Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab II berjudul “Jawa Timur Awal Abad ke-20”, sebagian halaman 21, 22, dan sebagian 23.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 9
***
Halaman 21
Secara umum, berdasar tempat tinggal, masyarakat dapat dibedakan sebagai penduduk desa (rural) dan penduduk kota (urban). Kota-kota besar di Jawa Timur, yang menjadi pusaran kehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan agama, berpenduduk majemuk dalam berbagai aspek kehidupannya.
Kemajemukan itu terlihat pada bercampur-aduknya berbagai lapisan sosial, etnik, agama, pekerjaan, kepandaian, faham atau ideologi dan kekayaan. Meski demikian, mereka bisa hidup rukun. (17)
Seperti telah disebutkan, jumlah penduduk pulau Jawa pada awal abad ke-20 sangat besar. Karena itu, Pemerintah Hindia Belanda berusaha menerapkan migrasi penduduk. Dibukanya jalan kereta api yang menghubungkan Kalisat dan Banyuwangi pada 1901 merupakan salah satu cara untuk mendorong migrasi dari kawasan padat Jawa Tengah dan Jawa Timur ke ujung wilayah Jawa Timur yang masih kosong.
Sejak awal abad ke-19, daerah Kedu, Jogjakarta, Madura, Kediri, dan Madiun merupakan daerah yang mengirim migran ke daerah lain. Migrasi ke Jawa juga merupakan bagian sejarah orang Madura. Pada 1806, desa-desa yang berpenduduk orang Madura telah tersebar di sejumlah karesidenan di Jawa.
Ada 25 desa di Pasuruan, 3 desa di Probolinggo, 22 desa di Puger, dan 1 desa di
Halaman 22
Panarukan. (18) Diperkirakan pada 1930 penduduk Madura yang berdiam di pulau asal hanya sekitar 45 %. Penduduk Madura benar-benar menguasai “daerah orang lain.” Sekitar 97,8 % penduduk yang berdomisili di Kabupaten Bondowoso berasal dari Madura. Gejala ini juga terjadi di Kabupaten (dulu) Kraksaan, yang 94,2 % penduduknya berasal dari Madura. (19)
Pertambahan penduduk Jawa juga telah mengubah kepemilikan tanah. Semakin banyak penduduk berarti semakin sempit tanah yang dimiliki oleh setiap orang. Hal ini menimbulkan bermunculannya buruh tani yang tidak memiliki tanah. Mereka hanya menjual jasa tenaga kasar pada pemilik tanah dan perkebunan.
Survey yang dilakukan pada 1926 menunjukkan, ada daerah yang memiliki buruh tani sangat tinggi, seperti Besuki. Ada yang rendah, seperti Surabaya, yang memang telah menjadi daerah perindustrian sejak berakhirnya Perang Dunia I.
Sementara di Madiun, Kediri, dan Pasuruan, jumlah buruh tani seimbang dengan pemilik tanah. Di Jawa Timur, peningkatan jumlah kepemilikan tanah hanya terjadi di Karesidenan Besuki. Pada 1905, hanya 15 orang yang memiliki tanah lebih dari 17,7 ha atau 25 bau. Pada 1930, jumlah itu menjadi 50 orang. (20)
3. Ekonomi
Disamping memiliki potensi sumber daya alam, Jawa Timur juga memiliki potensi perdagangan dan wiraswasta yang cukup bagus. Salah satu indikasinya adalah banyaknya penduduk yang masuk dalam keanggotaan Sarekat Islam (SI). Pada 1916, tidak kurang dari 100 ribu orang Jawa Timur menjadi anggota Sarekat Islam (21), organisasi yang menampung para pedagang dan wiraswastawan.
Akan tetapi, akibat terjadinya pertentangan internal organisasi, SI lambat laun mengalami kemerosotan anggota dan kemacetan mesin organisasi. Pada 1917, unsur ISDV (Indische Social Democratische Vereniging) menyusup ke tubuh SI dan membentuk faksi Sarekat Rakyat. Serangkaian peristiwa yang terjadi, seperti Peristiwa Cimamare dan kasus Afdeling B, mengakibatkan Kongres SI ke-4 tidak semeriah kongres-kongres sebelumnya. (22)
Kekisruhan SI sebagai organisasi dagang dan organisasi politik sekaligus berdampak langsung pada perekonomian rakyat. Sebagian
Halaman 23
besar penduduk Jawa kemudian beralih pada kegiatan pertanian dan perkebunan. Banyak penduduk meninggalkan Jawa, bekerja sebagai kuli kontrak di perkebunan Sumatera Timur dan di tempat-tempat lainnya.
Pada 1931 terdapat lebih 306.000 tenaga kerja yang menjalani profesi tersebut. Dengan demikian, Jawa, termasuk Jawa Timur, mengalami kemerosotan pertumbuhan ekonomi yang sangat drastis (23), meski pada 1925 Surabaya sudah mempunyai banyak pabrik, di antaranya empat buah pabrik sabun, pabrik gula di Ketegan, Ketintang dan Waru, pabrik karet di Ngagel, pabrik rokok, pabrik es, pabrik mesin, pabrik penyamakan kulit di Wonocolo, pabrik oli, pabrik koper, pabrik roti, pabrik karton, pabrik tegel, pabrik arak/minuman keras, pabrik gas dan pabrik iodium. (24)
***
Buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments