Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dua Perintis Muhammadiyah Surabaya Yang Kemudian Jadi Mertua-Menantu, Sang Mertua Dampingi Sekum PP ke Celebes

Iklan Landscape Smamda
Dua Perintis Muhammadiyah Surabaya Yang Kemudian Jadi Mertua-Menantu, Sang Mertua Dampingi Sekum PP ke Celebes
Kiai Usman, berdiri ketiga dari kanan (Foto: dok keluarga)

Dalam sejarah Muhammadiyah Surabaya, KH Mas Mansur memang sosok yang menonjol. Namun, di sebelahnya terdapat banyak tokoh yang menyokong keberhasilannya dalam mengembangkan Persyarikatan. Di antara mereka terdapat dua tokoh, yang dalam perjalanannya, ternyata menjadi mertua dan menantu. Keduanya dipertemukan saat sudah sama-sama aktif sebagai pimpinan Muhammadiyah.

Sang mertua pada tahun 1929 bersama dengan Sekretaris (Umum) Hoofdbestuur –kini Pimpinan Pusat– Muhammadiyah ikut berkeliling ke Sulawesi untuk menghadiri cabang dan ranting. Sementara sang menantu, di kemudian hari menjadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya. Termasuk menjadi tuan rumah Muktamar ke-40 pada tahun 1978, yang berjalan dengan sukses.

Dua tokoh perintis Muhammadiyah Surabaya itu adalah Kiai Usman dan Mat Yasin Wisatmo. Ketika Muhammadiyah Cabang Surabaya diresmikan pertama kali pada 1 November 1921, Kiai Usman yang berusia 48 tahun ikut membersamai KH Mas Mansur. Bersama dengan KH Ali, H Ashari Rawy, H Ali Ismail, mereka tercatat sebagai pengurus Muhammadiyah Surabaya. Kiai Usman sendiri meninggal dunia pada 1938 dalam usia 65 tahun.

Pada saat Muhammadiyah didirikan itu, Wisatmo masih berusia 17 tahun. Belum lama hijrah ke Surabaya dari Malang, diapun juga termasuk bagian “suporter” Muhammadiyah awal. “Beliau hanya ikut-ikutan mendirikan Muhammadiyah,” begitu tulis Muh Kholid AS dalam Buku Siapa & Siapa: 50 Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur (2011) mengutip pernyataan anak Wisatmo, Mukti Hari.

Pada tahun 1929, Kiai Usman ikut Sekretaris –Umum– PP Muhammadiyah, M Junus Anies ke Sulawesi untuk menghadiri beberapa acara cabang dan ranting. “Pada hari Saptoe, 12 October, djam 08.00 pagi tibalah kami (bersama-sama toean K. Oesman dari Soerabaia dan toean Sjahadat jang hendak poelang), di pelaboehan Makasser,” begitu tulis M. J. Anies dalam Suara Muhammadiyah Nomor 13 Tahun XI 3 Desember 1929.

Berjudul “Mengidari Poelau Celebes”, disebutkan Kiai Usman balik ke Surabaya pada 19 Oktober 1929. Celebes adalah nama lama untuk Pulau Sulawesi yang popular digunakan pada masa penjajahan kolonial Belanda.

Dalam sejarah Muhammadiyah Surabaya, komitmen Kiai Usman dan Wisatmo pernah disatukan dalam “Wali Rongpuluh”. Sebagaimana dicatat S. Edy (Suka Duka Muhammadijah Tjabang Surabaja: 1952), disebutkan Muhammadiyah pernah mengalami cobaan dan krisis yang cukup berat.

Untuk mengukuhkan komitmen dan solidaritas organisasi, KH Mas Mansur bersama kawan seperjuangan membentuk “Wali Rongpuluh”. Yaitu 20 wali (bapak) atau Pamong Muhammadiyah Surabaya, yang rata-rata satu kampung diwakili satu orang.

Peristiwa itu terjadi pada Ahad dinihari pukul 01.00 wib, tanggal 1 Muharram 1346 H, bertepatan dengan 1 Juli 1927 M. Komitmen ber-Muhammadiyah para tokoh Wali Rongpuluh ini diwujudkan dalam semacam “bai’at” untuk menjaga Muhammadiyah. Selain Mas Mansur sendiri, ke-19 Wali lainnya adalah Wisatmo, Kiai Utsman (Kaliasin), Wondowidjojo (saudara Menteri Dalam Negeri 1947), Tjiptoredjo (Genteng), Mas Gentong, Hardjodipuro, M. Saleh Ibrahim, Mas Idris, Soemoredjo, Abd. Barry, HA. Rachman Utsman, M. Saleh Tjilik, HM. Orip Temenggungan, Jaminah (Genteng), Sariman, Andjarsunjoto, M. Badjuri, Soeroatmodjo, dan Martodjojo.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Setahun kemudian, Wisatmo yang berusia 24 tahun diambil menantu oleh Kiai Usman. Dinikahkan dengan anaknya yang bernama Dewi Aisyah, pasangan ini dikaruniai 9 putra dan putri.

Sejak namanya tercantum dalam Wali Rongpuluh, hampir tidak ada sejarah Muhammadiyah Surabaya, bahkan Jawa Timur, yang abai terhadap namanya. Seperti saat revitalisasi cabang Muhammadiyah dan ranting-rantingnya se-Surabaya pada 1930, Wisatmo ikut tercatat.

Pada 5 April 1930, disebutkan bahwa Muhammadiyah cabang Surabaya membubarkan 6 rantingnya. “Group-group Moehammadijah, jang ada didalam Kota Soerabaja, jaitoe: group Genteng, Praban, Penelih, Pandean, Ampel, dan Kaliasin: “diboebarkan”, begitu tulis Suara Muhammadiyah Nomor 24 terbitan 14 Mei 1930, halaman 552.

Tidak hanya ranting, revitalisasi pengurus Muhammadiyah Surabaya pun mengalami perubahan. “Begitoe djoega tentang soesoenan Bestuurs tjabang, dioebah sebagai terseboet dibawah ini,” lanjut laporan Suara Muhammadiyah tentang perubahan tokoh yang memimpin Muhammadiyah Surabaya.

Untuk posisi ketua memang tidak berubah. Tetap KH Mas Mansur sebagai Voorzitter, sebutan ketua saat itu. Sementara Wisatmo tercatat sebagai Komisaris (Commissarissen) bersama E Hamid, H Oerip, dan Pa. Jaminah.

Tinta emas Surabaya mencatat nama Wisatmo sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya. Saat masih bernama Cabang Surabaya, dia dipercaya sebagai Ketua Cabang  pada 1947-1952. 22 tahun kemudian, pada 1974 dia kembali dipilih sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya, yang saat itu sudah bernama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM).

Menjelang purna tugas dari Ketua PDM, Wisatmo dipercaya sebagai tuan rumah Muktamar ke-40 Muhammadiyah. Dalam muktamar yang berlangsung 24-30 Juni 1978, semua rangkaian acara berjalan lancar dan meriah. Pembukaan dilakukan di stadion 10 November Tambaksari, sementara sidang-sidangnya berpusat di Perguruan Muhammadiyah Kapasan.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 19/04/2026 00:05
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡