Pada tahun 1930-an hingga 1950, struktur kepemimpinan Muhammadiyah di Surabaya cukup unik. Ada cabang yang membawahi ranting se-Surabaya kota, dan Konsul yang membawahi cabang dan ranting di (eks) Keresidenan Surabaya. Siapa pemegang dua pucuk pimpinan itu setelah KH Mas Masur terpilih sebagai Ketua (Umum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
KH Mas Mansur adalah Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya yang terlama. Sejak didirikan pada 1921, dia dipercaya sebagai Ketua. Masih sebagai Ketua Cabang, dia juga diangkat PP (saat itu bernama Hoofdbestuur/HB) Muhammadiyah sebagai Ketua Konsul Surabaya.
Hingga puncaknya dalam Kongres ke-26 di Yogyakarta, 8-15 Oktober 1937, Mas Mansur dipilih formatur untuk menjadi Ketua (Umum) PP Muhammadiyah. Praktis, dia menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya selama 16 tahun. Sejak 1921 sampai pindah ke Yogyakarta tahun 1937.
Sebab, sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah yang mengharusnya pindah ke Yogyakarta, ada 2 pimpinan puncak yang ditinggalkan. Yaitu Ketua Muhammadiyah cabang Surabaya, serta Ketua Muhammadiyah Konsul Surabaya.
Yang menjadi pertanyaan, siapakah pengganti Mas Mansur sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya? Berbeda dengan kepemimpinan di tingkat Konsul Surabaya yang terang siapa penerusnya, hal serupa tidak terjadi di tingkat Cabang Surabaya.
Meski sama-sama “Surabaya”, tapi istilah cabang dan konsul itu berbeda jauh. Cabang, saat itu, mudahnya adalah merujuk pada wilayah kota Surabaya hari ini. Muhammadiyah Cabang Surabaya membawahi berbagai ranting (saat itu bernama group) yang berada di Surabaya kota. Di antara ranting-rantingnya tersebar di Genteng, Praban, Peneleh, Pandean, Ampel, Kaliasin, dan lain-lain.
Sementara Konsul Surabaya, merujuk pada wilayah Keresidenan Surabaya. Konsul Surabaya berarti membawahi berbagai cabang dan ranting yang berada di Keresidenan Surabaya. Yaitu Muhammadiyah cabang Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Termasuk juga ranting di masing-masing cabang tersebut.
Dalam berbagai buku ke-Muhammadiyah-an, banyak yang menulis pengganti Mas Mansur sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya adalah Faqih Usman. Penulisan itu tidaklah salah, hanya sedikit kurang tepat. Faqih Usman memang dipercaya sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya. Tapi itu dalam konteks Surabaya sebagai Konsul. Bukan dalam makna Surabaya sebagai Cabang.
Sejarah ini sangat mudah dipahami karena Faqih Usman adalah ketua Muhammadiyah Cabang Gresik. Baik saat pembentukan Konsul Muhammadiyah pada 1930-an maupun saat Mas Mansur dipilih sebagai Ketua Umum PP. Dia telah terlibat dalam Konsul Surabaya sejak struktur ini dibentuk pertama kali pada 1930-an. Ia duduk sebagai anggota, sementara ketuanya adalah Mas Mansur.
Kepemimpinan di tingkat Konsul Surabaya inilah, Faqih Usman menggantikan Mas Mansur. Sebagai ketua Konsul, dia membawahi berbagai cabang dan ranting yang berada di kota Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Pada saat yang sama, Faqih Usman sendiri masih tercatat sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Gresik.
Artinya, di Muhammadiyah Cabang Surabaya sebenarnya ada ketua tersendiri. Bukan Faqih Usman. Sayangnya, dalam berbagai literatur –setidaknya sampai hari ini–, saya belum menemukan nama yang dipercaya sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya.
Dari berbagai telaah literatur, saya menduga ada 3 kandidat yang dipercaya sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya. Sekali lagi, itu masih dugaan. Belum fix. Belum ada sumber sejarah yang secara tegas mengkonfirmasinya. Kandidat terduga adalah S. Wondowidjojo, kemudian dr Mohammad Soewandhie, serta Wisatmo.
S. Wondowidjojo
Wondowidjojo ditempatkan sebagai kandidat utama karena berbagai alasan. Pertama, dia adalah Wakil Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya saat Mas Mansur sebagai Ketua. Hal itu terlihat saat pembentukan Muhammadiyah Cabang Surabaya pada 5 April 1930. Dia merupakan satu-satunya Wakil Ketua. Meski struktur pimpinan tercatat ada 10 orang, tapi Wakil Ketua hanya satu.
Alasan kedua, S. Wondowidjojo adalah sosok yang sangat aktif dalam Muhammadiyah Cabang Surabaya saat diketuai Mas Mansur. Keaktifan itu terlihat dengan penunjukan rumahnya di Jagalan sebagai pusat administrasi. Surat-menyurat keorganisasian dialamatkan ke rumahnya. Bukan ke Soediroatmodjo maupun Badjoeri, yang dipercaya sebagai Sekretaris I dan II.
Alasan ketiga, Wondowidjojo masuk sebagai anggota Konsul Muhammadiyah Surabaya saat diketuai Faqih Usman pada 1938. Bersama dengan Wisatmo, Moh, Saleh Ibrahim, dan Siti Aminah, dia sebagai anggota Konsul. Sementara ketuanya adalah Faqih Usman, didampingi Sekretaris yang bernama Tamsi. Keduanya sama-sama berasal dari Muhammadiyah Cabang Gresik.
Posisi Wondowidjojo dalam Konsul Muhammadiyah Surabaya 1938 ini serupa dengan Faqih Usman, pada tahun 1930-an. Faqih Usman yang saat itu sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Gresik, juga sebagai anggota pimpinan Konsul Surabaya yang diketuai Mas Mansur. Bukan mustahil keberadaan Wondowidjojo di Konsul itu karena posisinya sebagai Ketua Cabang Surabaya.
Alasan keempat, tradisi Muhammadiyah saat itu, hampir mustahil adanya pergantian pimpinan Muhammadiyah di tingkat apapun selama yang bersangkutan masih hidup atau tidak pindah ke kota lain. Dugaan saya, secara keilmuan Wondowidjojo adalah tokoh paling senior saat ditinggal Mas Mansur pindah ke Yogyakarta. Adalah wajar jika patut diduga Wondowidjojo digeser posisinya sebagai Ketua Cabang.
Senioritas Wondowidjojo ini secara mudah bisa dilihat ketika Klinik Muhammadiyah di Jl Sidodadi 57 beroperasi. Di klinik yang diresmikan pada 14 September 1924 itu, dibentuk pengurus operasionalnya sehari-hari. Ketuanya adalah Wondowidjojo, dibantu Askandar sebagai sekretaris, dan H Mustafa sebagai bendahara. Ketiganya dibantu oleh Commisaris Abdul Hamid, Suroardjo, Purbono Tokusumo, Tjiptaredjo, Hamdan, dan Hardjosaputro.
Selain itu, Wondowidjojo juga tercatat sebagai salah satu dari Walirongpuluh yang dideklarasikan Mas Mansur pada 1927. untuk meneguhkan dakwah di Surabaya. Sebagaimana dicatat sejarah, Muhammadiyah Surabaya pada 1927 mengalami cobaan dan krisis organisasi yang cukup berat. Untuk mengukuhkan komitmen dan solidaritas organisasi, Mas Mansur membentuk “Walirongpuluh”. Yaitu 20 wali (bapak) atau Pamong Muhammadiyah Surabaya.
dr Mohamad Soewandhie
Dugaan kandidat selanjutnya adalah dr Mohamad Soewandhie, tokoh yang hari ini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Pemkot Surabaya. Dalam catatan sejarah, dia aktif di Muhammadiyah sejak masuk Surabaya pada tahun 1926. Tepatnya saat melanjutkan kuliah di Nederlands Indische Artsen School (NIAS), yang kini jadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Semasa masuk ke Surabaya, aktivitas Soewandhie cukup banyak. Pada tahun 1926-an, dia terlibat menjadi salah satu pengasuh Balai Kesehatan Muhammadiyah Surabaya di Jl Sidodadi. Ketika lulus sebagai dokter pada 1932, dia dipercaya memimpin Balai Kesehatan yang saat itu sudah pindah ke lokasi sekarang, Jl KH Mas Mansyur No. 180-182.
Di luar Amal Usaha Kesehatan itu, dia juga dekat dengan KH Mas Mansur, serta tokoh lainnya. Tak heran jika dia adalah satu pendiri Persebaya bersama Raden Pamoedji pada 1927. Termasuk bersama KH Mas Mansur dan dr Soetomo, turut mendirikan Putra Surabaya (Pusura).
Alasan lain Soewandhie patut diduga sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya pasca Mas Mansur juga karena dia dipercaya sebagai Ketua organisasi ini di kemudian hari. Tepatnya pada pada sekitar tahun 1953 hingga tahun 1962.
Namun, sebagaimana dalam buku Siapa dan Si Apa: 50 Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur (Seri I), aktivitasnya sebagai pucuk pimpinan Muhammadiyah dilakukan seusai pensiun dari dokter pemerintah. Sehingga dugaan Soewandhie sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya pada 1937-an, agak lemah karena kesibukannya di ranah yang lebih luas.
Apalagi sejak tahun 1939, Soewandhie melepaskan jabatan Direktur RS Muhammadiyah Surabaya karena dipercaya sebagai dokter pemerintahan. Termasuk diangkat sebagai orang Indonesia pertama yang diangkat sebagai direktur Rumah Sakit Centrale Burgelijke Ziekeninrichting (CBZ) Simpang.
Wisatmo
Kandidat ketiga yang layak dikemukakan sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya menggantikan Mas Mansur adalah Wisatmo. Tokoh yang sejak awal “ngintil” Mas Mansur. Tercatat sebagai salah satu dari Walirongpuluh yang “dibaiat” Mas Mansur pada 1927. Juga sebagai salah satu anggota Pimpinan Cabang Surabaya pada 1930.
Sama halnya dengan Wondowidjojo, Wisatmo juga masuk sebagai anggota Konsul Surabaya tahun 1938 yang dipimpin Faqih Usman. Namun, pada saat yang sama, dia masih sangat aktif sebagai pemimpin penting di Kepanduan Hizbul Wathan (HW) dan Pemuda Muhammadiyah.
Wisatmo bahkan dipercaya sebagai Menteri Daerah Hizbul Wathan Surabaya. Termasuk saat HW juga membuat Konsul mengikuti struktur Muhammadiyah pada akhir 1938, dia duduk sebagai salah satu Wakil Ketua. Ketika berdiri Pemuda Muhammadiyah, Wisatmo yang kelahiran 1904 juga aktif di organisasi ini.
Dengan kesibukannya di HW dan Pemuda Muhammadiyah pada 1937, dugaan sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya, agak lemah. Namun, dalam penuturan almarhum Moeslimin BA pada 2011 silam, Wisatmo adalah Ketua Muhammadiyah Surabaya setelah kemerdekaan Indonesia. Tepatnya pada tahun 1947 hingga 1953 sebelum digantikan dr Mohamad Soewandhie.
Urutan Ketua Muhammadiyah Surabaya
Kalau disandingkan dengan struktur kekinian, Muhammadiyah Cabang (sebelum Muktamar 1950) setara dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM). Sementara Konsul adalah struktur yang berada di antara PDM dan Pimpinan wilayah Muhammadiyah (PWM). Membawahi beberapa kabupaten/kota, –yang dalam konteks pulau Jawa–, tidak seluruhnya se-Provinsi.
Jika dugaan S. Wondowidjojo benar sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya pada 1937, maka sejarah struktur Muhammadiyah Surabaya adalah sebagai berikut. Urutannya KH Mas Mansur (1921-1937), kemudian S. Wondowidjojo (1937-1947), Wisatmo (1947-1953), dr Mohamad Soewandhie (1953-1962), HM. Anwar Zain (1962-1968), HM. Ainurrofiq Mansyur (1968-1974), dan Wisatmo (1974-1978).
Setelah durasi kepemimpinan berubah menjadi 5 tahunan, Ketua Muhammadiyah Surabaya selanjutnya adalah Drs Ec. Lubis Arsyad Muthaher (1978-1985), Abdillah (1985-1990), Muhammad Yazid (1990-1995), Drs H Abdurrachman Azis Marzuki, MSi (1995-2000), Drs H Abdul Wahid Syukur (2000-2005), Drs Syaifuddin Zaini MAg (2005-2010), Dr HM. Zayin Chudlori, M.Ag (2010-2015), Dr Mahsun MAg (2015-2021) yang dilanjutkan Drs Hamri Al Jauhari M.Pd.I (2021-2022), serta Prof Dr Ridlwan MA (2022-2027).
Penyebutan tahun itu merujuk pada periode kepemimpinan, mengikuti struktur di tingkat PP yang berdasarkan penyelenggaraan muktamar. Namun, biasanya struktur tingkat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) baru terbentuk setahun kemudian. Begitu juga struktur di Surabaya itu, rerata pembentukannya dilakukan setahun setelah muktamar.
Sekali lagi, Wondowidjojo sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya pasca Mas Mansur ini baru dugaan. Belum ada sumber sejarah yang ditemukan. Termasuk sumber oral pun belum ketemu. Tentu saya akan sangat senang jika di antara pembaca PWMU.CO yang punya petunjuk tentang tokoh satu ini.





0 Tanggapan
Empty Comments