Ada saat di dalam hidup ketika seseorang merasa benar-benar berada di titik terendah. Hati terasa sempit. Pikiran penuh sesak. Tubuh lelah seakan kehilangan tenaga untuk melangkah. Pada titik itu, seseorang bisa saja menangis diam-diam di sudut kamar, termenung lama setelah salat, atau terjaga di tengah malam karena memikirkan begitu banyak persoalan yang tak kunjung selesai. Ketika langit menjadi tempat terakhir mengadu.
Dan siapapun di antara kita bisa mengalaminya. Ada yang tampak kuat di hadapan banyak orang, namun diam-diam menyimpan luka. Ada yang tetap tersenyum di tempat kerja, padahal dadanya dipenuhi kecemasan.
Ada seorang ayah yang memikirkan biaya sekolah anaknya sementara penghasilannya belum cukup. Ada seorang ibu yang terlihat tegar, namun diam-diam menangis memikirkan anaknya yang sakit.
Ada pula anak muda yang merasa gagal setelah berkali-kali mencoba meraih cita-cita, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.
Saat keadaan seperti itu datang, terkadang manusia ingin segera bangkit dan memaksa dirinya terlihat baik-baik saja. Padahal tidak semua luka harus segera ditutupi. Tidak semua kesedihan harus dipaksa hilang dalam sekejap.
Tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk berdiri ketika hati sedang benar-benar lemah. Sebab boleh jadi, rasa lemah itu bukan sekadar ujian, tetapi juga panggilan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kita kembali mendekat kepada-Nya.
Kadang Allah membuat manusia berhenti dari kesibukan dunia agar ia sadar bahwa selama ini terlalu menggantungkan harapan kepada dirinya sendiri, kepada jabatan, kepada manusia, atau kepada kekuatan yang dimilikinya.
Ketika hati dan badan berada pada titik lemahnya, sebenarnya itu adalah “signal” dari-Nya agar kita segera tunduk dan bersujud dengan sujud terbaik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Betapa banyak orang yang justru paling dekat dengan Allah ketika hidupnya sedang sulit. Saat sehat dan lapang, doa terasa singkat. Namun ketika masalah datang bertubi-tubi, sujud menjadi panjang. Air mata jatuh tanpa disadari. Lisan menjadi lebih sering menyebut nama Allah.
Pada saat itulah manusia mulai memahami bahwa dirinya memang tidak memiliki daya apa-apa tanpa pertolongan-Nya.
Maka mintalah pertolongan segera kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan perlahan lepaskan ketergantungan hati kepada manusia yang sama-sama lemah dan tidak berdaya.
Bukan berarti manusia tidak boleh saling membantu. Tetapi jangan menggantungkan seluruh harapan kepada makhluk. Sebab manusia bisa berubah, bisa pergi, bisa lupa, bahkan terkadang tidak mampu menolong dirinya sendiri.
Sedangkan Allah tidak pernah tidur, tidak pernah lalai, dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang datang memohon dengan sungguh-sungguh.
Langitkan doa. Perbanyak istighfar. Akuilah segala kelemahan dan kesalahan di hadapan Allah.
berstabihlah kepada-Nya.
Karena istighfar dan tasbih itu menguatkan, melegakan, menenangkan, dan menumbuhkan harapan.
Ada orang yang awalnya gelisah luar biasa, tetapi setelah berulang kali mengucapkan istighfar, dadanya mulai terasa ringan. Ada yang sebelumnya dipenuhi amarah dan kecewa, lalu menjadi lebih tenang setelah memperbanyak tasbih dan doa.
Memang masalahnya belum tentu langsung hilang seketika. Namun Allah menurunkan ketenangan terlebih dahulu ke dalam hati hamba-Nya. Dan ketenangan itu sering kali menjadi kekuatan terbesar untuk bertahan.
Insya Allah dengan istighfar dan tasbih, pertolongan akan semakin mendekat dan kesulitan perlahan terangkat.
Seperti yang dialami Nabi Yunus AS. Dalam keadaan tidak berdaya, berada di dalam perut ikan, dalam gelapnya lautan dan malam, beliau tidak lagi mengandalkan kekuatan dirinya. Dari lisannya mengalir tasbis dan istighfar, mengakui kesalahan dan kelemahannya di hadapan Allah.
lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn
“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Kalimat itu bukan hanya doa Nabi Yunus AS, tetapi juga pelajaran besar bagi manusia. Bahwa saat seseorang sudah merasa tidak memiliki kekuatan apa-apa, maka jalan terbaik adalah kembali berserah kepada Allah dengan penuh kerendahan hati.
Dan Allah pun menolongnya. “Dan (ingatlah) Yunus, ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu menyangka bahwa Kami tidak akan menyempitkan baginya, kemudian dia menyeru dalam kegelapan: Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Anbiya’: 87–88)
Ayat ini seolah mengajarkan bahwa tidak ada kesulitan yang terlalu besar bagi Allah. Tidak ada jalan buntu bagi pertolongan-Nya. Bahkan ketika manusia merasa seluruh pintu sudah tertutup, Allah masih mampu membuka jalan yang tidak pernah disangka-sangka.
Semua masalah ada jalannya. Semua kesulitan ada masanya. Kadang Allah belum mengangkat masalah kita hari ini karena Allah sedang menguatkan hati kita terlebih dahulu. Kadang doa belum langsung dikabulkan karena Allah ingin kita lebih lama dekat dengan-Nya.
Dan boleh jadi, di balik air mata yang jatuh malam ini, Allah sedang menyiapkan kemudahan yang besar di kemudian hari.
Allah hanya ingin kita jujur mengaku bahwa kita tidak berdaya tanpa pertolongan-Nya. Allah ingin melihat hamba-Nya kembali mengetuk pintu langit dengan penuh harap dan tawakal.
Maka jangan putus asa. Jangan merasa sendirian. Sebab Allah selalu dekat dengan hamba yang bersujud dan berdoa kepada-Nya.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan hati kita saat menghadapi ujian, serta memberikan kemudahan kepada kita dalam bekerja, beribadah, dan menjalani kehidupan ini.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments