Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bukan KH Faqih Usman: S. Wondowidjoyo Ketua Muhammadiyah Pasca KH Mas Mansur

Iklan Landscape Smamda
Bukan KH Faqih Usman: S. Wondowidjoyo Ketua Muhammadiyah Pasca KH Mas Mansur
KH Mas Mansur (x) di depan Poliklinik Muhammadiyah Surabaya di Jl Karang Tembok. Salah satu karya nyata Muhammadiyah dalam bidang Kesehatan. (foto: repro `pwm jatim)
Oleh : Muh Kholid AS Bukan Sejarawan, Pemred PWMU.CO 2016-2018

S. Wondowidjojo

Wondowidjojo ditempatkan sebagai kandidat utama karena berbagai alasan. Pertama, dia adalah Wakil Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya saat Mas Mansur sebagai Ketua. Hal itu terlihat saat pembentukan Muhammadiyah Cabang Surabaya pada 5 April 1930. Dia merupakan satu-satunya Wakil Ketua. Meski struktur pimpinan tercatat ada 10 orang, tapi Wakil Ketua hanya satu.

Alasan kedua, S. Wondowidjojo adalah sosok yang sangat aktif dalam Muhammadiyah Cabang Surabaya saat diketuai Mas Mansur. Keaktifan itu terlihat dengan penunjukan rumahnya di Jagalan sebagai pusat administrasi. Surat-menyurat keorganisasian dialamatkan ke rumahnya. Bukan ke Soediroatmodjo maupun Badjoeri, yang dipercaya sebagai Sekretaris I dan II.

Alasan ketiga, Wondowidjojo masuk sebagai anggota Konsul Muhammadiyah Surabaya saat diketuai Faqih Usman pada 1938. Bersama dengan Wisatmo, Moh, Saleh Ibrahim, dan Siti Aminah, dia sebagai anggota Konsul. Sementara ketuanya adalah Faqih Usman, didampingi Sekretaris yang bernama Tamsi. Keduanya sama-sama berasal dari Muhammadiyah Cabang Gresik.

Posisi Wondowidjojo dalam Konsul Muhammadiyah Surabaya 1938 ini serupa dengan Faqih Usman, pada tahun 1930-an. Faqih Usman yang saat itu sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Gresik, juga sebagai anggota pimpinan Konsul Surabaya yang diketuai Mas Mansur. Bukan mustahil keberadaan Wondowidjojo di Konsul itu karena posisinya sebagai Ketua Cabang Surabaya.

Alasan keempat, tradisi Muhammadiyah saat itu, hampir mustahil adanya pergantian pimpinan Muhammadiyah di tingkat apapun selama yang bersangkutan masih hidup atau tidak pindah ke kota lain. Dugaan saya, secara keilmuan Wondowidjojo adalah tokoh paling senior saat ditinggal Mas Mansur pindah ke Yogyakarta. Adalah wajar jika patut diduga Wondowidjojo digeser posisinya sebagai Ketua Cabang.

Senioritas Wondowidjojo ini secara mudah bisa dilihat ketika Klinik Muhammadiyah di Jl Sidodadi 57 beroperasi. Di klinik yang diresmikan pada 14 September 1924 itu, dibentuk pengurus operasionalnya sehari-hari. Ketuanya adalah Wondowidjojo, dibantu Askandar sebagai sekretaris, dan H Mustafa sebagai bendahara. Ketiganya dibantu oleh Commisaris Abdul Hamid, Suroardjo, Purbono Tokusumo, Tjiptaredjo, Hamdan, dan Hardjosaputro.

Selain itu, Wondowidjojo juga tercatat sebagai salah satu dari Walirongpuluh yang dideklarasikan Mas Mansur pada 1927. untuk meneguhkan dakwah di Surabaya. Sebagaimana dicatat sejarah, Muhammadiyah Surabaya pada 1927 mengalami cobaan dan krisis organisasi yang cukup berat. Untuk mengukuhkan komitmen dan solidaritas organisasi, Mas Mansur membentuk “Walirongpuluh”. Yaitu 20 wali (bapak) atau Pamong Muhammadiyah Surabaya.

SMPM 5 Pucang SBY

dr Mohamad Soewandhie

Dugaan kandidat selanjutnya adalah dr Mohamad Soewandhie, tokoh yang hari ini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Pemkot Surabaya. Dalam catatan sejarah, dia aktif di Muhammadiyah sejak masuk Surabaya pada tahun 1926. Tepatnya saat melanjutkan kuliah di Nederlands Indische Artsen School (NIAS), yang kini jadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Semasa masuk ke Surabaya, aktivitas Soewandhie cukup banyak. Pada tahun 1926-an, dia terlibat menjadi salah satu pengasuh Balai Kesehatan Muhammadiyah Surabaya di Jl Sidodadi. Ketika lulus sebagai dokter pada 1932, dia dipercaya memimpin Balai Kesehatan yang saat itu sudah pindah ke lokasi sekarang, Jl KH Mas Mansyur No. 180-182.

Di luar Amal Usaha Kesehatan itu, dia juga dekat dengan KH Mas Mansur, serta tokoh lainnya. Tak heran jika dia adalah satu pendiri Persebaya bersama Raden Pamoedji pada 1927. Termasuk bersama KH Mas Mansur dan dr Soetomo, turut mendirikan Putra Surabaya (Pusura).

Alasan lain Soewandhie patut diduga sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya pasca Mas Mansur juga karena dia dipercaya sebagai Ketua organisasi ini di kemudian hari. Tepatnya pada pada sekitar tahun 1953 hingga tahun 1962.

Namun, sebagaimana dalam buku Siapa dan Si Apa: 50 Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur (Seri I), aktivitasnya sebagai pucuk pimpinan Muhammadiyah dilakukan seusai pensiun dari dokter pemerintah. Sehingga dugaan Soewandhie sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya pada 1937-an, agak lemah karena kesibukannya di ranah yang lebih luas.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 30/04/2026 12:28
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡