Ketika peserta didik hanya berorientasi pada pertanyaan, “Aku akan menjadi apa dan memperoleh gaji berapa?”, maka secara perlahan esensi pendidikan sebagaimana yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara berisiko terkikis oleh logika yang menempatkan keberhasilan terutama pada ukuran material. Pendidikan yang semestinya menjadi ruang untuk menuntun manusia menemukan dan mengembangkan dirinya justru dapat bergeser menjadi sekadar jalan menuju pekerjaan dan penghasilan.
Dewasa ini, ukuran keberhasilan seseorang semakin sering dikaitkan dengan pencapaian ekonomi. Tidak terkecuali generasi muda yang mulai diarahkan untuk mengejar pekerjaan pada sektor-sektor yang dianggap menjanjikan secara material, seperti industri, teknologi, teknik, dan berbagai bidang dengan penghasilan tinggi.
Persoalannya bukan terletak pada keinginan untuk memperoleh pekerjaan yang layak atau penghasilan yang baik. Persoalannya muncul ketika pilihan tersebut tidak lagi terutama didasarkan pada kemampuan, bakat, dan minat diri, melainkan karena pekerjaan tersebut dianggap mampu menghasilkan lebih banyak uang atau memberikan status sosial yang lebih tinggi.
Ketidakpastian ekonomi, persaingan dunia kerja, tuntutan produktivitas, serta gambaran keberhasilan yang terus hadir melalui media sosial turut memperkuat economic anxiety pada sebagian generasi muda. Mereka tidak hanya khawatir tidak memiliki pekerjaan, tetapi juga khawatir tertinggal dari orang lain. Usia, pekerjaan, penghasilan, kepemilikan barang, hingga pencapaian tertentu seakan menjadi ukuran untuk menentukan apakah seseorang telah berhasil dalam hidupnya.
Pertanyaan yang semestinya sederhana seperti “Apa yang ingin kamu lakukan?” perlahan dapat bergeser menjadi “Pekerjaan itu gajinya berapa?”
Fenomena tersebut tidak hanya dirasakan oleh generasi muda. Orang tua pun tidak jarang mengalami tekanan yang sama. Kekhawatiran terhadap masa depan anak kemudian melahirkan sebuah keyakinan: anak harus memilih pekerjaan yang memiliki gaji besar dan masa depan yang dianggap aman.
Keinginan orang tua tentu tidak selalu lahir dari ambisi material. Sering kali, di balik tuntutan tersebut terdapat bentuk kasih sayang dan kekhawatiran agar anak memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, persoalan muncul ketika keinginan untuk memberikan masa depan yang baik berubah menjadi tuntutan untuk memilih jalan hidup tertentu, bahkan ketika jalan tersebut tidak sesuai dengan kemampuan dan minat anak.
Pada titik inilah pendidikan menghadapi persoalan yang lebih mendasar. Apakah pendidikan masih menjadi ruang untuk membantu manusia menemukan dirinya, atau justru semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar? Orientasi tersebut kemudian dapat masuk ke ruang kelas.
Peserta didik menjadi semakin berorientasi pada nilai, bukan pada proses memahami. Belajar dilakukan untuk memperoleh angka, bukan untuk memperoleh pemahaman. Pengetahuan dipelajari untuk menjawab soal, bukan untuk memahami kehidupan.
Bahkan pemikiran Ki Hajar Dewantara sendiri tidak jarang hanya berhenti sebagai hafalan untuk menyelesaikan tugas dan memperoleh nilai.
Peserta didik mungkin mampu menyebutkan dengan lancar Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, tetapi apakah mereka benar-benar memahami maknanya?
Tulisan “Tut Wuri Handayani” begitu mudah ditemukan di lingkungan sekolah. Namun, persoalannya bukan lagi apakah tulisan tersebut ada atau tidak.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Apakah nilai yang terkandung di dalamnya benar-benar hidup dalam praktik pendidikan?
Tut Wuri Handayani seharusnya tidak berhenti sebagai semboyan yang tertempel di dinding. Nilai yang terkandung di dalamnya perlu hadir dalam cara guru memperlakukan peserta didik, dalam cara sekolah membangun lingkungan belajar, dan dalam cara peserta didik belajar menghargai manusia lain.
Sebab, pendidikan dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan. Pendidikan berkaitan dengan proses menuntun tumbuhnya manusia secara utuh, termasuk pembentukan budi pekerti.
Di sinilah persoalan pendidikan menjadi semakin kompleks.
Ketika keberhasilan pendidikan terlalu banyak diukur melalui nilai, prestasi, kompetensi, dan kesiapan memasuki dunia kerja, dimensi kemanusiaan berisiko semakin terpinggirkan.
Sekolah memang perlu mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia kerja. Namun, kesiapan bekerja tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan pendidikan.
Jika tidak, sekolah dapat berubah menjadi semacam miniatur pabrik: menghasilkan manusia yang kompeten, produktif, dan siap bekerja, tetapi belum tentu memiliki kepekaan terhadap manusia di sekitarnya.
Fenomena economic anxiety juga dapat berkelindan dengan munculnya kecenderungan individualistis. Ketika manusia terus didorong untuk mengejar pencapaian pribadi, perhatian terhadap lingkungan sosial dapat berkurang.
Peserta didik dapat menjadi semakin sibuk dengan dirinya sendiri: mengejar nilai, mengejar prestasi, mengejar pengakuan, dan pada akhirnya mengejar keberhasilan yang diukur secara material.
Tentu, tidak setiap peserta didik yang berorientasi pada pencapaian ekonomi akan kehilangan empati. Namun, ketika keberhasilan terus-menerus dipahami melalui ukuran individual dan material, terdapat risiko bahwa keberhasilan personal menjadi lebih penting daripada kebermanfaatan sosial. Akibatnya, interaksi sosial pun dapat mengalami perubahan.
Peserta didik dapat berada dalam satu ruang dengan banyak manusia, tetapi tidak benar-benar hadir sebagai bagian dari lingkungan sosialnya. Teknologi memang membuat manusia semakin mudah terhubung, tetapi keterhubungan digital tidak selalu melahirkan kedekatan sosial.
Kita dapat terhubung dengan ratusan orang melalui layar, tetapi pada saat yang sama menjadi semakin asing dengan manusia yang berdiri beberapa meter di depan kita.
Menyapa guru, berbicara dengan teman, menghargai karyawan sekolah, menyapa petugas kebersihan, atau sekadar mengucapkan terima kasih kepada satpam sekolah merupakan tindakan sederhana.
Namun, tindakan-tindakan sederhana tersebut sesungguhnya merupakan bagian dari pendidikan tentang bagaimana menjadi manusia. Persoalannya kemudian bukan hanya tentang sikap acuh tak acuh. Lebih jauh, terdapat persoalan mengenai empati.
Ketika peserta didik terbiasa melihat segala sesuatu terutama berdasarkan kepentingan dirinya sendiri, kepekaan terhadap kondisi orang lain dapat berkurang. Padahal, empati merupakan salah satu fondasi penting dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Lantas, apakah pendidikan harus berhenti pada kemampuan peserta didik untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah? Menurut saya, tidak.
Peserta didik tidak cukup hanya diberitahu bahwa suatu tindakan benar atau salah. Mereka perlu diajak berpikir mengapa sesuatu dianggap benar, merasakan dampaknya terhadap manusia lain, kemudian memiliki kesadaran untuk bertindak berdasarkan pemahaman tersebut.
Di sinilah pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai Cipta, Rasa, dan Karsa menjadi relevan untuk dibaca kembali.
Cipta: Pendidikan yang Mengajarkan Manusia untuk Berpikir
Cipta dapat dipahami sebagai kemampuan untuk berpikir dan memahami. Pendidikan seharusnya tidak menjadikan peserta didik sebagai penerima informasi yang hanya menelan mentah-mentah apa yang disampaikan oleh guru.
Guru memang memiliki peran penting dalam menyalurkan ilmu, tetapi peserta didik harus memiliki ruang untuk mengolah ilmu tersebut menjadi pemahaman. Ketika peserta didik hanya menghafal materi untuk memperoleh nilai, pendidikan dapat kehilangan salah satu fungsi pentingnya sebagai proses pengembangan kemampuan berpikir.
Hafalan bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Namun, hafalan yang tidak disertai pemahaman hanya akan menghasilkan pengetahuan yang mudah hilang. Karena itu, peserta didik tidak harus dipaksa menghafalkan seluruh materi dengan cepat tanpa memahami maknanya. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka mampu mengolah informasi, mempertanyakan, menghubungkan, dan memahami apa yang sedang dipelajari. Ketika proses berpikir berjalan, pemahaman akan tumbuh.
Peserta didik tidak lagi belajar semata-mata karena takut mendapatkan nilai rendah, tetapi karena memahami mengapa sesuatu perlu dipelajari. Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala peserta didik. Pendidikan harus memberi ruang bagi manusia untuk berpikir dengan pikirannya sendiri.
Rasa: Pendidikan yang Mengajarkan Manusia untuk Peduli
Setelah berpikir, manusia perlu merasakan.
Rasa berkaitan dengan kepekaan, empati, dan penghayatan. Pendidikan tidak seharusnya menjadikan setiap mata pelajaran hanya sebagai kumpulan teori yang selesai ketika ujian berakhir. Setiap pengetahuan sebenarnya memiliki hubungan dengan kehidupan manusia.
Guru dapat mengajak peserta didik melihat bagaimana sebuah konsep hadir dalam lingkungan di sekitar mereka. Peserta didik tidak hanya diberitahu bahwa sesuatu benar atau salah, tetapi juga diajak memahami mengapa sesuatu dianggap benar, mengapa sesuatu dianggap salah, dan siapa yang mungkin terdampak dari suatu tindakan.
Ketika pembelajaran memiliki ruang untuk kepekaan dan penghayatan, peserta didik tidak hanya mengetahui sebuah persoalan, tetapi mulai memahami manusia yang berada di balik persoalan tersebut.
Di sinilah pendidikan mulai menyentuh sisi kemanusiaan. Hati yang sebelumnya terbiasa melihat segala sesuatu hanya berdasarkan nilai dan pencapaian dapat perlahan dilatih untuk melihat manusia lain. Dari kepekaan lahir empati. Dari empati lahir penghayatan. Dan dari penghayatan, manusia dapat mulai memahami bahwa kehidupan tidak hanya berisi tentang dirinya sendiri.
Karsa: Pendidikan yang Mengajarkan Manusia untuk Bertindak
Namun, berpikir dan merasakan saja belum cukup.
Karsa merupakan kehendak atau dorongan untuk bertindak. Dalam konteks pendidikan, karsa dapat dilihat sebagai kemampuan untuk menerjemahkan apa yang telah dipahami dan dirasakan ke dalam tindakan nyata. Di sinilah kesadaran menjadi penting.
Peserta didik yang memiliki kesadaran tidak selalu membutuhkan teguran untuk melakukan sesuatu yang benar. Ia melakukan sesuatu bukan semata-mata karena takut dimarahi, tetapi karena memahami alasan mengapa tindakan tersebut perlu dilakukan. Sayangnya, dalam praktik pendidikan, kita terkadang lebih sibuk menangani gejala daripada mencari akar masalah.
Peserta didik membantah guru, kemudian dimarahi. Peserta didik melakukan kesalahan, kemudian dihukum. Peserta didik tidak menyapa guru, kemudian dianggap tidak memiliki sopan santun. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah:
Mengapa perilaku tersebut muncul?
Teguran mungkin dapat menghentikan perilaku untuk sementara. Namun, belum tentu membentuk kesadaran. Pendidikan seharusnya tidak hanya membuat peserta didik takut melakukan kesalahan, tetapi membuat mereka memahami mengapa sebuah tindakan salah dan memiliki kesadaran untuk memilih tindakan yang benar.
Di sinilah Cipta, Rasa, dan Karsa seharusnya berjalan bersama.
Cipta tanpa rasa dapat menghasilkan manusia yang pintar tetapi tidak peka.
Rasa tanpa karsa dapat menghasilkan manusia yang mampu berempati tetapi tidak bergerak.
Sementara karsa tanpa cipta dapat menghasilkan tindakan tanpa pemahaman yang matang.
Ketiganya perlu berjalan secara utuh agar pendidikan benar-benar mampu membentuk manusia yang berpikir, memiliki kepekaan, dan mampu bertindak secara beradab.
Mengembalikan Pendidikan kepada Manusia
Pada akhirnya, mengembalikan pendidikan kepada pemikiran Ki Hajar Dewantara bukan berarti menolak kebutuhan peserta didik untuk memiliki pekerjaan, memperoleh penghasilan, ataupun memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Semua itu tetap penting.
Anak muda berhak memiliki cita-cita untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Orang tua juga berhak berharap anaknya memiliki kehidupan yang aman dan sejahtera. Namun, manusia tidak boleh direduksi menjadi sekadar tenaga kerja. Pekerjaan adalah bagian dari kehidupan manusia, tetapi bukan keseluruhan makna manusia.
Pendidikan tidak boleh hanya bertanya:
“Kamu nanti mau bekerja sebagai apa?”
Pendidikan juga harus berani bertanya:
“Kamu ingin menjadi manusia seperti apa?”
Sebab ketika pendidikan hanya menghasilkan manusia yang mampu bekerja tetapi tidak mampu memahami manusia lain, kita mungkin berhasil mencetak tenaga kerja, tetapi belum tentu berhasil membentuk manusia.
Ki Hajar Dewantara telah meletakkan pendidikan sebagai proses menuntun manusia. Maka, di tengah perkembangan teknologi, globalisasi, persaingan ekonomi, dan tuntutan produktivitas yang semakin tinggi, pendidikan justru harus semakin kuat menjaga dimensi kemanusiaannya.
Sekolah bukan pabrik yang hanya memproduksi lulusan sesuai kebutuhan pasar.
Sekolah adalah ruang untuk menumbuhkan manusia.
Manusia yang mampu berpikir melalui Cipta.
Manusia yang mampu merasakan melalui Rasa.
Dan manusia yang mampu bertindak melalui Karsa.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang berapa banyak manusia yang berhasil mendapatkan pekerjaan, tetapi juga tentang berapa banyak manusia yang setelah mendapatkan pendidikan mampu tetap menjadi manusia bagi manusia lainnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments