Tawa dan sorak-sorai siswa terdengar di halaman SD Muhammadiyah 2 Tulangan saat mereka mengikuti lomba dalam rangka menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu-Kamis (12-13/8/2026). Di antara keriuhan itu, siswa tipikal dan peserta didik penyandang disabilitas (PDPD) berbaur mengikuti perlombaan dalam suasana ceria dan penuh kebersamaan.
Salah satu lomba yang menarik perhatian adalah mengisi air ke dalam botol menggunakan spons. Permainan sederhana ini dilakukan secara estafet. Peserta mencelupkan spons ke dalam wadah berisi air, kemudian memberikannya kepada teman di samping hingga sampai kepada peserta terakhir. Spons kemudian diperas ke dalam botol yang telah disiapkan. Proses tersebut dilakukan berulang hingga waktu yang ditentukan berakhir.
Sekilas, lomba ini tampak sederhana. Namun, bagi anak-anak, setiap tahap menjadi pengalaman tersendiri. Ada yang bergerak cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Setiap peserta pun menyesuaikan cara memegang, membawa, dan memeras spons sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Kami ingin semua anak bisa ikut merasakan kemeriahan HUT Kemerdekaan. Karena itu, lombanya dibuat sederhana dan memungkinkan setiap anak berpartisipasi sesuai kemampuannya,” ungkap U’un Mas’ulah, M.Pd., penanggung jawab lomba kelas 1-3.
Partisipasi dan Selesaikan Tantangan
Pernyataan tersebut terlihat dalam pelaksanaan lomba. Tidak ada tuntutan semua anak harus melakukan permainan dengan cara yang sama. Setiap peserta diberi kesempatan untuk mencoba, berpartisipasi, dan menyelesaikan tantangannya.
Sorak-sorai teman menjadi bagian yang tidak kalah menarik. Ketika seorang peserta mengalami kesulitan, dukungan teman dan guru membuatnya kembali bersemangat. Ketika air berhasil masuk ke dalam botol, tepuk tangan pun terdengar. Kegembiraan hadir tanpa membedakan siapa yang paling cepat dan siapa yang belum berhasil.
Fasha, siswa kelas 2 Rose, salah satu peserta didik inklusi mengaku senang mengikuti lomba hingga babak final mewakili kelasnya.
“Senang,” ujarnya kepada kontributor saat ditanya perasaannya mengikuti lomba di sekolah.
Bagi sekolah inklusif, kegiatan seperti ini menjadi lebih dari sekadar perlombaan. Anak tipikal dan PDPD mendapatkan ruang yang sama untuk bermain, berinteraksi, dan merasakan kegembiraan dalam satu kegiatan.
Perbedaan kemampuan tidak menjadi alasan untuk memisahkan. Sebaliknya, perbedaan menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar memahami, mendukung, dan menghargai satu sama lain.
Lomba mengisi air menggunakan spons mungkin hanya berlangsung dalam waktu singkat. Namun, pengalaman yang tercipta dapat meninggalkan pesan yang lebih panjang. Anak-anak belajar bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, tetapi semuanya tetap memiliki kesempatan untuk berkontribusi.
Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Kemerdekaan adalah ketika setiap anak dapat berkata, “Aku juga ikut merayakannya”.
Di antara spons, botol, air, tawa, dan tepuk tangan itu, mereka belajar satu hal sederhana: tidak harus sama untuk dapat bersama. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments