Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab II berjudul “Jawa Timur Awal Abad ke-20”, sebagian halaman 19, 20, dan sebagian 21.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 8
***
Halaman 19
Terlepas dari persoalan tersebut, sensus penduduk yang dilakukan merupakan sebuah langkah maju untuk memperhatikan karakteristik dan laju pertumbuhan penduduk. Pada 1900, penduduk asli Jawa dan Madura telah mencapai sekitar 28,4 juta jiwa, meningkat drastis di atas 3 juta jiwa dari tahun sebelum 1800.
Pada 1920, meningkat menjadi 34,4 juta jiwa, dan pada sensus tahun 1930 mencapai 40,9 juta jiwa. Sementara penduduk di luar Jawa pada 1920 adalah 13,9 juta jiwa, dan pada 1930 menjadi 18,2 juta jiwa. Jumlah keseluruhan penduduk Indonesia pada 1930 mencapai 59,1 juta jiwa.(15)
Data tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi penduduk Indonesia ada di Jawa, dengan tingkat kepadatan yang sangat tinggi. Orang-orang non-pribumi seperti Belanda, Eropa non-Belanda, Arab dan Cina yang berada di Indonesia juga berdomisili di Jawa, termasuk Jawa Timur.
Pengetahuan tentang kependudukan di Jawa Timur maupun di Surabaya sangat berguna untuk memahami masuk dan tumbuhnya paham atau ajaran Muhammadiyah. Karena faham Muhammadiyah dipandang sebagai ajaran modern, segmen sosial pendukungnya berada pada lingkungan modern, yakni komunitas yang berpendidikan dan berpengetahuan modern, serta mampu berpikir logis dan kritis. Biasanya, secara demografis, sifat-sifat tersebut dimiliki oleh masyarakat urban dan heterogen.
Halaman 20
Muhammadiyah mulai masuk dan berkembang di Jawa Timur pada masa transisi dekade kedua dan ketiga abad ke-20. Di Surabaya, cabang Muhammadiyah berdiri pada 1921. Saat itu, Surabaya tumbuh sebagai kota dagang dan industri terbesar di Nusantara yang berimplikasi pada perkembangan sosialnya. Perjuangan pergerakan nasional juga sangat tampak di Surabaya.
Pada masa itu kota-kota besar di Jawa Timur selain Surabaya, mulai bermunculan, seperti Malang, Pasuruan, Kediri, dan Madiun. Sedangkan Surabaya khususnya telah tumbuh menjadi kota modern dan kota yang sangat penting di Indonesia dalam dunia perdagangan, industri, pemerintahan, pendidikan, perhubungan, dan pertahanan darat maupun laut.
Kota-kota besar itu, khususnya Surabaya, juga merupakan tempat bertemunya berbagai etnik, sehingga mereka membentuk masyarakat majemuk yang memiliki ciri-ciri:
1. Lebih bersifat terbuka, jujur, ramah, tidak membedakan tingkat dan status sosial.
2. Sebagaian penduduknya bermata pencaharian sebagai preman (freeman – orang bebas), seperti pedagang kecil, makelar, perajin, pengusaha, dan tukang. Pada dasarnya mereka senang berjiwa bebas.
3. Khusus Surabaya, memiliki bahasa dialek sendiri. Ucapan dan tingkah laku orang atau arek (Jawa kuna: rare – arek, anak) Surabaya terkesan kasar dan urakan. Namun oleh arek-arek Surabaya hal semacam itu diterima dengan lapang dada, tidak menimbulkan dengki atau sakit hati. Bahasa pergaulannya bahasa Jawa ngoko, blaka suta, dan blak-blakan, menunjukkan wataknya yang egaliter. Kelompok terpelajar dan etnik non-Jawa menggunakan Bahasa Melayu (Jawa: cara Mlayu). Misalnya, mereka memanggil orang lain dengan istilah cak (kakak), rek (kawan), pena, rika, ko-en (kamu, engkau).
4. Penduduk kota-kota besar lainnya seperti Malang, Kediri, Madiun dan Pasuruan, jika dibandingkan dengan penduduk pedesaan (rural society), umumnya lebih bersifat heterogen, terbuka, dan kontrol sosial yang berlaku di dalam masyarakat lebih longgar. Dalam kondisi sosial demikian masyarakat dapat lebih bebas mewujudkan aspirasinya.(16)
Halaman 21
5. Penduduk Jawa Timur dari Jombang ke barat, serta penduduk pedalaman secara umum, pada masa ini, masih bersifat agraris. Mereka kebanyakan berdomisili di desa-desa dan kota-kota kecil di pedalaman, seperti Blitar, Tulungagung, Ponorogo, dan Magetan. Mereka memiliki tradisi, bahasa, sifat dan watak berbeda dengan penduduk bagian Timur. Penduduk Jawa Timur bagian Barat sangat terpengaruh oleh subkultur Mataraman
Oleh karena itu, tingkah laku, bahasa, adat-istiadat, dan bahasa yang digunakan adalah bahasa dan budaya Jawa sisa-sisa dari zaman kerajaan Mataram. Dalam masyarakat demikian, kontrol sosial masih berlaku secara ketat, kehidupannya pun masih seragam karena terikat oleh tradisi agraris. Mereka sukar menerima faham-faham pembaharuan dan perubahan yang berbeda atau bertentangan dengan tradisi yang berlaku.
***
Buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments