Dalam sejarah panjang Muhammadiyah, terdapat sebuah peristiwa yang hingga kini belum pernah terulang. Pada 10 April 1965 atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1384 Hijriah, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menganugerahkan “Bintang Muhammadiyah” kepada Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
Bintang Muhammadiyah itu dideskripsikan sebagai sebuah bintang dari emas murni. Berbentuk matahari dengan sinarnya. Di tengahnya tertulis “Muhammadiyah”, yang dikelilingi oleh tulisan dua kalimat syahadat di atas sinarnya. Garis tengahnya adalah 3 sentimeter, bercahaya gemerlapan kekuning-kuningan.
Penghargaan tersebut bukan sekadar tanda jasa biasa. Tapi ia adalah satu-satunya Bintang Muhammadiyah yang pernah diberikan organisasi itu. Pemberian Bintang Muhammadiyah ini berdasarkan rapat PP Muhammadiyah pada 27 Februari 1965.
“… sehingga penganugerahan Bintang Muhammmdijah jang tak akan ada duanja ini, dapat terlaksana merupakan peristiwa gilang gemilang dalam sedjarah Muhammmadijah,” pidato Ketua (Umum) PP Muhammadiyah 1962-1965, KH A. Badawi.
Upacara penganugerahan berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, dan dipimpin langsung oleh K.H.A. Badawi. Dalam pidatonya, Badawi menegaskan bahwa penghargaan tersebut memiliki makna yang sangat istimewa. Bintang Muhammadiyah diberikan kepada seorang anggota setia Muhammadiyah yang dinilai memiliki jasa besar bagi gerakan pembaruan Islam.
Momentum penganugerahan itu juga bertepatan dengan peringatan 54 tahun berdirinya Muhammadiyah, organisasi yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 H. Penghargaan itu merupakan peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan Muhammadiyah. Bintang Muhammadiyah yang dianugerahkan kepada Soekarno sebagai penghargaan yang “tak akan ada duanya”.
Badawi menjelaskan bahwa penghargaan itu diberikan karena jasa-jasa Soekarno terhadap Muhammadiyah, gerakan tajdid, serta upaya menghidupkan kembali semangat Islam di tengah masyarakat. Jasa-jasa tersebut, menurutnya, bahkan tidak dapat diukur dengan nilai apa pun.
“Jasanya kepada Muhammadiyah dan gerakan tajdid serta penggalian api Islam benar-benar tidak dapat dinilai dengan apa pun juga,” katanya.
Lebih jauh, Badawi menegaskan bahwa Bintang Muhammadiyah bukan sekadar simbol penghormatan. Penghargaan itu merupakan lambang kesetiaan terhadap cita-cita perjuangan Islam sekaligus penghargaan tertinggi dari manusia kepada sesama manusia yang memiliki tujuan dan semangat yang sama.
“Kami percaya bahwa anggota setia ini bersama-sama umat tauhid akan mampu memimpin umat sebagaimana layaknya pahlawan Islam dan kemerdekaan,” ujar Badawi.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Soekarno menyampaikan pidato balasan yang sarat dengan kenangan pribadi. Ia mengaku sangat terharu menerima penghargaan yang disebut sebagai satu-satunya Bintang Muhammadiyah.
Menurut Soekarno, penghargaan itu memiliki nilai emosional yang mendalam. Sebab, mengingatkannya kepada sosok pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, yang pernah ditemuinya ketika masih remaja.
Soekarno menceritakan bahwa pertemuan pertamanya dengan Ahmad Dahlan terjadi di Surabaya. Saat dirinya masih menjadi pelajar HBS. Pada masa itu, ia tinggal di rumah tokoh pergerakan nasional H.O.S. Tjokroaminoto. Di sinilah Soekarno muda berkesempatan bertemu dengan berbagai tokoh besar pergerakan Indonesia.
Sebagai pemuda yang memiliki minat besar terhadap politik dan kehidupan masyarakat, Soekarno sering mengikuti pembicaraan para tokoh itu. Dari berbagai diskusi yang didengarnya, ia mengaku sangat tertarik pada gagasan Ahmad Dahlan mengenai kebangkitan Islam.
Ketertarikan Soekarno terhadap pemikiran Ahmad Dahlan tidak berhenti pada pertemuan-pertemuan di rumah Tjokroaminoto. Ia bahkan mengaku sering mengikuti perjalanan dakwah Ahmad Dahlan di berbagai kawasan Surabaya.
Beberapa lokasi yang disebut Soekarno antara lain Bubutan, Peneleh, Kapasari, dan Ampel. Ia sengaja mengikuti tabligh Ahmad Dahlan agar dapat memahami lebih mendalam gagasan tentang kebangkitan Islam yang disampaikan pendiri Muhammadiyah tersebut.
“Pada waktu K.H.A. Dahlan mengadakan tabligh di Bubutan, Peneleh, Kapasari, Ngampel, saya diizinkan ngintil, supaya saya lebih jelas menerima uraian-uraian beliau tentang revival of Islam,” ujar Bung Karno.
Dalam pidatonya, Soekarno juga menghubungkan penghargaan yang diterimanya dengan perjalanan panjang perjuangan bangsa Indonesia. Ia mengaku bahwa semangat kebangkitan Islam yang diajarkan Ahmad Dahlan menjadi salah satu sumber inspirasi dalam perjuangannya melawan penjajahan.
“Islam bangun kembali dan duduk setaraf dengan yang lain-lain sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Muhammad SAW,” kata Soekarno.
Di akhir pidatonya, Presiden RI pertama itu menegaskan bahwa Bintang Muhammadiyah akan selalu dikenakannya sebagai simbol penghormatan terhadap Muhammadiyah dan ajaran Ahmad Dahlan.
“Bintang Muhammadiyah ini, insya Allah akan selalu saya pakai,” ujarnya. Ia kemudian mengajak seluruh umat Islam untuk terus berusaha menghidupkan kembali semangat kebangkitan Islam, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.
Hingga kini, peristiwa tersebut tetap dikenang sebagai momen istimewa. Sebab, sesuai pernyataan resmi Muhammadiyah saat itu, Bintang Muhammadiyah yang disematkan kepada Soekarno merupakan penghargaan yang “satu-satunya”. Dan, belum pernah lagi diberikan kepada tokoh lain.
Momen penting itu terjadi pada tanggal 10 April 1965, di Istana Merdeka Djakarta, tepat jam 11 siang. Ketua (Umum) PP Muhammadiyah K.H. A. Badawi beserta 45 dari PP dan Majelis-majelisnya, menyematkan Bintang Muhammadiyah di atas dada kanan Bung Karno. Diawali dengan kalimat Bismillahirrahmannirrahim, penyematan berjalan dalam suasana hidmat sunyi-senyap.





0 Tanggapan
Empty Comments