Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Scroll Menguras Energi, Tafakur Jadi Kemewahan

Iklan Landscape Smamda
Ketika Scroll Menguras Energi, Tafakur Jadi Kemewahan
Ketika Scroll Menguras Energi, Tafakur Jadi Kemewahan
Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd Guru SD Muhammadiyah 1 Malang

Di era digital saat ini, banyak orang mengeluhkan hal yang sama: merasa lelah, merasa overload, tetapi tidak benar-benar produktif. Pekerjaan masih tertunda, tugas belum rampung, namun energi sudah terkuras.

Jika ditelusuri, penyebabnya sering kali sederhana namun luput disadari: durasi penggunaan layar yang tinggi. Tidak sedikit orang menghabiskan empat hingga tujuh jam hanya untuk menggulir media sosial.

Inilah realitas zaman: kelelahan tidak selalu berasal dari kerja fisik, tetapi dari paparan layar yang berlebihan.

Dari bangun tidur hingga menjelang tidur, media sosial menjadi teman yang sulit dilepaskan. Lima menit berubah menjadi satu jam, lalu tanpa terasa setengah hari berlalu.

Tubuh mungkin tidak banyak bergerak, tetapi pikiran dipaksa terus aktif. Setiap konten—video, komentar, notifikasi—memberikan rangsangan baru yang membuat otak bekerja tanpa jeda.

Akibatnya, muncul ironi: terlihat sibuk, tetapi minim produktivitas.

Kelelahan akibat scrolling bukanlah hal sepele. Informasi datang terlalu cepat, emosi berubah dalam hitungan detik, dan perhatian terus berpindah.

Secara fisik kita diam, tetapi secara mental kita terkuras.

Ironisnya, di tengah tuntutan untuk terus “aktif”, kemampuan untuk diam justru menjadi sesuatu yang langka—bahkan bisa disebut sebagai kemewahan.

Dalam psikologi modern, dikenal konsep the art of doing nothing atau niksen, yaitu praktik memberi jeda pada otak.

Penelitian menunjukkan bahwa saat seseorang berhenti sejenak dan “bengong”, otak justru mengaktifkan jaringan imajinasi yang membantu kreativitas dan pemecahan masalah.

Beberapa studi juga menyebut bahwa mind-wandering dapat meningkatkan kreativitas serta membantu menemukan solusi baru.

Artinya, diam bukan kemunduran tetapi kebutuhan.

Dalam Islam, konsep diam yang bermakna dikenal dengan tafakur—merenung, berpikir, dan mengambil hikmah.

Allah SWT berfirman:

“…agar mereka memikirkan (yatafakkarun).” (QS. An-Nahl: 44)

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Tafakur bukan sekadar bengong, tetapi kesadaran penuh untuk memahami kehidupan, ciptaan Allah, dan diri sendiri.

Para ulama juga menegaskan pentingnya tafakur.

“At-tafakkur yad’u ila al-‘ilm, wa al-‘ilm yad’u ila al-‘amal.”
(Tafakur mengantarkan pada ilmu, dan ilmu mengantarkan pada amal).

“Al-‘aqil la yazalu bayna fikr wa dzikr.”
(Orang berakal selalu berada antara berpikir dan berdzikir).

Pesan ini relevan hingga hari ini. Masalahnya bukan karena kita terlalu banyak berpikir—melainkan karena kita jarang benar-benar merenung.

Kita lebih sering scrolling daripada tafakur.

Rasulullah SAW juga mengingatkan:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Hari ini, dua nikmat tersebut sering habis bukan untuk karya, melainkan untuk konsumsi tanpa arah.

Produktivitas di era digital bukan sekadar bekerja lebih lama, tetapi tentang keberanian memberi jeda.

Mematikan notifikasi, berjalan sejenak, atau sekadar diam tanpa distraksi itulah bentuk “kemewahan” yang justru mengembalikan energi.

Karena sejatinya, manusia tidak selalu membutuhkan lebih banyak aktivitas.

Kadang, manusia hanya butuh berhenti… lalu berpikir.

Jangan sampai kita terus merasa lelah setiap hari bukan karena sedang mengejar mimpi, tetapi karena terlalu lama mengejar konten yang tak pernah selesai.

Revisi Oleh:
  • Satria - 26/04/2026 21:31
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡