Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

PANDU PDNA Kota Malang: Mendengar Lebih Dekat, Berbicara Lebih Tepat

Iklan Landscape Smamda
PANDU PDNA Kota Malang: Mendengar Lebih Dekat, Berbicara Lebih Tepat
PANDU PDNA Kota Malang: Mendengar Lebih Dekat, Berbicara Lebih Tepat. (Arina/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Malang menyelenggarakan Pelatihan Analisis dan Narasi Dakwah Unggul (PANDU) bertema “Dakwah Solutif: Mendengar Lebih Dekat, Berbicara Lebih Tepat” pada Sabtu (26/9/2026), pukul 08.00 WIB hingga selesai, di Masjid AR. Fachruddin, Malang.

Kegiatan ini dihadiri oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Malang, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kota Malang, Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Kota Malang, PDNA Kota Malang, serta PC IMM Malang Raya.

Sebanyak 20 peserta terdaftar mengikuti pelatihan dan memperoleh sertifikat pelatihan 12 Jam Pelajaran (JP).

Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh dua tantangan dakwah masa kini, yakni kemampuan menyampaikan pesan secara komunikatif (public speaking) dan kemampuan memetakan kebutuhan umat.

Pada rentang usia 25 hingga 40 tahun, perempuan berada di pusat kehidupan keluarga dan sosial, mulai dari pengasuhan anak, ketahanan ekonomi keluarga, hingga kesehatan mental.

Karena itu, mubalighat Nasyiatul Aisyiyah diharapkan hadir tidak sekadar sebagai penyampai dalil, tetapi sebagai kawan dialog yang mencerahkan dan menghadirkan solusi, termasuk di ruang-ruang digital.

Dalam sambutannya, perwakilan PDA Kota Malang menegaskan bahwa medan dakwah kini semakin luas.

“Dakwah pada zaman sekarang tidak lagi terbatas pada mimbar dan majelis taklim. Ruang digital adalah ladang dakwah baru, dan kader Nasyiatul Aisyiyah harus hadir di sana dengan pesan yang menyejukkan, relevan, dan mencerahkan,” tuturnya.

Senada dengan itu, Ketua PDNA Kota Malang, Annisa, mengajak seluruh peserta dan unsur persyarikatan untuk bergerak bersama.

“Era digital bukan alasan untuk berjarak dari umat, justru peluang untuk merangkul lebih banyak orang. Ayo berdakwah bersama di era digital, saling menguatkan dan saling melengkapi,” ujarnya.

Materi Pertama: Dakwah Solutif, Dimulai dari Mendengar

Materi pertama dibawakan oleh I’anatut Thoifah, M.Pd.I., Kepala Lab. Tarbiyah FAI UMM. Ia memperkenalkan kerangka PANDU, yaitu Peka, Analisis, Narasikan, Dakwahkan, dan Ubah, sebagai tahapan berdakwah yang dimulai dari mendengar lebih dekat hingga menggerakkan perubahan.

Peserta juga diajak memahami bahwa apa yang diucapkan seseorang hanyalah puncak dari persoalan yang sebenarnya, sehingga penting menggali rasa dan kebutuhan di baliknya, serta melatih struktur bicara singkat 90 detik dan latihan “dengar 3 menit, bicara 1 menit”.

“Dakwah solutif dimulai bukan dari mulut, tetapi dari telinga,” ujarnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia juga berpesan agar peserta tidak hanya menjadi orang yang mampu berbicara.

“Jadilah orang yang ketika berbicara, orang lain menemukan makna, harapan, dan keberanian untuk bergerak.”

Materi Kedua: Memetakan Realitas Sosial

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Saiful Amien, M.Pd., Kepala Divisi PPUT UMM, bertajuk “Memetakan Realitas Sosial (Analisis Kebutuhan Umat) untuk Dakwah Solutif”.

Ia mengibaratkan dakwah seperti memberikan obat, yang tidak bisa diberikan tanpa mengetahui penyakitnya.

Peserta dikenalkan pada tiga langkah praktis, yakni mendengar dan mengamati, mengelompokkan masalah ke dalam tiga kelompok (hati dan pikiran, kehidupan sehari-hari, serta lingkungan dan agama), lalu menentukan skala prioritas.

Sebagai contoh, keluhan ibu muda yang stres menghadapi anak kecanduan gawai lebih tepat dijawab dengan tema “Mendidik Anak di Era Digital dengan Sabar dan Bijak” daripada sekadar membahas hukum bermain game.

“Dakwah yang baik dimulai dari telinga yang mau mendengar, bukan hanya mulut yang pandai berbicara,” tegasnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan tahsin al-Quran, dilanjutkan pembukaan dan sambutan, dua sesi materi, istirahat, serta sesi praktik dan penyusunan rencana aksi (action plan) yang mengajak peserta menyusun konten dakwah berdasarkan materi yang telah dipelajari. Kegiatan ditutup dengan doa dan foto bersama.

Melalui PANDU, PDNA Kota Malang berharap lahir mubalighat muda yang tidak hanya cakap berbicara, tetapi juga peka terhadap persoalan umat dan mampu menyampaikan dakwah yang tepat sasaran, tepat pesan, dan tepat cara.

Dengan begitu, dakwah Nasyiatul Aisyiyah dapat dirasakan sebagai pertolongan yang menenangkan dan menggerakkan kebaikan di tengah masyarakat.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 29/09/2026 20:44
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu