Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Tradisi Baru Temu Alumni IPM/IRM Lamongan, Launching Dua Karya Alumni

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Tradisi Baru Temu Alumni IPM/IRM Lamongan, Launching Dua Karya Alumni
Tradisi Baru Temu Alumni IPM/IRM Lamongan, Launching Dua Karya Alumni. (Istimewa/PWMU.CO)
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Ada tradisi baru dalam pertemuan para alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Kabupaten Lamongan lintas generasi era 1990-an hingga 2022-an.

Pertemuan yang berlangsung di Aula A. Zahri SMAM 9 Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Sabtu (12/9/2026), tidak sekadar menjadi ajang kumpul, temu kangen, dan bernostalgia.

Hal yang cukup mengejutkan sekaligus membanggakan adalah diluncurkannya dua karya buku alumni IPM/IRM Lamongan. Momentum tersebut menjadi penanda munculnya tradisi baru dalam temu alumni, yakni mempertemukan silaturahmi, nostalgia, dan tradisi intelektual dalam bentuk karya literasi.

Buku pertama berjudul “Saling Mengingat dan Saling Mendoakan” karya Fathurrahim Syuhadi, Ketua PD IPM Lamongan periode 1990–1992. Buku kedua berjudul “Buku Saku Aktivis” karya Afan Alfian, Ketua PD IPM Lamongan periode 2009–2011.

Kedua karya tersebut memiliki karakter dan gagasan yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki semangat untuk memberikan manfaat bagi pembaca dan generasi muda.

Buku Saling Mengingat dan Saling Mendoakan karya Fathurrahim Syuhadi ini lahir dari sebuah kesadaran sederhana bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah luput dari lupa dan salah. Dalam perjalanan hidup, sering kali kita terjatuh, lalai, bahkan tersesat dari jalan yang seharusnya. Di saat seperti itulah, kehadiran orang lain yang mau mengingatkan dan mendoakan menjadi sangat berarti.

“Saling mengingat dan saling mendoakan” bukan sekadar ungkapan, melainkan sebuah kebutuhan dalam kehidupan. Tidak ada seorang pun yang mampu berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita membutuhkan nasihat ketika lalai, membutuhkan doa ketika lemah, dan membutuhkan dukungan ketika hampir menyerah. Oleh karena itu, nilai kebersamaan dalam kebaikan menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang penuh makna.

Dalam Islam, saling mengingatkan merupakan bagian dari ajaran yang sangat ditekankan. Allah Swt memerintahkan hamba-Nya untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Hal ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga kolektif. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga dirinya sekaligus berkontribusi dalam menjaga orang lain.

Sementara itu, “Buku Saku Aktivis” karya Afan Alfian lahir dari kegelisahan terhadap dinamika kehidupan organisasi yang semakin kompleks. Di tengah kesibukan menjalankan program, seorang aktivis terkadang lupa pada landasan filosofis, nilai dasar, dan prinsip organisasi.

Buku tersebut disusun sebagai panduan praktis bagi aktivis, kader, pengurus organisasi, dan generasi muda yang mulai memasuki dunia organisasi. Dengan bahasa sederhana, buku ini mengajak aktivis memahami bukan hanya bagaimana organisasi dijalankan, tetapi juga mengapa organisasi harus dibangun dengan nilai, ilmu, dan tata kelola yang baik.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Melalui buku ini, penulis berharap setiap aktivis tidak hanya memahami bagaimana organisasi dijalankan, tetapi juga memahami mengapa organisasi harus dibangun dengan nilai, ilmu, dan tata kelola yang baik.

Buku ini tidak hanya diperuntukkan bagi aktivis yang telah lama berkecimpung dalam organisasi, tetapi juga bagi generasi muda yang baru memulai perjalanan berorganisasi.

Dengan bekal pemahaman tersebut, diharapkan mereka mampu menempatkan diri secara tepat, membangun kolaborasi yang sehat, serta menjadi aktivis yang produktif, adaptif, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai perjuangan organisasi.

Semoga Buku Saku Aktivis dapat menjadi referensi praktis sekaligus teman belajar bagi para aktivis dalam membangun organisasi yang lebih kuat, profesional, dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Peluncuran kedua buku tersebut diharapkan dapat menginspirasi para pelajar Muhammadiyah Lamongan untuk semakin bergiat dalam dunia literasi. Semangat tersebut sejalan dengan moto IPM, “Nuun wal qalami wa maa yasthurun”, yang mengandung pesan tentang pentingnya pena dan tradisi menulis.

Dengan demikian, temu alumni tidak berhenti pada cerita masa lalu. Pengalaman para senior justru dapat diwariskan melalui karya, gagasan, dan tulisan untuk menjadi bekal generasi berikutnya.

Tradisi baru ini menjadi pesan bahwa aktivis boleh berganti generasi, tetapi tradisi membaca, menulis, berpikir, berkarya, dan mengabdi harus terus dilanjutkan. (*)

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu