Apalagi sejak tahun 1939, Soewandhie melepaskan jabatan Direktur RS Muhammadiyah Surabaya karena dipercaya sebagai dokter pemerintahan. Termasuk diangkat sebagai orang Indonesia pertama yang diangkat sebagai direktur Rumah Sakit Centrale Burgelijke Ziekeninrichting (CBZ) Simpang.
Wisatmo
Kandidat ketiga yang layak dikemukakan sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya menggantikan Mas Mansur adalah Wisatmo. Tokoh yang sejak awal “ngintil” Mas Mansur. Tercatat sebagai salah satu dari Walirongpuluh yang “dibaiat” Mas Mansur pada 1927. Juga sebagai salah satu anggota Pimpinan Cabang Surabaya pada 1930.
Sama halnya dengan Wondowidjojo, Wisatmo juga masuk sebagai anggota Konsul Surabaya tahun 1938 yang dipimpin Faqih Usman. Namun, pada saat yang sama, dia masih sangat aktif sebagai pemimpin penting di Kepanduan Hizbul Wathan (HW) dan Pemuda Muhammadiyah.
Wisatmo bahkan dipercaya sebagai Menteri Daerah Hizbul Wathan Surabaya. Termasuk saat HW juga membuat Konsul mengikuti struktur Muhammadiyah pada akhir 1938, dia duduk sebagai salah satu Wakil Ketua. Ketika berdiri Pemuda Muhammadiyah, Wisatmo yang kelahiran 1904 juga aktif di organisasi ini.
Dengan kesibukannya di HW dan Pemuda Muhammadiyah pada 1937, dugaan sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya, agak lemah. Namun, dalam penuturan almarhum Moeslimin BA pada 2011 silam, Wisatmo adalah Ketua Muhammadiyah Surabaya setelah kemerdekaan Indonesia. Tepatnya pada tahun 1947 hingga 1953 sebelum digantikan dr Mohamad Soewandhie.
Urutan Ketua Muhammadiyah Surabaya
Kalau disandingkan dengan struktur kekinian, Muhammadiyah Cabang (sebelum Muktamar 1950) setara dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM). Sementara Konsul adalah struktur yang berada di antara PDM dan Pimpinan wilayah Muhammadiyah (PWM). Membawahi beberapa kabupaten/kota, –yang dalam konteks pulau Jawa–, tidak seluruhnya se-Provinsi.
Jika dugaan S. Wondowidjojo benar sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya pada 1937, maka sejarah struktur Muhammadiyah Surabaya adalah sebagai berikut. Urutannya KH Mas Mansur (1921-1937), kemudian S. Wondowidjojo (1937-1947), Wisatmo (1947-1953), dr Mohamad Soewandhie (1953-1962), HM. Anwar Zain (1962-1968), HM. Ainurrofiq Mansyur (1968-1974), dan Wisatmo (1974-1978).
Setelah durasi kepemimpinan berubah menjadi 5 tahunan, Ketua Muhammadiyah Surabaya selanjutnya adalah Drs Ec. Lubis Arsyad Muthaher (1978-1985), Abdillah (1985-1990), Muhammad Yazid (1990-1995), Drs H Abdurrachman Azis Marzuki, MSi (1995-2000), Drs H Abdul Wahid Syukur (2000-2005), Drs Syaifuddin Zaini MAg (2005-2010), Dr HM. Zayin Chudlori, M.Ag (2010-2015), Dr Mahsun MAg (2015-2021) yang dilanjutkan Drs Hamri Al Jauhari M.Pd.I (2021-2022), serta Prof Dr Ridlwan MA (2022-2027).
Penyebutan tahun itu merujuk pada periode kepemimpinan, mengikuti struktur di tingkat PP yang berdasarkan penyelenggaraan muktamar. Namun, biasanya struktur tingkat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) baru terbentuk setahun kemudian. Begitu juga struktur di Surabaya itu, rerata pembentukannya dilakukan setahun setelah muktamar.
Sekali lagi, Wondowidjojo sebagai Ketua Muhammadiyah Surabaya pasca Mas Mansur ini baru dugaan. Belum ada sumber sejarah yang ditemukan. Termasuk sumber oral pun belum ketemu. Tentu saya akan sangat senang jika di antara pembaca PWMU.CO yang punya petunjuk tentang tokoh satu ini.





0 Tanggapan
Empty Comments