Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hardiknas: Mengembalikan Kiblat Pendidikan dari Sekularisme ke Tauhid

Iklan Landscape Smamda
Hardiknas: Mengembalikan Kiblat Pendidikan dari Sekularisme ke Tauhid
Oleh : Dr. Sarwo Edy, M.Pd. Akademisi Universitas Muhammadiyah Gresik

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) seharusnya tidak sekadar menjadi seremoni tahunan atau ajang nostalgia atas jasa Ki Hadjar Dewantara.

Lebih dari itu, momen ini adalah ruang refleksi mendalam: ke mana sebenarnya arah peradaban bangsa ini sedang dituntun?

Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntunan bagi tumbuhnya jiwa anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Pandangan luhur ini menempatkan pendidikan sebagai proses sakral memanusiakan manusia.

Namun, dalam perspektif pendidikan Islam, misi tersebut memiliki dimensi transendental yang lebih transendental.

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, menekankan bahwa pendidikan harus melahirkan manusia yang berilmu sekaligus beragama—sosok yang menguasai ilmu pengetahuan modern tanpa tercerabut dari akar tauhid.

Senada dengan itu, Imam Al-Ghazali memandang pendidikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah melalui pembinaan akhlak demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Maka, refleksi Hardiknas semestinya tidak berhenti pada angka kualitas akademik, tetapi menimbang kembali: apakah sistem kita sudah membentuk manusia utuh yang cerdas pikirannya, bersih hatinya, dan lurus orientasi ketuhanannya?

Di tengah melesatnya teknologi pembelajaran dan akses sekolah, muncul kegelisahan nyata.

Pendidikan hari ini tampak sukses mencetak tenaga kerja terampil, namun belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia paripurna.

Sekolah mampu melahirkan lulusan cerdas, namun tidak selalu menciptakan pribadi yang kokoh iman, luhur akhlak, dan sadar akan tujuan hidupnya di hadapan Allah.

Inilah ironi besar pendidikan kita: ilmu berkembang pesat, namun makna hidup sering kali kehilangan arah.

Akar persoalannya adalah menguatnya corak sekularisme dalam pendidikan.

Sekularisasi pendidikan memisahkan ilmu dari nilai ketuhanan, memisahkan kecerdasan intelektual dari pembinaan ruhani, serta menempatkan keberhasilan duniawi sebagai tujuan utama.

Pendidikan akhirnya direduksi sebagai proses belajar yang hanya sebagai alat mobilitas sosial-ekonomi.

Pendidikan akhirnya dipaksa menjadi mesin pencari kerja dan pemenang persaingan global semata, sementara dimensi transendental—bahwa manusia adalah hamba Allah—sering terpinggirkan.

Akibatnya, lahirlah generasi unggul akademik namun rapuh spiritual; cerdas intelektual namun miskin integritas.

Sering kali kita menyaksikan fenomena tentang meningkatnya krisis moral, korupsi intelektual, pragmatisme hidup, hingga lunturnya adab —kepada guru, orang tua, maupun masyarakat.

Ilmu tidak lagi menghadirkan kebijaksanaan, gelar juga tidak otomatis melahirkan integritas.

Pendidikan kehilangan fondasi tauhid, dampaknya adalah terciptanya generasi yang pintar, namun tidak bijak.

Mereka hanya cerdas tetapi kehilangan orientasi ilahiah.

Dalam perspektif Islam, mandat pendidikan jauh lebih agung: pembentukan insan kamil —manusia paripurna yang seimbang antara akal, ruh, jasad, dan amal.

Pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan sarana menyiapkan khalifah yang membawa kemaslahatan di bumi.

SMPM 5 Pucang SBY

Ilmu seharusnya menjadi jalan mengenal Allah untuk memperkuat tauhid dan menumbuhkan akhlak mulia, mengarahkan setiap potensi manusia pada pengabdian.

Sudah saatnya arah pendidikan dikembalikan pada integrasi antara ilmu, iman, dan amal.

Pendidikan harus tidak hanya berorientasi untuk mencetak tenaga kerja, tetapi juga membentuk hamba Allah yang bertakwa.

Kurikulum harus menghadirkan keterpaduan antara antara sains, teknologi, humaniora, dan nilai-nilai keislaman (keagamaan).

Pembelajaran tidak cukup menekankan capaian kognitif, tetapi juga perlu menumbuhkan kesadaran spiritual, kejujuran, tanggung jawab, dan adab.

Peran guru perlu direvitalisasi; ia bukan sekadar pengantar materi, melainkan seorang murabbi—pendidik sejati yang membimbing karakter sekaligus menjaga nyala keimanan siswa.

Sejalan dengan itu, sekolah harus bertransformasi menjadi ruang pembentukan peradaban, bukan sekadar “pabrik” yang mengejar angka-angka akademik.

Namun, semua ini tidak akan kokoh tanpa penguatan pendidikan keluarga sebagai fondasi utama penanaman tauhid sejak dini.

Mengembalikan pendidikan berbasis tauhid sama sekali tidak berarti menolak modernitas atau memusuhi kemajuan ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, ini adalah upaya menempatkan seluruh kemajuan tersebut dalam kerangka pengabdian kepada Allah.

Sains tetap krusial, teknologi tetap diperlukan, dan inovasi harus terus dikembangkan—namun semuanya wajib diarahkan untuk kemaslahatan dan keberkahan, bukan terjebak dalam materialisme buta.

Bangsa yang besar bukan hanya unggul secara teknologi, melainkan bangsa yang kuat moralitasnya.

Umat yang maju bukan sekadar berdaya saing ekonomi, tetapi juga kokoh dalam akidah dan akhlak.

Jika pendidikan terus terseret dalam arus sekularisme, kita mungkin akan meraih kemajuan material, namun berisiko besar kehilangan jati diri spiritual.

Momentum perbaikan pendidikan harus dimulai dari kesadaran kolektif bahwa krisis pendidikan sejatinya tidak sekadar persoalan kurikulum teknis, melainkan masalah orientasi filosofis.

Kita membutuhkan keberanian untuk menata ulang visi pendidikan nasional agar selaras dengan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan peradaban.

Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang mengantarkan manusia sukses di dunia tanpa kehilangan akhiratnya; pendidikan yang menumbuhkan kecerdasan tanpa mematikan hati; serta pendidikan yang melahirkan profesional unggul sekaligus hamba Allah yang taat.

Sudah saatnya pendidikan tidak lagi sekadar menjawab tuntutan pasar, tetapi mulai menjawab panggilan langit.

Sebab, ketika pendidikan kembali bertumpu pada tauhid, ia tidak hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menyelamatkan arah peradaban manusia.

Wallahu a’lam bish-shawab.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 02/05/2026 10:07
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡