Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dua Sekawan Dokter Soetomo-KH Mas Mansur: Polemik Digul Lebih Baik dari Makkah, Teman Diskusi, Wafat dalam Usia Persis Sama

Iklan Landscape Smamda
Dua Sekawan Dokter Soetomo-KH Mas Mansur: Polemik Digul Lebih Baik dari Makkah, Teman Diskusi, Wafat dalam Usia Persis Sama
Oleh : Muh Kholid AS

Polemik Digul dan Mekkah hanyalah satu kisah yang menunjukkan kedekatan dan pemahaman Mas Mansur dan Soetomo. Keduanya adalah pahlawan nasional yang lahir dan dibesarkan di Surabaya, serta hidup sezaman. Keduanya juga tokoh yang saling bergandeng tangan di berbagai kegiatan memberdayakan kaum muda Surabaya.

 Teman Diskusi Segala Bidang

Dua sahabat ini digembleng dari dunia pendidikan berbeda, tapi keduanya punya ketertarikan yang saling melengkapi. Mas Mansur belajar di Timur Tengah, sementara Soetomo dididik di STOVIA Jakarta dan juga di Belanda. Mas Mansur banyak bergulat dengan ilmu keagamaan, sementara Soetomo banyak pada ilmu kedokteran dan sosial.

Ketika Soetomo balik ke Surabaya usai menyelesaikan pendidikan di Belanda pada 1923, keduanya bertemu dalam gagasan dan aksi. Soetomo datang sebagai kaum terpelajar dari Pendidikan Barat, sementara Mas Mansur adalah alumni Timur Tengah yang juga Ketua Muhammadiyah Surabaya sejak 1921.

“Meskipun kedua tokoh tersebut secara teologis memiliki pandangan yang berbeda, akan tetapi mereka senantiasa dengan sukacita memenuhi setiap aktivitas sosial yang diadakan,” begitu tulis Lianda Dewi Sartika dalam Organisasi Poetra Soerabaja “Poesoera”: Sejarah Organisasi dan Perjuangannya, e-Journal Avatara, Volume 6, No. 1, Maret 2018, halaman 23-24.

Kolaborasi antara KH Mas Mansur dan Soetomo juga terlihat saat pendirian Indonesische Studie Club (ISC) pada 11 Juli 1924. “Pada saat itu KH Mas Mansur tertarik untuk bergabung menjadi anggota Indonesische Studie Club (ISC) yang dibentuk oleh dr Soetomo. Sejak saat itulah persahabatan mereka mulai terjalin melalui serangkaian diskusi yang intensif,” Lianda Dewi Sartika.

Disebutkan Mas Mansur berkenalan dengan Soetomo yang saat itu bertempat tinggal di Palmelaan (sekarang Jl Panglima Sudirman), Surabaya. Keduanya sering bertemu untuk berdiskusi hingga larut malam. Bahkan hingga dini hari. Sampai jam 02.00, kadang 03.00 dinihari.

Kedua pemuda yang terpaut 8 tahun itu saling mengagumi, meski tidak selamanya bersepakat dalam semua masalah. Soetomo mengagumi Mas Mansur sebagai sahabat yang dapat diajak berdiskusi berbagai hal secara mendalam. Sedangkan Mas Mansur terkesan dengan pandangan dan cara Soetomo memperlakukan sesama manusia yang penuh kemuliaan.

Kolaborasi di PKU Muhammadiyah dan Pusura

Dalam diskusi keduanya, yang disaksikan dokter Mohammad Soewandhie, Mas Mansur dan Soetomo punya kepedulian besar untuk membela dan membantu kaum kurang beruntung. “Menyaksikan sendiri bagaimana cita-cita luhur Soetomo yang begitu getol membujuk para pemimpin organisasi Muhammadiyah untuk mendirikan poliklinik khusus untuk kaum pribumi,” begitu riwayat Soewandhie dalam Siapa & SiApa: 50 Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur Seri I.

Setelah melalui diskusi berserial, Soetomo bersedia memenuhi permintaan Mas Mansur untuk menjadi Medische Adviseur (penasihat medis) Muhammadiyah Surabaya. Kolaborasi ini berwujud dalam klinik Kesehatan Mustasyfa di jalan Sidodadi yang diresmikan pada 14 September 1924. Soetomo juga mengajak banyak rekannya sesama dokter untuk bergabung di klinik yang kini menjadi RS PKU Muhammadiyah Surabaya itu.

SMPM 5 Pucang SBY

Dalam klinik Mustasyfa itu, Mas Mansur dan Soetomo mengambil andil sebagai pelindung. Sedangkan pengurus inti adalah S. Wondowidjojo sebagai Ketua, Askandar sebagai sekertaris, dan H. Mustafa sebagai bendahara. Juga dibantu oleh Abdul Hamid, Suroardjo, Purbono Tokusumo, Tjiptaredjo, Hamdan, dan Hardjosaputro. Atas perannya itu, Soetomo pada 1925 diangkat sebagai Penasehat Kesehatan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Selain dalam bentuk pendirian klinik Kesehatan, kolaborasi Mas Mansur dan Soetomo juga terlihat dalam pendirian Putra Surabaya, Pusura. Alkisah, saat keduanya menggelar diskusi, turut hadir pula para tokoh lainnya. Yaitu dr Mohammad Soewandhie, dr Yahya, dr Samsi, H Nawawi Amin, H Hoesein, H. Manan Edris, dan Koesnan Efendi.

Selain itu, ke-9 orang ini juga kerap menjadi tamu undangan dan hadir bersama dalam kegiatan sinoman warga Surabaya. Kegiatan sinoman itu di antaranya arisan kampung, pertunjukan seni (wayang orang dan kesenian Tandak’an), silat, dan lain sebagainya. Ketertarikan terhadap antusiasme sinoman para pemuda Surabaya ini menarik hati kesembilan tokoh itu untuk membentuk perkumpulan. Maka, lahirlah Pusura yang diresmikan pada 26 September 1936.

Hari ini, rintisan ke-9 tokoh ini masih berdiri tegak berdiri. Gedung Pusura masih berkantor di tempat pertama kali berdiri, Jalan Yos Soudarso No.9 Surabaya. Pusura tumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang bergerak di bidang Kesehatan, sosial, ekonomi, dan juga pendidikan.

Usai pendirian Pusura, kedua sahabat ini dipisahkan oleh jarak karena mengemban tugas kebangsaan. Pada tahun 1937, Mas Mansur harus pindah ke Yogyakarta karena dipilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah.

Sementara Soetomo tinggal di Surabaya hingga meninggal dunia, 30 Mei 1938. Delapan tahun berselang, Mas Mansur menyusul sahabatnya itu menghadap sang Pencipta Semesta pada 25 April 1946. Taqdir menentukan bahwa keduanya sama-sama wafat dalam usia 49 tahun lebih 10 bulan.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 27/05/2026 11:15
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu