengibar Bendera Merah Putih pada upacara di Alun-Alun Kabupaten Lamongan.

Harapan itu menunjukkan bahwa latihan sederhana di halaman Al Ghoihab telah menumbuhkan keberanian untuk bermimpi lebih tinggi.

Peringatan tahun ini memiliki makna khusus. Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan, sementara Al Mizan memperingati 41 tahun perjalanan pengabdiannya—keduanya sama-sama lahir pada 17 Agustus.

Dari halaman Al Mizan, Merah Putih kembali dikibarkan. Bukan hanya sebagai simbol kemerdekaan, tetapi juga sebagai pengingat bagi generasi muda bahwa kemerdekaan harus diisi dengan pendidikan, pengabdian, keberanian, dan karya.

Petugas Upacara

Tim yang bertugas dalam Upacara Akbar PA dan PP Al Mizan Muhammadiyah Lamongan terdiri atas:

1. Khoiruzzad

2. M. Jadid Al Amru

3. M. Irsyad Syafakhrudin

4. Joko Nurul

5. Nizar Hamida Al Muqowwam

6. Khulul Akmal Muakhor

7. Satrio Pambudi Luhur

8. Faiz Ahmad Walisandika

9. Darius Zada An Najaad

10. Anhaz Ali Munir

11. Ahmad Ridho Arfani

12. Hafiz Ramadhan

13. Nur Mawaddah Warahmah

14. Amalan

15. Laura Defi Maulia

16. Almira Safira Aulia Putri

17. Tutut Linda Aprilia. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 17/08/2026 15:48
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu