Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dusta Perusak Sendi Agama

Iklan Landscape Smamda
Dusta Perusak Sendi Agama
Oleh : Moh. Helman Sueb Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat, Lamongan

Berdusta jelas merupakan perbuatan tercela. Namun, bagi seseorang yang telah terbiasa berdusta, kebohongan dapat dianggap sebagai sesuatu yang biasa tanpa disertai rasa bersalah dan dosa.

Betapa mudah seseorang berdusta. Anehnya, ia juga tidak memiliki rasa malu meskipun perbuatannya diketahui oleh orang banyak. “Ah, masa bodoh,” mungkin demikian sikap orang yang telah terbiasa berdusta.

Padahal, dusta bukan sekadar persoalan perkataan. Jika dilakukan terus-menerus, dusta dapat merusak akhlak, mendorong seseorang melakukan kemaksiatan, bahkan perlahan merusak sendi-sendi kehidupan beragama.

Rasulullah Shalallahu alaihi was Salam melarang berbuat dusta, sebagaimana Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Wajib atas kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah (jauhilah) kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan pada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”_

HR. Bukhari, dan Muslim,

Dalam hadits di atas Nabi Muhammad Shalallahu alaihi was Sallam memerintahkan kita agar membiasakan jujur yang berarti melarang berbuat dusta. Dua sifat ini memang sangat bertentangan.

Kejujuran akan membawa seseorang terbiasa melakukan kebaikan yang akan membawa ke surga. Sebaliknya, kebohongan atau kedustaan dapat melahirkan berbagai perbuatan yang menyimpang dari aturan agama dan cenderung membawa seseorang kepada dosa.

Keberanian para pendusta memang luar biasa. Mereka tidak takut dosa dan apa yang mereka lakukan terasa baik-baik saja. Bahkan, mereka dapat merasa nyaman dengan kebohongan yang dilakukan.

Inilah beberapa efek dusta yang dilakukan seseorang maupun kelompok.

Pertama: Membela yang Salah

Membela yang benar semestinya menjadi pilihan yang harus dilakukan karena merupakan petunjuk dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala bagi orang yang berpikir normal.

Namun, bagi pendusta, membela yang salah dapat menjadi kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dunia. Ia berani meyakinkan orang lain bahwa sesuatu yang diikuti itu benar, meskipun sebenarnya salah.

Para pendusta yang membela kesalahan sama dengan berbuat zalim, baik secara perorangan maupun kelompok.

Kedua: Berperilaku Munafik

Pendusta dapat berperilaku munafik. Apa yang diucapkan tidak sama dengan apa yang ada di dalam hatinya.

Apa yang tampak manis melalui ucapan, sikap, dan tindakan tidak selalu sama dengan isi hati dan pikirannya. Apa yang dilakukan menjadi tipu daya terhadap orang lain secara samar-samar.

SMPM 5 Pucang SBY

Islam melarang umatnya berperilaku munafik yang tempatnya di neraka.

Ketiga: Mudah Tergoda Urusan Dunia

Seorang pendusta sangat mudah tergoda oleh urusan dunia. Ketika sesuatu yang diinginkannya tidak dapat dicapai secara normal, seorang pendusta dapat berusaha, bahkan merekayasa, agar keinginannya terpenuhi.

Apa saja akan dilakukannya agar apa yang diinginkannya tercapai. Para pembohong atau pendusta bahkan dapat merasa puas ketika kebohongannya dianggap berhasil memperdaya orang lain.

Keempat: Dusta Itu Sumber Kemaksiatan

Tepat bila Nabi Muhammad Shalallahu alaihi was Sallam memerintahkan agar menjauhi dusta. Sebab, dusta dapat merangsang seseorang untuk berbuat dosa atau kejahatan yang berakhir dengan masuk neraka.

Orang yang berdusta memiliki peluang untuk berbuat jahat dan melakukan hal-hal yang mendatangkan murka Allah Subhaanahu wa Ta’ala, termasuk menipu.

Kelima: Mengikuti Dorongan Nafsu

Dorongan nafsu dalam jiwa dapat diikuti tanpa berpikir panjang. Akibatnya, apa yang dilakukan sekalipun salah, karena dilakukan dengan cara berdusta, dapat membuat seseorang merasa puas ketika berhasil membohongi orang lain.

Mengikuti hawa nafsu dilarang dalam agama Islam, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ

‘.. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat.”
QS.Shad : 26.

Penyebab pokok kebohongan yang dilakukan seseorang adalah kelemahan iman. Kelemahan iman dapat merusak sendi-sendi agama, baik melalui kemalasan dalam ibadah maupun kerusakan akhlak.

Siapa pun yang lemah imannya akan mudah melakukan kemaksiatan dan pelanggaran serta mengabaikan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Karena itu, menjaga kejujuran bukan hanya persoalan menjaga ucapan, tetapi juga bagian dari menjaga iman dan akhlak. Kebiasaan berdusta harus dilawan sejak dari diri sendiri agar tidak berkembang menjadi karakter dan merusak kehidupan bersama.

Semoga kita terbebas dari sifat dusta dan terbiasa melakukan kejujuran di tengah-tengah kehidupan.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu