Amal usaha Muhammadiyah bidang pendidikan sampai saat ini terus mempertahankan eksistensinya. Di tengah gelombang disrupsi yang tiada henti, persyarikatan terus berupaya mempertahankan, mengembangkan, dan memajukan AUM pendidikan.
Berbagai strategi terus dilakukan. Persyarikatan mengintensifkan pelatihan dan pembinaan.
Muhammadiyah juga terus membenahi sarana dan prasarana sesuai kemampuan yang dimiliki. Pemenuhan kebutuhan tersebut ditempuh melalui berbagai pintu sepanjang tetap halal, legal, dan prosedural.
Sebagian di antaranya mendapatkan berkah dari program revitalisasi Kemendikdasmen. Program tersebut berhasil menyelamatkan banyak sekolah Muhammadiyah, meskipun masih banyak sekolah yang menghadapi keterbatasan sarana, prasarana, dan fasilitas.
Banyak sekolah Muhammadiyah mengalami perkembangan pesat dan mampu bersaing dengan sekolah negeri maupun swasta lainnya. Di era kompetisi yang semakin ketat, sekolah Muhammadiyah bahkan mulai merambah ke luar negeri.
Tercatat, misalnya, Muhammadiyah mendirikan Muhammadiyah Australia College yang berlokasi di Melbourne, Victoria. Sekolah ini menyediakan pendidikan mulai tingkat TK hingga tingkat dasar dengan menggabungkan kurikulum setempat dan pendidikan karakter.
Di Mesir, Muhammadiyah mendirikan TK ABA yang diperuntukkan bagi anak-anak diaspora Indonesia dan masyarakat setempat. Begitu pula di Malaysia, Muhammadiyah tidak hanya mendirikan perguruan tinggi, tetapi juga unit layanan TK untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak pekerja migran.
Universiti Muhammadiyah Malaysia yang berlokasi di Padang Besar, Perlis menawarkan program pendidikan mulai jenjang S1 hingga doktoral.
Ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah berdiri gagah di seluruh Indonesia, mulai dari PAUD/TK yang mencapai sekitar 23.000-an lembaga. Jumlah tersebut juga mencakup SD/MI sebanyak 2.689 lembaga, SMP/MTs sebanyak 1.734 lembaga, SMA/MA/SMK sebanyak 1.322 lembaga, pondok pesantren sebanyak 444 lembaga, hingga 177 PTMA (SBMPTMU).
Jumlah tersebut menjadi capaian yang sulit tersaingi organisasi masyarakat manapun di dunia. Di Jawa Timur sendiri terdapat tidak kurang dari 1.984 unit pendidikan yang mencakup TK, SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, MA, 5 unit SLB, dan 23 PTMA.
Dari jumlah tersebut, Jawa Timur memiliki 1.034 jenjang pendidikan mulai SD/MI hingga SMP-SMA.
Sekolah Sehat dan Sakit
Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PP Muhammadiyah menggunakan sistem klaster untuk mengategorikan kondisi sekolah berdasarkan jumlah murid.
Sistem tersebut membagi sekolah menjadi kategori sehat, rawat jalan, rawat inap, dan UGD. Sekolah masuk kategori sehat jika memiliki jumlah murid di atas 600 siswa.
Sekolah dengan jumlah murid 400–599 masuk kategori rawat jalan. Sekolah dengan jumlah murid 100–399 masuk kategori rawat inap, sedangkan sekolah dengan jumlah murid di bawah 100 masuk kategori UGD.
Dari 5.346 sekolah Muhammadiyah jenjang SD/MI hingga SMA/MA/SMK, sebanyak 3.324 sekolah atau 62 persen masuk klaster sakit, baik rawat jalan maupun rawat inap. Sementara itu, sebanyak 2.022 sekolah atau 38 persen masuk klaster UGD.
Klaster tersebut menunjukkan bahwa jumlah sekolah Muhammadiyah yang masuk kategori UGD tergolong sangat tinggi. Sebagian besar dari 62 persen sekolah tersebut masih menjalani kondisi rawat inap dan rawat jalan.
Sekolah dalam klaster tersebut tentu harus berjuang keras, bahkan mati-matian, terutama sekolah yang masuk kategori UGD sebesar 38 persen. Hidup dan matinya sekolah swasta seperti Muhammadiyah sangat ditentukan oleh jumlah murid, bukan hanya manhaj apalagi pimpinan PDM dan majelis dikdasmennya.
Tanpa murid, sekolah tidak memiliki pemasukan yang berarti sehingga tidak memiliki biaya operasional yang memadai. Tidak ada fresh money dalam persyarikatan, termasuk konglomerat yang siap menanggung seluruh kebutuhan tersebut.
Hibah tambang tidak dapat menjadi sandaran. Mengandalkan BOS saja tidak akan cukup karena biaya pendidikan jauh lebih besar daripada sekadar dana BOS.
Pimpinan PDM dan majelis dikdasmen harus mengusahakan berbagai cara dan strategi agar sekolah tetap bertahan dan tidak mengalami kematian.
Perjuangan tersebut tidak cukup dilakukan sekali dalam setahun menjelang tahun ajaran baru. Upaya mempertahankan sekolah harus berlangsung sepanjang tahun selama kehidupan sekolah dan proses pembelajaran berjalan.
Mengandalkan kelangsungan hidup sekolah hanya dengan mencari murid baru saat pergantian tahun pelajaran sama saja dengan menunggu kematian.





0 Tanggapan
Empty Comments