Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KH Muhammad Fanan, Potret Ketangguhan Mubaligh Keliling

Iklan Landscape Smamda
KH Muhammad Fanan, Potret Ketangguhan Mubaligh Keliling
KH Muhammad Fanan (1894-1977)
Oleh : Muh Kholid AS

Sejak menyebarkan nilai-nilai Muhammadiyah di Sukowono, dia melakukan perjalanan seorang diri yang dilanjutkan ke Kalisat dan Probolinggo. Pada 1924, tetap seorang diri, Kiai Fanan menyiarkan ajaran Muhammadiyah ke Pamekasan dan Sumenep.

Sungguh mubaligh gigih, jika melihat pola jam terbangnya sebagai da’i. Misalnya ketika selesai dari Sumenep, dia mengunjungi kembali kota yang sebelumnya pernah disinggahi, yaitu Bondowoso. Setelah itu, masih tetap sendiri, dia mengunjungi beberapa kota lain di Jawa dan Madura, seperti Blitar, Kepanjen, Lawang, Kediri, Sampang, Malang, dan Pasuruan.

Hanya di Trenggalek, dia ditemani kembali oleh koleganya, yaitu Muhammad Thoyib. Karena kegiatannya sebagai Mubaligh keliling itu, maka dalam konferensi Muhammadiyah di Rogojampi, pada tahun 1937, Kiai Fanan ditetapkan menjadi Mubaligh daerah Besuki menggantikan Ki Tohiruddin untuk kemudian digantikan oleh Seco Prawiro menantu dari Ngatimin yang menerima Muhammadiyah di Probolinggo.

Uniknya lagi, kehidupan Kiai Fanan di Jember memberi kesan tersendiri bagi (alm) Drs Yusnan Arigayo MPSi, Rektor Universitas Muhammadiyah Jember. Menurutnya, setiap Subuh Kiai Fanan rutin mendatangi rumah Pimpinan Muhammadiyah di Jember untuk diajak shalat Subuh berjamaah di Masjid.

Kiai Fanan sempat menjadi guru di beberapa sekolah pada beberapa kota yang menjadi sasaran dakwahnya. Mosvia Probolinggo, Mosvia Blitar, Normaalschool Lawang, Mulo Kediri, Mulo Wilhelminna Straat Malang adalah beberapa sekolah yang pernah mengangkat Kiai Fanan menjadi guru agama. Hampir setiap tempat-tempat yang pernah dikunjungi dakwahnya, di kemudian hari berdiri Persyarikatan Muhammadiyah.

Pendirian Muhammadiyah memang dilakukan oleh Guru Agama Islam yang didatangkan dari PP Muhammadiyah Yogyakarta, di sekolah-sekolah. Waktu itu model seperti ini masih terasa asing karena agama Islam biasanya diajarkan di pesantren.

Dalam memberi pelajaran, Kiai Fanan selalu mengawali dengan keterangan bahwa dirinya adalah utusan Muhammadiyah yang didatangkan untuk memberi pelajaran agama Islam dengan cara yang mudah diterima, diikuti dan dimengerti.

Kemudian diterangkan bahwa sebenarnya agama Islam itu mudah dan menggembirakan. Banyak siswa yang sangat tertarik pada cara Kiai Fanan dalam mengajar, hingga kemudian setelah beberapa kali menerima pelajaran, mereka bersepakat mengajukan permintaan kepadanya agar berkenan bertahan semalam.

SMPM 5 Pucang SBY

Tujuannya adalah agar memberi ceramah agama di luar sekolah. Saat pembelajar di luar kelas inilah banyak siswa yang tertarik dengan gagasan pembaruan Muhammadiyah, sehingga mereka mendirikan Muhammadiyah untuk mempercepat proses pencerahan umat.

Sebagai seorang yang dianggap terkemuka terutama di bidang agama Islam dan gerakan Muhammadiyah, Kiai Fanan juga pernah diserahi jabatan di bidang pemerintahan. Pada masa pemerintahan Jepang dia ditunjuk menjadi Gain Syu San Kay yaitu anggota sebuah dewan perwakilan rakyat buatan Jepang untuk Karesidenan Besuki.

Kemudian pada permulaan Indonesia merdeka tahun 1945, dia ditunjuk menjadi Imam Tentara sampai masa ketika ia berubah nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dan setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, diangkat menjadi Kepala Penerangan Agama Kabupaten Jember sampai tahun 1969 dengan hak pensiun.

Selama lebih dari 15 tahun menjadi muballigh keliling Kiai Fanan masih pulang-balik antar Magelang dan Jawa Timur. Bahkan hingga kelahiran putranya pada tahun 1936, keluarganya masih menetap di Magelang. Setelah itu karena sudah jatuh cinta kepada Jawa Timur, dia menetap di Jawa Timur dan tinggal di Jl. Ronggowarsito 25 Jember. Kegiatannya bertabligh tidak mandeg, walaupun tidak lagi sampai berkeliling jauh seperti di masa kuat dan gagahnya.

Sebagai pemuka Muhammadiyah, dia telah mengikuti Muktamar sebanyak empat belas kali, berturut-turut dari muktamar ke-12 sampai dengan ke-25. Kemudian juga hadir dalam muktamar ke-29, 31 dan terakhir pada muktamar ke-34 yang diselenggarakan di Yogyakarta. Kiai Fanan wafat di Jember pada usia 82 tahun pada 7 Januari 1977.

Selain banyak murid, dia juga meninggalkan enam putra-putri: Sumarlin Latifah Sumadi di Surabaya, Rasyid Ridha di Jember, Hidayah Marjadi di Jember, Mustafa Kamal di Jakarta, Abdul Hamid di Tokyo Jepang, dan (alm) Aisyah Lilik Harsono di Jember.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 30/05/2026 20:03
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu