Di berbagai belahan dunia, banyak orang percaya 13 adalah angka sial. Muhammadiyah membuktikan 13 adalah angka yang sama dengan angka-angka lainnya. Tercatat ada 3 gedung penting Muhammadiyah yang justru sengaja berlantai 13.
Pernahkah Anda memperhatikan tombol-tombol di dalam lift saat berkunjung ke hotel mewah, rumah sakit modern, atau gedung pencakar langit? Coba cari angka 13. Hampir bisa dipastikan, Anda akan kesulitan menemukannya.
Biasanya, setelah angka 12, tombol lift akan langsung melompat ke angka 14, atau menyamar menjadi “12B”. Secara hakikat fisik, lantainya tentu ada. Namun secara psikologis, angka 13 sengaja “dilenyapkan” dari pandangan. Banyak orang terjebak dalam ketakutan irasional terhadap angka 13 yang telanjur dicap sebagai angka pembawa sial.
Namun, berbeda halnya dengan Muhammadiyah. Saat dunia korporat dan pengembang properti sibuk menghindari angka 13, Muhammadiyah justru berjalan melawan arus dengan penuh percaya diri. Bagi Muhammadiyah, 13 hanyalah sebuah angka biasa. Tidak ada kesialan di sana.
Angka 13 di Muhammadiyah
Keakraban Muhammadiyah dengan angka 13 sebenarnya bukan hal baru. Lihatlah isi Anggaran Dasar Muhammadiyah, terutama dalam pasal 11 ayat (2). Tertulis jelas bahwa Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terdiri atas sekurang-kurangnya 13 orang yang dipilih melalui Muktamar.
Selama ini muktamar sebagai permusyawaratan tertinggi memilih 13 sebagai anggota PP. Ke-13 orang terpilih inilah yang kemudian memilih Ketua Umum PP. Biasanya juga dibarengi dengan penetapan siapa Sekretaris Umum yang mendampinginya. Diumumkan sebelum muktamar resmi ditutup.
Manifesto teologis melawan mitos angka sial 13 juga mewujud dalam bentuk arsitektur megah. Setidaknya, ada tiga gedung pencakar langit milik Muhammadiyah yang secara sengaja dan terang-terangan dibangun setinggi 13 lantai.
Pertama, At-Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Diresmikan pada Januari 2018 bertepatan dengan Tanwir Aisyiyah, gedung ini adalah pionir perlawanan terhadap mitos angka 13. Sang Rektor saat itu, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, secara tegas menyatakan bahwa pemilihan 13 lantai adalah kesengajaan yang visioner. Nama “At-Tauhid” disematkan sebagai simbol keteguhan iman untuk meruntuhkan asumsi takhayul masyarakat.
Kedua, Ibrahim Tower sebagai bagian dari RS Roemani Muhammadiyah Semarang. Fasilitas kesehatan modern setinggi 13 lantai diresmikan langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si, pada 20 Mei 2026. Gedung ini menjadi bukti bahwa pelayanan medis pun bisa berdiri tegak di atas fondasi tauhid yang murni, tanpa harus takut pada takhayul angka.
Ketiga, Presiden Tower Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Bagunan ini berdiri megah di Kampus II UMP, Sokaraja, Banyumas. Gedung 13 lantai yang diperuntukkan bagi Fakultas Ilmu Kesehatan ini merupakan hibah dari Kementerian Pekerjaan Umum yang resmi diserahterimakan pada April 2026.
Apa yang dilakukan Muhammadiyah lewat ketiga gedung ini bukan sekadar urusan gagah-gagahan arsitektur. Bukan pula sebuah kebetulan belaka. Ini adalah dakwah kultural.
Ketika sebuah gedung berlantai 13 dinamakan “At-Tauhid” misalnya, Muhammadiyah mengirimkan pesan kemurnian akidah. Bahwa menggantungkan nasib baik dan buruk pada sebuah angka adalah bentuk pengikisan akidah.
Masyarakat diajak berpikir logis sekaligus teologis. Muhammadiyah ingin mengikis asumsi masyarakat bahwa 13 adalah angka sial. Muhammadiyah ingin membuktikan bahwa dengan keesaan Allah, kesialan angka 13 hanyalah asumsi belaka.





0 Tanggapan
Empty Comments