Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Arti Mas di Nama KH Mas Mansur, Masih Keturunan Nabi

Iklan Landscape Smamda
Arti Mas di Nama KH Mas Mansur, Masih Keturunan Nabi
KH Mas Mansur

Seru mengarah berisik. Seperti debat kusir. Begitulah diskusi informal yang terjadi saat pecinta sejarah berkumpul. Berbagai tema dijadikan bahan untuk saling beradu argumen. Begitulah pertemuan Ahad pagi jelang siang di Kafe Lodji Besar, Jalan Makam Peneleh 46, Surabaya (3/5/2026).

Ada pihak yang menguatkan, tapi lebih seringnya adalah menegasikan dan meragukannya. Tidak terkecuali dalam diskusi semrawut itu adalah kata “Mas” dalam gelar KH Mas Mansur. Ketua (Umum) Pengurus Besar -saat ini Pimpinan Pusat- Muhammadiyah 1937-1942.

“Mas itu akronim dari Maulana Sayyid. Artinya, Mas Mansur itu masih termasuk dzurriyah Nabi Muhammad saw,” kata Shohibuddin Qhadir, alumnus Madrasah Mufidah,

Sayyid, lanjut Shohib, adalah gelar kehormatan yang merujuk pada laki-laki keturunan Nabi. Dalam praktiknya, gelar yang berarti “tuan” atau “pemimpin” ini sering digunakan secara bergantian dengan sebutan Habib atau Syarif.

Merujuk pada keterangan Prof Agus Sunyoto, Shohib menjelaskan tentang istilah sayyid, syarif, dan habib ini. “Golongan-golongan orang Arab yang datang ke Nusantara awalnya Sayyid dan Syarif. Ini umumnya berasal dari Hijaz, dan menyebar hingga Asia Tengah. Ini berbeda dengan golongan habib, yang umumnya dari Hadramaut.”

“Ngawur, kon iku (kamu itu). Jangan hanya pakai ilmu gotak-gatuk,” kata Kuncarsono Prasetyo yang ahli sejarah Bung Karno, menyela tanpa merasa berdosa. “Mas yang di belakang gelar Kyai Haji itu ya merujuk pada darah bangsawan dan kedalaman ilmu agama.”

“Nggak, itu Agus Sunyoto yang menulis buku Atlas Walisongo pernah mengatakan Mas itu ya Maulana Sayyid,” tukas Shohib berusaha membela argumentasinya.

Bantahan lain juga datang dari Toufan Hidayat. Menurutnya, pada zaman dulu belum dikenal akronim untuk sebutan apa pun, termasuk nama. Yang popular dari dulu itu hanya singkatan atau kependekan. Akronim belum dikenal.

“Jika Mas adalah Maulana Sayyid, seharusnya kan MS. Bukan Mas,” jelas Tofan, yang hari ini menjadi salah seorang guide tersertifikat dari Pemkot Surabaya.

Melihat eker-ekeran itu, saya, Agus Wahyudi, dan Andi Hariadi, hanya menyimak. Maklum saja, kami memang pegiat sejarah Muhammadiyah, yang seperti pada umumnya, tidak terlalu mementingkan asal-usul atau nasab seseorang.

SMPM 5 Pucang SBY

Terlepas dari berbagai debat itu, adalah menarik apa yang ditulis oleh Darul Aqsho. Dalam bukunya yang berjudul Kiai Haji Mas Mansur, 1896-1946: Perjuangan dan Pemikiran, yang diterbitkan Erlangga. Disebutkan Mas Mansur masih keturunan Nabi Muhammad, selain juga keturunan dari Kraton Sumenep, Madura.

Jika disimpulkan dari buku itu, nama KH Mas Mansur adalah Mansur bin Ahmad Marzuki bin Abdul Hamid bin Hasan bin Muhammad bin Abdullah Mansur. Abdullah Mansur sendiri adalah keturunan dari Keraton Sumenep. Putra dari Kyai Sinder II yang masih keturunan Pangeran Pinderaga dari jalur anaknya Kiai Rawan.

Jalur yang menghubungkan nasab Mas Mansur dengan Nabi berada pada Indruk, istri Abdullah Mansur. Indruk adalah Keturunan Abdurrahman Basyeiban. “Abdurrahman ini adalah cicit Abu Bakar Basyeiban yang silsilahnya sampai kepada Fatimah putri Nabi Muhammad SAW,” tulis Darul Aqsho di halaman 15.

Disebutkan dalam sejarah, Abdurrahman Basyeiban menikah dengan Ratu Ayu Khadijah yang masih keturunan Sunan Gunungjati. Penikahan ini melahirkan 2 putra dan putri: Sulaiman, Abdurrahim, dan Jane. Abdurrahim atau yang biasa dikenal dengan Sayyid Arifuddin berdakwah di Segoropuro, Pasuruan.

Di kemudian hari kelak, Abdullah Mansur nyantri di Segoropuro. Karena prestasinya yang mumpuni, diapun dinikahkan dengan salah satu keturunan Sayyid Abdurrahim yang bernama Indruk.

Pasangan suami-istri ini kemudian meneruskan pengembaraan, hingga akhirnya menetap di Kampung Baru Sawahan, Surabaya. “Dari pernikahan ini lahirlah dua anak: Muhammad dan Sofroh,” lanjut Darul Aqsho

Dari jalur Muhammad ini lahirlah 5 anak: Robi’ah, Arifah, Haji, Hasan, dan Hisyam. Hasan kemudian melahirkan 7 anak: Zakaria, Yahya, Sofwan, Asy’ari, Fatimah, Abdul Hamid, dan Aminah. Dari jalur Abdul Hamid ini lahirlah Ahmad Marzuki, ayah dari Mas Mansur.

Tapi soal Mas itu akronim dari Maulana Sayyid atau gelar lain, wallahu a’lam bi al-shawab. (*)

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 05/05/2026 09:03
  • Agus Wahyudi - 05/05/2026 09:56
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu