Setiap kali kalender menunjuk bulan September, ingatan kolektif bangsa Indonesia kembali pada sebuah luka sejarah yang menganga: Gerakan 30 September (G30S/PKI).
Bulan ini menjadi pengingat tahunan tentang mahalnya harga yang harus dibayar bangsa Indonesia akibat infiltrasi ideologi radikal yang memaksakan kehendaknya.
Namun, di tengah kuatnya peringatan tentang bahaya laten komunisme, kita sering menemukan sebuah ironi, khususnya di pusaran dunia akademik dan pergerakan.
Ilusi Kritis di Mimbar Kampus
Bukan rahasia lagi bahwa ideologi kiri sering mendapat tempat yang cukup “romantis” di ruang-ruang diskusi mahasiswa.
Muncul konstruksi berpikir yang keliru. Seolah-olah, untuk menjadi mahasiswa yang kritis, progresif, dan berpihak kepada rakyat kecil, seseorang harus mengadopsi cara pandang Marxisme atau menelan mentah-mentah literatur berhaluan kiri.
Narasi tentang perjuangan kelas, anti-kapitalisme, dan pembebasan kaum tertindas dengan mudah membius jiwa muda yang sedang mencari jati diri dan heroisme.
Padahal, romantisme tersebut sering kali bersifat ahistoris. Romantisme itu juga mengabaikan noda darah yang ditinggalkan ideologi tersebut di masa lalu.
Mutasi Menjadi Neo-Komunisme dan Infiltrasi LSM
Di sinilah relevansi peringatan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ayahanda Haedar Nashir, mengenai bahaya pengaruh ideologi kiri yang kini merasuk melalui jalur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Apa yang beliau sampaikan menjadi sebuah wake-up call yang sangat krusial.
Ideologi kiri hari ini tidak lagi datang dengan seragam partai komunis gaya lama atau simbol palu-arit yang vulgar.
Ideologi tersebut telah bermutasi menjadi Neo-Komunisme. Mereka menumpang pada isu-isu populer yang tampak mulia, seperti hak asasi manusia, keadilan gender, konflik agraria, hingga lingkungan hidup.
Namun, jika kita membedahnya lebih dalam, kerangka berpikir dan metodologi pergerakan mereka tetap berakar kuat pada materialisme dialektis yang anti-Tuhan.
Secara analitis dan empiris, ada dua alasan fundamental mengapa aliran kiri ini sangat berbahaya, terlarang, dan dapat merusak tatanan.
1. Janji Masyarakat Tanpa Kelas yang Berujung pada Anti-Tuhan
Daya tarik utama ideologi kiri terletak pada janji utopis tentang classless society atau masyarakat tanpa kelas.
Mereka menjanjikan masyarakat yang setara tanpa eksploitasi antarmanusia. Namun, fondasi filosofis dari janji tersebut bertumpu pada penolakan terhadap eksistensi agama.
Dalam kacamata kiri, mereka mereduksi agama sebagai “candu masyarakat” (opiate of the masses). Mereka menganggap agama diciptakan untuk meninabobokan rakyat jelata agar menerima penderitaan.
Bagi mereka, revolusi sosial mensyaratkan penyingkiran Tuhan dan nilai-nilai keagamaan.
Indonesia berdiri tegak di atas fondasi Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena itu, ideologi materialistik semacam ini bukan sekadar ancaman politik.
Ideologi tersebut juga menjadi ancaman terhadap ontologi dan fitrah manusia itu sendiri.
2. Doktrin Machiavellian: Menghalalkan Segala Cara
Sejarah mencatat dengan tinta merah bahwa eksperimen ideologi kiri di berbagai belahan dunia, termasuk pemberontakan di Indonesia, selalu diwarnai kekerasan dan pengkhianatan.
Hal itu terjadi karena logika perjuangan kelas mengesampingkan moralitas agama.
Jika tujuan akhirnya adalah menghancurkan kelas penguasa, maka mereka menganggap segala cara sah dan etis.
Fitnah, adu domba melalui agitasi dan propaganda, manipulasi data, hingga kekerasan fisik dapat mereka gunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Standar moral mereka bukan wahyu Tuhan. Mereka berpegang pada prinsip bahwa apa pun yang mempercepat revolusi adalah baik.
Watak yang menghalalkan segala cara inilah yang membuat mereka tidak pernah bisa berkoeksistensi secara damai dengan kelompok mayoritas religius.
Keadilan Sosial Tanpa Kehilangan Tauhid
Sebagai kelompok intelektual Muslim, kita sepakat bahwa ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan kesewenang-wenangan oligarki harus dilawan.
Muhammadiyah melalui spirit Teologi Al-Ma’un telah memberikan contoh bagaimana praksis sosial bekerja.
Muhammadiyah membela kaum mustadhafin secara nyata tanpa kehilangan pijakan tauhid.
Kita tidak membutuhkan ideologi impor yang anti-Tuhan dan nir-etika untuk menegakkan keadilan di bumi pertiwi.
Sudah saatnya mahasiswa dan para pegiat sosial menyadari bahwa memeluk ideologi kiri bukanlah simbol kecerdasan, melainkan kemunduran berpikir.
Peringatan Ayahanda Haedar Nashir harus menjadi momentum bagi kita untuk membentengi generasi muda dari ilusi mematikan Neo-Komunisme.***





0 Tanggapan
Empty Comments