Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dua Sekawan Dokter Soetomo-KH Mas Mansur: Polemik Digul Lebih Baik dari Makkah, Teman Diskusi, Wafat dalam Usia Persis Sama

Iklan Landscape Smamda
Dua Sekawan Dokter Soetomo-KH Mas Mansur: Polemik Digul Lebih Baik dari Makkah, Teman Diskusi, Wafat dalam Usia Persis Sama
Oleh : Muh Kholid AS

Perjalanan nasional Indonesia, dan juga Muhammadiyah, mencatat ada dua sekawan karib, dokter Soetomo-KH Mas Mansur. Meski tidak selalu bersatu pandangan, keduanya senantiasa bersukacita memenuhi setiap aktivitas sosial. Berbeda pandangan soal Makkah dan Digul, tapi banyak kesamaan lainnya. Bahkan usia wafatpun hampir sama persis, tahun dan bulannya.

Delapan puluh delapan tahun silam Muhammadiyah kehilangan salah satu tokoh Kesehatan, dokter Soetomo. Sosok yang namanya diabadikan sebagai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini menghembuskan nafas terakhir pada 30 Mei 1938.

Pengurus Besar (sekarang Pimpinan Pusat) Muhammadiyah yang dipimpin KH Mas Mansur secara khusus mengabarkan wafatnya Soetomo melalui majalah Adil. Sebuah majalah yang pernah dimiliki Persyarikatan, tepatnya Muhammadiyah Surakarta. Selain menyampaikan duka cita mendalam, Muhammadiyah menyebut Soetomo sebagai sosok yang membawa kemajuan agama Islam di Indonesia.

“Dengan ini, atas sekalian kerabat Adil dan kaum Muhammadiyin, turut menyatakan duka cita. Sebab sekalipun dalam kalangan kita bukan dianggap sebagai pemimpin Islam, tetapi belakangan ini sudah banyak sekali beliau menyondongkan arahnya pada kemajuan agama Islam di Indonesia,” begitu tulis Majalah Adil yang dinukil Abd Wahid Rata dalam “Riwayat Penghidupan Dr Soetomo dan Perjuangannya”.

Penegasan tentang peran Soetomo yang membawa kemajuan Islam itu membawa pesan penting. Maklum saja, 10 tahun sebelumnya, Soetomo terlibat polemik dengan para tokoh Islam.

Dalam harian “Swara Oemoem” yang didirikannya, terdapat tulisan serial berbahasa Jawa yang dianggap menistakan agama Islam. Berjudul “Bedane Mekkah karo Digul”, ia terbit pada 18 dan 25 Juni 1930, serta 25 dan 26 Juli 1930. Digul saat itu adalah tempat pembuangan para pejuang Indonesia yang ditangkap oleh penjajah Belanda.

Artikel yang ditulis seorang berinisial “Homo Sum” itu dinilai banyak pemuka Islam sebagai penistaan Islam. Sebab, dikatakan manusia di Indonesia sejatinya lebih baik ke Digul daripada berhaji ke Mekkah. Di antara ulama Muhammadiyah yang menanggapi keras penyamaan Digul dan Mekkah itu adalah Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka).

Namun, beda halnya dengan sikap sahabat Soetomo, KH Mas Mansur. Sosok yang pada saat kejadian diamanahi sebagai Ketua Majelis Tarjih Pengurus Besar Muhammadiyah dan juga Konsul Muhammadiyah Karesidenan Surabaya. Sebagai karib yang mengenalnya sejak 1923-an, Mas Mansur sangat memahami alur pemikiran sahabatnya itu.

SMPM 5 Pucang SBY

Pada masa itu, sungguh berat perjuangan seseorang untuk tetap hidup dengan harapan di Digul. Orang yang ke lokasi ini, berarti ditangkap oleh penjajah Belanda, kemudian dibuang dan diasingkan. Dibuang penjajah Belanda ke Digul, berarti seseorang harus mengorbankan semua harapannya, dengan duka dan segala rasa putus asa.

Suasana kebatinan pergi ke Digul ini tentu sangat jauh berbeda dengan seseorang yang berangkat ke Mekkah menunaikan haji. Selain membawa perbekalan yang tidak sedikit, juga berangkat dengan hati gembira. Berangkat ke Mekkah justru menumbuhkan harapan seseorang, berangkat rasa suka cita akan masa depan.

“Dengan kata lain, penggagas 12 Langkah Muhammadiyah ini hendak menyatakan bahwa jangan memaksakan logika diri sendiri untuk menimbang semua hal. Tapi pahami semua konteksnya terlebih dahulu,” begitu simpul Isngadi dalam artikelnya di Suara Muhammadiyah, 4 September 2021 tentang pembelaan KH Mas Mansur untuk Soetomo di polemik Digul dan Mekkah.

Ketiadaan masalah Soetomo dengan Mekkah dan Digul ini juga terlihat dalam putusan Muktamar ke-26 Muhammadiyah di Yogyakarta pada 1937. Salah satu putusannya adalah membentuk “Panitia Perbaikan Perjalanan Haji Indonesia” –pernah juga dilakukan pada 1924—yang diketuai HM. Sudja’, dibantu Prof H. Abdul Kahar Mudzakkir dan Soetomo.

Selanjutnya halaman 2

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 27/05/2026 11:15
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu