Prestasi membanggakan diraih Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Bondowoso dalam ajang Samara Course (Pelatihan Sakinah Mawaddah) yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur. Dua kader terbaiknya berhasil meraih penghargaan pada pelatihan yang berlangsung selama tiga hari Jumat-Ahad (26–28/6/2026), di Balai Pelatihan RS Muhammadiyah Lamongan. Capaian tersebut menjadi bekal penting bagi kader Nasyiatul Aisyiyah dalam memperkuat edukasi ketahanan keluarga di tengah masyarakat.
Pada kegiatan tersebut, Siti Qomariah meraih predikat Peserta Terbaik I, sedangkan Hijrotul Ilahiyah memperoleh predikat Peserta Terbaik III. Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi PDNA Bondowoso sekaligus mencerminkan upaya kader Nasyiatul Aisyiyah untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui program pembinaan yang diselenggarakan Persyarikatan.
Samara Course merupakan program pembinaan keluarga muda yang diinisiasi Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. Program ini bertujuan mencetak kader yang memiliki kompetensi sebagai fasilitator bimbingan perkawinan.
Selama pelatihan, peserta memperoleh berbagai materi mengenai konsep keluarga sakinah berdasarkan tujuan syariat Islam (maqashid syariah), komunikasi efektif dalam rumah tangga, hak dan kewajiban suami istri, penyelesaian konflik keluarga, kesehatan keluarga, hingga teknik memfasilitasi bimbingan perkawinan.
Bagi Hijrotul Ilahiyah, Samara Course bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga kesempatan memperkuat kemampuan dalam mendampingi masyarakat membangun keluarga yang harmonis.
“Alhamdulillah, mengikuti Samara Course menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya tidak hanya memperoleh ilmu tentang bagaimana membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah sesuai tuntunan syariat Islam, tetapi juga dibekali keterampilan sebagai fasilitator bimbingan perkawinan. Penghargaan ini menjadi amanah sekaligus motivasi untuk terus belajar, berbagi ilmu, dan mengimplementasikan materi yang telah diperoleh agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.”
Menurut Hijrotul, materi yang diperoleh selama pelatihan memiliki relevansi dengan kondisi sosial di Kabupaten Bondowoso. Berdasarkan data Pengadilan Agama Bondowoso, sepanjang Januari hingga Mei 2026 tercatat 943 perkara perceraian yang telah diputus. Berbagai faktor, seperti persoalan ekonomi, kurangnya komunikasi dalam rumah tangga, serta hadirnya pihak ketiga, disebut menjadi penyebab tingginya angka perceraian tersebut.
Ia menilai Samara Course menjadi salah satu ikhtiar yang dapat memperkuat upaya pencegahan persoalan keluarga melalui edukasi kepada masyarakat.
“Melihat tingginya angka perceraian di Bondowoso, saya merasa Samara Course menjadi salah satu ikhtiar yang sangat penting. Program ini sejalan dengan komitmen Nasyiatul Aisyiyah dalam mempersiapkan kader-kader perempuan muda yang memiliki kompetensi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.”
Hijrotul berharap semakin banyak calon pengantin maupun pasangan suami istri yang memperoleh bekal pengetahuan dan pendampingan sehingga mampu membangun keluarga yang kokoh, harmonis, serta secara bertahap berkontribusi menekan angka perceraian di Bondowoso.
Semangat tersebut sejalan dengan komitmen PDNA Bondowoso yang mengusung tagline SAT SET (Sigap, Adaptif, Tangguh, Sinergis, Edukatif, dan Terdepan) serta visi PWNA Jawa Timur untuk mencetak kader perempuan muda yang berdaya, berilmu, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Prestasi yang diraih Siti Qomariah dan Hijrotul Ilahiyah menunjukkan bahwa kader Nasyiatul Aisyiyah tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga terus mengembangkan kompetensi melalui berbagai program kaderisasi. Ilmu yang diperoleh dari Samara Course diharapkan dapat diimplementasikan melalui edukasi dan pendampingan kepada calon pengantin maupun pasangan suami istri sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga di masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments