Singapore Polytechnic dan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) kembali memperkuat kerja sama internasional melalui program Learning Express (LeX) 2026, Selasa (29/9/2026).
Memasuki tahun keempat kolaborasi, program ini mempertemukan mahasiswa kedua perguruan tinggi untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus mengembangkan inovasi bagi pelaku usaha lokal di Surabaya.
Sebanyak 40 mahasiswa dari masing-masing perguruan tinggi mengikuti program yang berlangsung selama dua minggu. Mereka menjalankan kegiatan pengabdian masyarakat dengan pendekatan design thinking untuk memahami persoalan, menggali kebutuhan, dan merancang solusi yang relevan.
Dua lokasi menjadi fokus kegiatan, yaitu Kampung Semanggi di Sememi, Benowo, dan Jago Karah Farm di Karah, Jambangan, Surabaya.
Kembangkan Pecel Semanggi
Di Kampung Semanggi, mahasiswa mempelajari pengembangan budidaya tanaman semanggi sekaligus usaha pecel semanggi. Persoalan yang dikaji meliputi sistem irigasi, proses panen, pengolahan hasil, efisiensi produksi, akses pasar, hingga kesehatan dan keselamatan kerja petani.
Kampung Semanggi dikenal sebagai salah satu kawasan yang mempertahankan tradisi pecel semanggi sekaligus menjadi sentra budidaya tanaman tersebut. Dalam proposal program, kawasan ini tercatat memiliki sekitar 120 pelaku usaha penjualan pecel semanggi dan 35 petani.
Mahasiswa juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang dihadapi petani. Di antaranya penggunaan teknologi yang belum optimal dalam sistem irigasi, sumber air yang belum melalui penyaringan memadai, keterbatasan pengetahuan budidaya, serta proses panen yang masih dilakukan secara manual.
Persoalan pascapanen, akses pasar, kesehatan dan keselamatan kerja, serta keberlanjutan lingkungan juga menjadi perhatian. Karena itu, program tidak hanya diarahkan pada pengembangan teknologi, tetapi juga peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan, dan pengembangan rantai nilai produk.
Pelajari Peternakan Closed-House
Lokasi kedua adalah Jago Karah Farm, peternakan ayam di kawasan Karah, Jambangan, Surabaya. Peternakan ini menerapkan sistem closed-house untuk menjaga kebersihan kandang, mengurangi bau, dan meminimalkan dampak lingkungan di kawasan perkotaan.
Pengelolaan peternakan juga menerapkan prinsip biosecurity, pengendalian suhu, serta manajemen pakan dan kesehatan ternak.
Dalam program LeX, mahasiswa mempelajari berbagai persoalan yang dihadapi peternak. Di antaranya keterbatasan ruang, kondisi kandang yang bertumpuk, keterbatasan waktu untuk melakukan pembersihan, pemberian pakan yang masih manual, hingga persoalan kebisingan di lingkungan perkotaan yang dapat memengaruhi kenyamanan dan produktivitas ayam.
Kegiatan ini juga melibatkan dosen Umsura untuk memberikan perspektif keilmuan dalam bidang higiene dan sanitasi, pengelolaan limbah, sistem produksi berkelanjutan, serta pengembangan dan evaluasi prototipe solusi. Proposal program mencatat keterlibatan dosen Teknik Industri serta Parasitologi dan Mikologi Umsura.
Fasilitator Singapore Polytechnic, Lee Yoke King, mengapresiasi penyelenggaraan LeX 2026 oleh Umsura.
“Terima kasih kepada tim Umsura yang telah mempersiapkan program ini dengan sangat baik sehingga dapat berjalan lancar. Pengalaman ini sangat bermakna dan menyenangkan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kerja panitia dan kesempatan mahasiswa Singapore Polytechnic untuk belajar bersama mahasiswa serta fasilitator Umsura.
Menurut Lee, program LeX tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga sarana untuk membangun hubungan dan kepedulian terhadap masyarakat.
Sementara itu, Kepala Lembaga Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LRIPM) Umsura, Arin Setyowati, mengatakan KKN LeX merupakan bagian dari kolaborasi lintas negara yang diarahkan untuk memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
“Program KKN LeX ini bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi merupakan wujud nyata kolaborasi lintas negara yang dirancang untuk memberikan dampak positif secara langsung kepada masyarakat,” kata Arin.
Ia menjelaskan, pendekatan design thinking membuat mahasiswa tidak hanya datang untuk mengamati persoalan. Mereka juga diajak memahami kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha sebelum merancang solusi.
“Melalui pendekatan design thinking, mahasiswa tidak sekadar datang untuk mengamati persoalan, tetapi diajak memahami tantangan nyata masyarakat dan pelaku usaha, kemudian bersama-sama menciptakan solusi inovatif,” ujarnya.
Kolaborasi Lintas Budaya
Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof. Mundakir, mengatakan kolaborasi dengan Singapore Polytechnic menjadi bagian dari upaya Umsura memperluas pengalaman belajar mahasiswa melalui kerja sama internasional.
“Kolaborasi Umsura dengan Singapore Polytechnic melalui program LeX menjadi bagian dari komitmen kami untuk memperluas pengalaman belajar mahasiswa melalui kerja sama internasional,” katanya.
Menurut Mundakir, mahasiswa tidak hanya perlu memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan berkolaborasi lintas budaya dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.
“Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi internasional tidak harus berhenti di lingkungan kampus. Mahasiswa dari Umsura dan Singapore Polytechnic dapat belajar bersama, memahami persoalan yang dihadapi masyarakat, kemudian mengembangkan gagasan inovatif yang relevan dengan kebutuhan lokal,” pungkasnya.
Program LeX menempatkan mahasiswa dalam sejumlah tahapan design thinking. Prosesnya dimulai dari memahami persoalan dan kebutuhan masyarakat, kunjungan lapangan, membangun empati, hingga melakukan co-creation bersama komunitas.
Mahasiswa juga mendapatkan masukan dari akademisi dan masyarakat dalam mengembangkan gagasan. Hasil gagasan dan prototipe solusi tersebut selanjutnya akan dipresentasikan dalam Gallery Walk pada akhir program. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments