Masjid Baitul Mukhlisin kembali menunjukkan perannya sebagai pusat pemberdayaan umat melalui kegiatan kunjungan akademik mahasiswa Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Kiai Ageng Muhammad Besari pada Senin (25/05/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tolabul ilmi atau menuntut ilmu mengenai pengelolaan masjid modern yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan penguatan ekonomi masyarakat.
Sebanyak 11 mahasiswa semester 6 hadir bersama Prof. Dr. H. Miftahul Huda, M.Ag selaku dosen pendamping.
Kedatangan rombongan disambut hangat oleh jajaran takmir Masjid Baitul Mukhlisin, yakni Khoirul Anwar yang akrab disapa Pak Coy bersama Ustadz Dalhar.
Dalam sambutannya, pihak takmir menegaskan bahwa masjid masa kini harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara luas.
Masjid tidak cukup hanya ramai saat waktu salat tiba, tetapi juga harus hadir memberi manfaat nyata bagi jamaah dan masyarakat sekitar, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun ekonomi.
Kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan sistem pengelolaan Masjid Baitul Mukhlisin. Para mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai berbagai amal usaha yang dimiliki masjid sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi umat.
Beberapa unit usaha yang diperkenalkan di antaranya produksi Airku, Suryamart, Restomu, dan sejumlah usaha lain yang dikelola secara profesional di bawah naungan masjid.
Dalam penjelasannya, Pak Coy menyampaikan bahwa sebagian keuntungan unit usaha tersebut dikembalikan untuk mendukung operasional masjid, kegiatan keagamaan, serta kebutuhan jamaah.
Konsep tersebut dinilai menjadi bentuk nyata bagaimana masjid mampu membangun ekosistem ekonomi yang saling menguatkan antara tempat ibadah dan masyarakat.
Mahasiswa juga diajak melihat langsung berbagai fasilitas dan unit usaha yang dimiliki masjid. Kunjungan pertama dilakukan ke tempat produksi Airku.
Di lokasi tersebut, mahasiswa diperlihatkan proses pengelolaan air minum yang menjadi salah satu unit usaha produktif milik masjid. Mereka tampak antusias bertanya mengenai sistem pengelolaan, distribusi, hingga manfaat ekonomi dari usaha tersebut.
Rombongan kemudian mengunjungi ruang bawah masjid yang dimanfaatkan sebagai ruang ibadah sekaligus tempat kegiatan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Pak Coy menjelaskan bahwa tempat tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin mengadakan kegiatan positif tanpa dipungut biaya.
Suasana keakraban semakin terasa saat mahasiswa diajak menikmati sarapan nasi pecel bersama pengurus masjid. Momen tersebut menjadi ruang diskusi santai mengenai tantangan dan peluang pengembangan masjid di era modern.
Kegiatan berikutnya dilanjutkan dengan kunjungan ke Suryamart, minimarket berbasis masjid yang menjadi salah satu unit usaha unggulan Masjid Baitul Mukhlisin.
Para mahasiswa terlihat sangat antusias karena konsep minimarket berbasis masjid dinilai menarik dan jarang ditemui.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa menanyakan sistem pengadaan produk di Suryamart, termasuk keterlibatan masyarakat sekitar.
Pihak pengelola menjelaskan bahwa produk yang dijual tidak sepenuhnya berasal dari distributor pusat. Sebagian produk merupakan hasil usaha jamaah dan masyarakat sekitar yang dititipkan untuk dipasarkan melalui koordinasi dengan pengelola.
Konsep tersebut dinilai menjadi bentuk nyata pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis masjid.
Kehadiran Suryamart tidak hanya menjadi tempat berbelanja, tetapi juga membuka peluang bagi warga sekitar untuk memasarkan produk usaha mereka melalui jaringan ekonomi masjid.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan baru mengenai pengelolaan masjid modern yang produktif dan berdampak luas bagi masyarakat.
Masjid Baitul Mukhlisin dinilai berhasil menghadirkan konsep masjid yang hidup tidak hanya dalam aktivitas ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan sosial dan ekonomi umat.





0 Tanggapan
Empty Comments