Tulisan ini adalah salinan dari buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, Bab II berjudul “Jawa Timur Awal Abad ke-20”, sebagian halaman 37, 38, 39, 40, dan 41. Halaman ini beraisi catatan kaki, footnote, untuk semua tulisan yang berada dalam Bab II. Sehingga Bab II Buku Menembus Benteng Tradisi ini tamat.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 17
***
Halaman 37
Catatan:
1. Ensiklopedi Nasional Indonesia (Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1990), 38.
2. A. Cholis Hamzah, “Potret Ekonomi Bisnis Jawa Timur dan Prospeknya di Era Globalisasi,” dalam Tim Editor, Jawa Timur dalam Perspektif Negara dan Masyarakat (Surabaya: Yayasan Lubuk Hati, 1999), 61-62.
3. Denys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-batas Pembaratan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), 137-138.
4. Nuni Kurniati Utami, “Perkembangan Pelabuhan Surabaya: Dampaknya Pada Aspek-aspek Sosial Ekonomi Kota 1900-1940,” (Skripsi Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1994).
Halaman 38
5. Observasi Tim Cagar Budaya Kota Surabaya di Sekitar Jembatan Petekan dan Situs Benteng Prins Hendrik, September 1996.
6. Badan Perencanaan Pembangunan Kota (BAPPEKO) Surabaya, Perencanaan Pelestarian Benda-benda Cagar Budaya di Kota Surabaya: Situs Tunjungan (Surabaya: Bappeko Surabaya, 2002), 19.
7. Obsevasi Lapangan Tim Penulisan Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur di Stasiun Sumberpucung, Malang tanggal 26 Desember 2004.
8. G.H. von Faber, Oud Soerabaia de Geschiedenis van Indies eerste koopstad van de Oudste Tijden de Instelling van den gemeenteraad 1906 (Surabaja: De Gemeenete Soerabaia, 1931). Lihat Denys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-batas Pembaratan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), 135-137.
9. A.C. Broeshart Dkk., Soerabaja beeld van een Stad (Purmerend: Asia Minor, 1994), 153-155.
10. Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, Perencanaan Pelestarian Benda-benda Cagar Budaya di Kota Surabaya : Situs Perumahan Darmo (Surabaya; Bappeko Surabaya, 2002).
11. A.C. Broeshart Dkk., Soerabaja Beeld van een stad (Purmerend-Netherland: Asia Minor, 1994), 67. Lihat Peta Surabaya Nopember 1945.
12. Dukut Imam Widodo, Soerabaia Tempo Doeloe Buku 2 (Surabaya, 2002), 433-435.
13. Departement van Landbouw, Nijverheid, en Handel, Volkstelling 1930 (Batavia Centrum: Landsdrukkerij, 1931), 40.
14. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia V (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), 98.
15. M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (Jogjakarta: UGM Press, 1998), 233.
16. Karakteristik sosial di atas merupakan ciri umum dari penduduk bagian timur Jawa Timur, yaitu mulai Jombang ke
Halaman 39
timur. Oleh orang-orang Jawa Timur dari daerah barat atau daerah Mataraman, dialek atau logat itu dikatakan kagok. Lihat Budi Darma, Dkk., Pertempuran 10 Nopember 1945 Citra Kepahlawanan Bangsa Indonesia di Surabaya (Surabaya: Panitia Pelestarian Nilai-nilai Kepahlawanan 10 Nopember 1945 di Surabaya, 1985), 15.
17. Ibid.
18. Kuntowijoyo, Perubahan Sosial Dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940 (Jogjakarta: Mata Bangsa, 2002), 75.
19. Poesponegoro dan Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia V (Jakarta: Balai Pustaka 1984), 115.
20. Ibid., 106 dan 109.
21. A.P.E. Korver, Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil (Jakarta: Grafiti Press, 1985), 223-224.
22. Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional: dari Bung Tomo sampai Proklamasi 1908-1945 (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1994), 37.
23. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, 232-234.
24. Widodo, Soerabaia, Buku 2, 404-408.
25. Clive Day, The Policy and Administration of The Dutch in Java (New York: The Macmillan Company, 1904), 150-153.
26. Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984), 40-41.
27. Tim Penyusun, Profil Gubernur Jawa Timur Masa Hindia Belanda Tahun 1928–1942 (Surabaya: Badan Arsip Provinsi Jawa Timur, 2003), xxvi.
28. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta: LP3ES, 1980), 105.
29. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, cetakan III (Jakarta: LP3ES, 1996), 27.
30. Noer, Gerakan Moderen Islam, 27.
31. Alwi Shihab, Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung: Mizan, 1998), 56.
32. Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit (Jakarta: Pustaka Jaya, 1980), 38. Lihat pula Aqib Suminto, Politik Islam Hindia-Belanda, 9.
Halaman 40
33 Noer, Gerakan Modern Islam, 32.
34 Ibid., 33.
35 Benda, Bulan Sabit, 38.
36 Ibid., 44.
37 Suminto, Politik Islam, 12.
38 Benda, Bulan Sabit, 44.
39 Ibid., 254-257.
40 Sjamsudduha, Penyebaran dan Perkembangan Islam-Katolik-Protestan di Indonesia, cetakan II (Surabaya: Usaha Nasional, 1987), 24-25.
41 A. Mukti Ali, The Spread of Islam in Indonesia (Djakarta: Jajasan Nida, 1970).
42 P.W. van den Broek, de Geschiedenis van Het Rijk Kediri opgeteekend in het Jaar 1873 door Mas Soemasentika (Leiden: E.J. de Brill, 1902).
43 Ki Kalamwadi, Darmogandhul (Semarang: Dahara Prize, 1991).
44 Prawirataruna, Falsafah Gatholoco (Semarang: Dhara Prize, 1990).
45 R. Ng. Poerbatjaraka, Kapustakan Djawi (Djakarta: Djambatan, 1952).
46 Harun Hadiwijono, Kebatinan Islam di Jawa abad XVI (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1971). Dalam faham wujudiyah proses emanasi terdiri dari tingkatan-tingkatan: Ahadiyat, Wahidiyat, Wahdat, alam Mitsal, alam Arwah, alam Ajsam, dan alam Insan
47 P.J. Zoetmoelder, Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa: Suatu Studi Filsafat (Jakarta: Gramedia, 1990).
48 Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita: Suatu Studi terhadap Serat Wirid Hidayat Jati (Jakarta: UI-Press, 1988).
49 Clifford Geertz, The Religion of Java (The Glencoe: The Free Press, 1960). Geertz melakukan penelitian di kota kecil di Jawa Timur Mojokuto (Pare, Kediri).
50 Sartono Kartodirdjo, Protest Movements in Rural Java: A Study of Agrarian Unrest in the Nineteenth and Early Twentieth Centuries (Singapore: Oxford University Press/PT. Indira, 1973), 7-15.
51 Ibid., 64-187.
Halaman 41
52 Ibid., 60.
53 Sejarah Gereja Katolik III Abad ke-20 (Jakarta, 1973), 949-951.
54 Sjamsudduha, Penyebaran, 86-87. Th.van den End, Harta Dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas, cetakan III (Jakarta: Gunung Mulia, 1982), 270-274.
55 Noer, Gerakan Modern Islam, 39.
56 Ensiklopedi Islam, 281-282.
57 Noer, Gerakan Modern Islam, 84-86.
58 Ibid., 86-87.
59 Ibid., 95.
60 M. Ali Haidar, Nahdatul Ulama dan Islam di Indonesia: Pendekatan Fikih dalam Politik (Jakarta: Gramedia, 1994), 42-43.
61 Ibid., 50-59.
62 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Pendidikan Daerah Jawa Timur (Jakarta: Depdikbud, 1986), 36-37.
63 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Cetakan 4 (Jakarta: LP3ES, 1994), 35.
64 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Nasional Indonesia V (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), 123-131.
65 Ibid., 39.
66 Ibid.
67 Ibid., 40.
68 Ibid., 151-152.
69 Ibid., 83. Langitan sekarang masuk wilayah Kabupaten Tuban.
70 Dukut Imam Widodo, Dkk., Grissee Tempo Doeloe (Gresik: Pemerintah Kabupaten Gresik, 2004), 598-600.
71 Dukut Imam Widodo, Dkk., Soerabaia, Buku I, 94-96.
72 Ibid., 100-101.
73 Ibid., 104-106.
74 Ibid., 108-110.
75 Ibid., 149-152.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggotanya adalah Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Sementara konsultannya adalah M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments