Ada orang yang penghasilannya pas-pasan, tetapi hidupnya tenang dan cukup. Namun, ada yang penghasilannya berlimpah, tetapi hatinya gelisah dan hartanya seolah menguap begitu saja. Mengapa?
Al-Qur’an menjawabnya dengan satu kata yang sering diucapkan, namun jarang dipahami maknanya secara utuh: berkah.
Berkah diraih oleh orang yang tenang biasanya memiliki sifat qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang ada dan bersyukur.
Mereka tidak menyiksa diri dengan membandingkan hidupnya dengan orang lain. Keinginan yang tidak ada habisnya membuat hati selalu gelisah karena terus mengejar apa yang belum dimiliki.
Secara bahasa, berkah berasal dari kata baraka–yabriku, yang bermakna an-namā’ wa ziyādah, tumbuh dan bertambah.
Ia juga mengandung makna tetap dan menetap, seperti air di telaga yang tenang, tidak mengalir pergi, namun menghidupi sekelilingnya.
Secara istilah, berkah adalah kebaikan yang Allah ﷻ tetapkan pada sesuatu sesuai kehendak-Nya. Kadang hadir tanpa disangka, tidak terukur secara matematis.
Kehadirannya terasa nyata dalam ketenangan, kecukupan, dan keberlanjutan. Inilah sebabnya rezeki yang sedikit bisa terasa cukup, sementara yang banyak bisa terasa tidak pernah menenangkan.
Dengan demikian, keberkahan bukan soal angka, melainkan soal kebaikan di baliknya. Terkait hal ini, Syeikh Mutawalli Asy-Sya’rawi menggambarkannya berkah sebagai pasukan Allah nan tersembunyi yang dikirimkan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Saat singgah pada harta, dia menjadi banyak manfaatnya.
Saat singgah pada anak, dia menjadi saleh. Saat singgah pada tubuh, dia menjadi kuat. Saat singgah pada waktu, dia menjadi berkah umurnya. Dan, manakala singgah di hati, dia menjadi bahagia.”
Al-Quran menegaskan, keberkahan dari langit dan bumi akan dicurahkan kepada suatu negeri jika penduduknya beriman dan bertakwa (QS Al-A’raf, 7:96).
Sebaliknya, keberkahan dicabut ketika iman dan kejujuran ditinggalkan, sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Syu’aib as.
Kisah Berkah dalam Kehidupan Sehari-hari
Pertama, Berkah dalam Keturunan
Sarah, istri Nabi Ibrahim as. yang telah lanjut usia, dianugerahi putra bernama Ishaq melalui rahmat dan keberkahan Allah (QS Hud, 11:73).
Karena itu, nikmat keluarga selayaknya disikapi dengan syukur, bukan sekadar kebanggaan (QS Ali ‘Imran, 3:14).
Kedua, Berkah dalam Rezeki dan Makanan
Islam membolehkan menikmati rezeki, tetapi melarang berlebihan (QS Al-A’raf, 7:31).
Rezeki yang berkah apabila sedikit, dia akan mencukupi. Adapun kalau banyak, manfaatnya akan meluas.
Keberkahan rezeki, di mana nilai suatu rezeki tidak lagi diukur semata-mata dari jumlah nominalnya, melainkan dari manfaat dan ketenangan yang dihasilkannya.
Apabila sedikit, dia mencukupi: Rezeki yang berkah memiliki daya cukup yang luar biasa. Meskipun secara angka terlihat minim, kebutuhan dasar selalu terpenuhi, hati merasa qana’ah (puas), dan dihindarkan dari pengeluaran tidak terduga yang sia-sia (seperti mendadak sakit atau tertipu).
Apabila banyak, manfaatnya meluas: Ketika rezeki yang berkah itu dititipkan dalam jumlah besar, ia tidak menumpuk sebagai gaya hidup mewah yang egois.
Pemiliknya akan digerakkan untuk membuka lapangan kerja, bersedekah, membantu yang lemah, sehingga rezeki tersebut menjadi mata air kebaikan bagi orang banyak.
Intinya, keberkahan mengubah kuantitas menjadi kualitas. Rezeki sedikit menjadi penenteram jiwa, rezeki banyak menjadi jalan ibadah dan sosial.
Ketiga, Berkah dalam Waktu
Siapa pun yang mampu memanfaatkan waktunya dengan iman dan kedermawanan, Allah janjikan kemudahan dan balasan yang baik (QS Al-Lail, 92:5–7).
Sebagian orang mampu menghasilkan banyak kebaikan dalam waktu yang singkat, karena waktunya diberkahi.
Ketika waktu seseorang diberkahi, mereka mampu menyelesaikan banyak hal bermanfaat, menjaga kualitas ibadah, sekaligus menjaga hubungan baik dengan sesama, meski memiliki jumlah jam yang sama dengan orang lain—yaitu 24 jam sehari.
Secara spiritual dan praktis, produktivitas yang luar biasa ini biasanya didukung oleh beberapa faktor kunci:
Faktor Pendukung Keberkahan Waktu
• Niat yang Tulus: Memulai setiap aktivitas dengan niat ibadah atau berbuat kebaikan untuk sesama.
• Bangun Lebih Awal: Memanfaatkan waktu subuh atau pagi hari (waktu baku), yang dipercaya penuh dengan berkah.
• Menjaga Hubungan dengan Pencipta: Mengutamakan kewajiban spiritual (seperti salat tepat waktu) justru sering kali membuat urusan duniawi selesai lebih cepat dan mudah.
• Fokus dan Manajemen Diri: Menghindari hal-hal sia-sia (laghwun) dan fokus pada hal yang memberi dampak nyata.
• Berbakti dan Silaturahmi: Berbuat baik kepada orang tua dan menjaga silaturahmi dipercaya dapat memperluas rezeki, termasuk rezeki berupa waktu yang lapang.
Keberkahan waktu bukan berarti waktu tersebut melambat secara fisik, melainkan Allah memberikan kemudahan, kejernihan berpikir, dan efisiensi dalam setiap urusan yang dilakukan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments