Saat matahari mulai menyibak waktu dhuha, udara pagi masih menyelimuti Kota Pahlawan. Ada suasana akrab dan ganyeng yang menyelimuti Masjid Sholeh. Sebuah masjid penanda awal dakwah Muhammadiyah di Surabaya, yang berdiri sejak tahun 1921-an.
Pagi itu, puluhan pengurus takmir masjid dari dua kecamatan berkumpul. Kecamatan Tegalsari dan Genteng. Mulai dari ketua, sekretaris, hingga bendahara, beradu gagasan untuk kemajuan dan persemakmuran masjid.
“Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya konkret untuk membedah tantangan dakwah di lapangan,” jelas Azmi Izuddin, takmir Masjid Bahagia Peneleh.
Menurut pria yang juga Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng itu, forum ini menjadi jembatan jembatan penting untuk meluruskan pendataan masjid sekaligus upaya memakmurkannya
Ahad pagi itu, takmir Masjid dari PCM Tegalsari dan Genteng sedang berkumpul dalam agenda silaturahmi dan diskusi. Berlangsung selama 3 jam, pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, ia semacam kegiatan turun ke bawah (Turba) ini digagas oleh Forum Koordinasi Masjid Muhammadiyah (FKMM). Sebuah forum yang di bawah naungan Majelis Tabligh PDM Surabaya.
Acara di masjid berlokasi Jl Kaliasin Gang VIII, Tegalsari, ini langsung dipansu oleh Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya, Imam Safari. Hadir juga dalam forum ini adalah Ketua PCM Tegalsari Sofyan Affandy Yusuf, serta perwakilan takmir masjid sedua kecamatan.
“Ruang untuk berbagi tentang kondisi terkini di tempat ibadah mereka masing-masing,” jelas Sofyan tentang acara itu.
Ainul Yakin, yang mewakili Pemuda Muhammadiyah Cabang Tegalsari, menjelaskan bahwa kegiatan rutin bulanan ini memiliki misi besar. Mengembangkan dan memajukan masjid.
“Harapannya jelas. Masjid yang kecil didorong untuk berkembang. Yang belum makmur dirangkul agar menjadi hidup, hingga penyelesaian masalah perizinan, pembangunan, hingga dinamika sosial yang kerap dihadapi pengurus di lingkungan masjid dapat terselesaikan dengan baik.”
Tantangan dakwah memang nyata, mengingat sebaran masjid yang bervariasi. Di Tegalsari sendiri, terdapat delapan masjid Muhammadiyah, dengan enam di antaranya berstatus resmi atas nama Persyarikatan. Dua lainnya masih dalam tahap binaan, sementara di PCM Genteng terdapat lima masjid dan musholla.
Kesuksesan forum ini menandai awal dari sinergi yang lebih erat. Ke depannya, berbagai program mulai dari Safari Subuh, koordinasi Idul Adha dan hari besar lainnya, hingga kajian rutin, siap disusun untuk memperkuat peran masjid di tengah masyarakat.
Semangat kebersamaan yang terbangun di Masjid Sholeh hari itu memberikan harapan baru. Bahwa masjid-masjid Muhammadiyah di Surabaya tidak hanya akan berdiri megah secara fisik. Tetapi juga hidup dan dinamis dalam pelayanan umat.





0 Tanggapan
Empty Comments