Kondisi ini jelas menjadi alarm keras bagi masa depan sekolah Muhammadiyah. Kondisi tersebut tidak boleh dianggap hanya sebagai penurunan tren, melainkan harus dipahami sebagai krisis eksistensial.
Daya pikat sekolah Muhammadiyah mengalami penurunan. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh daerah.
Sebagian kondisi tersebut disebabkan oleh faktor kepemimpinan dan kualitas guru. Sebagian lainnya dipengaruhi faktor finansial, keterbatasan sarana prasarana, serta dampak kebijakan pemerintah yang menerapkan sistem zonasi.
Sebagian besar persoalan tersebut juga muncul karena terjadinya stagnasi inovasi. Sekolah Muhammadiyah perlu melakukan pembaruan agar tetap relevan dengan perubahan zaman.
Pakar manajemen dan pendidikan Rhenald Kasali menyebut lembaga pendidikan yang mengalami kebuntuan inovasi sering kali terjebak pada nama besar masa lalu. Mereka terlalu nyaman dengan kondisi yang ada hingga tanpa sadar mengalami Brand Obsolescence atau keusangan merek.
Padahal, di sekitar mereka telah bermunculan sekolah swasta baru dengan berbagai branding menarik seperti sekolah alam, sekolah Islam terpadu, entrepreneurship, dan berbagai konsep lain yang menawarkan metode belajar adaptif serta modern. Sekolah Muhammadiyah gagal memosisikan dirinya sebagai alternatif high value karena masih mengandalkan metode konvensional dan fasilitas yang seadanya.
Tindakan Darurat
Fenomena sekolah Muhammadiyah yang masuk klaster rawat inap, rawat jalan, dan UGD tidak dapat dibiarkan begitu saja. Majelis Dikdasmen wajib melakukan treatment berdasarkan kondisi setiap klaster.
Setiap klaster membutuhkan terapi sesuai hasil diagnosisnya. Sekolah tidak dapat menggunakan obat yang sama untuk semua kondisi.
Klaster dengan jumlah murid kurang dari 100 anak harus mendapatkan tindakan darurat dan radikal. Ibaratnya, sekolah tersebut sudah mengalami kekurangan oksigen dan menuju kehabisan napas secara finansial.
Dana BOS tidak mampu memenuhi kebutuhan operasional sekolah. Sementara itu, sumbangan infak syahriyah dari murid juga belum mampu mengatasi kekurangan biaya.
Alternatif yang dapat dipertimbangkan antara lain merger atau re-branding secara radikal. PDM dan majelis dikdasmen daerah tentu lebih memahami situasi serta kemampuan masing-masing sekolah.
Merger dapat menjadi pilihan apabila dalam satu PCM terdapat beberapa sekolah Muhammadiyah yang sama-sama mengalami kondisi kritis.
Tindakan berani memang harus dilakukan apabila tidak ingin sekolah tersebut berhenti beroperasi. Salah satu alternatifnya, Dikdasmen melakukan rebranding sekaligus menyatukan aset, memilih guru terbaik, dan mengelola murid dalam satu manajemen yang kuat.
Melalui manajemen baru tersebut, sekolah dapat mengubah wajahnya dengan menghadirkan keunggulan yang lebih spesifik. Konsep, paradigma kurikulum, dan program sekolah perlu diubah secara total agar melahirkan merek dan tagline yang benar-benar baru.
Klaster rawat inap dan rawat jalan dengan jumlah murid 100 anak perlu menjalani proses revitalisasi dan stabilisasi. Sekolah dalam klaster ini memang rentan, tetapi masih memiliki daya tahan untuk bertahan hidup.
Jika sekolah tidak segera mendapatkan treatment yang tepat, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi UGD. Penanganannya dapat dimulai melalui restrukturisasi.
Sekolah perlu melakukan perubahan kepemimpinan, pembenahan kurikulum, penguatan program, peningkatan kinerja guru, serta menghidupkan kembali kegiatan ekstrakurikuler.
Pimpinan sekolah dapat menjalankan program yang relevan dengan kompetensi masa kini dan masa depan seperti coding, robotik, atau penguasaan bahasa asing secara intensif sebagai menu utama untuk menarik minat masyarakat perkotaan.
Pada saat yang sama, sekolah harus melakukan peningkatan kompetensi guru. Guru yang gagap teknologi, bahasa, maupun keterampilan model pembelajaran perlu mengikuti pelatihan ulang atau redistribusi sesuai kebutuhan.
Sekolah kategori rawat jalan dan rawat inap sering kali memiliki kelemahan dalam promosi dan publikasi. Padahal, kemampuan membangun citra publik menjadi faktor penting dalam memenangkan persaingan pendidikan.
Berani Menjual
Sekolah-sekolah maju memiliki tim media yang secara khusus bertugas menciptakan sistem digitalisasi manajemen dan pemasaran. Sekolah mengoptimalkan media sosial dan membuat konten kreatif tentang berbagai kegiatan murid, guru, serta prestasi yang membanggakan.
Konten tersebut dapat diunggah secara berkala melalui media sosial. Media sosial mampu mengubah persepsi publik dan membangun persepsi baru berdasarkan apa yang masyarakat lihat melalui platform digital.
Pimpinan sekolah harus mampu “menjual” sekolah kepada masyarakat dengan mengadopsi prinsip-prinsip manajemen pemasaran. Sekolah tidak cukup hanya memiliki kualitas, tetapi juga harus mampu mengomunikasikan kualitas tersebut.
Mulyana dalam Strategi Peningkatan Mutu dan Daya Saing Sekolah (2018) mendorong sekolah agar tidak alergi dengan istilah pemasaran. Menurutnya, kepala sekolah merupakan manajer strategi yang harus memahami kebutuhan pasar, yaitu orang tua murid.
Sekolah harus mampu membangun kepuasan pelanggan melalui strategi pemasaran produk unggulan. Pendidikan perlu memahami bahwa orang tua memiliki pertimbangan rasional dalam memilih sekolah.
Masyarakat saat ini memiliki kesadaran kritis terhadap biaya hidup (cost consciousness). Setiap rupiah yang dikeluarkan menuntut adanya jaminan manfaat.
Setiap produk memiliki kualitas, dan setiap kualitas memiliki harga. Orang tua akan membayar berapa pun biaya yang dibutuhkan sepanjang apa yang diperoleh anaknya sepadan (worth it) dengan biaya yang dikeluarkan.
Sekolah Muhammadiyah harus berani mendefinisikan ulang dirinya sendiri. Dalam dunia yang terus berubah, redefinisi menjadi bagian dari sikap responsif dan proses adaptif untuk membedakan diri dari sekolah swasta lainnya.
Jika nilai pembeda tersebut hadir dan dapat dibuktikan kepada masyarakat, maka masyarakat akan percaya. Mereka akan kembali melihat sekolah Muhammadiyah sebagai pilihan.
Nilai pembeda merupakan bentuk diferensiasi yang menurut Caldwell dan H. Spinks (2015) menjadi faktor yang mampu mempertahankan sebuah produk maupun sekolah, bukan melalui harga murah, tetapi melalui pembeda yang jelas dan bernilai.***





0 Tanggapan
Empty Comments