Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tercatat sebagai salah satu tokoh yang paling banyak menerima gelar doktor kehormatan atau Doctor Honoris Causa (Dr. HC). Sepanjang hidupnya, ia memperoleh 26 gelar doktor kehormatan dari berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar negeri.
Dari total 26 gelar kehormatan tersebut, 7 di antaranya berasal dari institusi pendidikan di tanah air. Satu di antara ketujuhnya itu terdapat catatan sejarah yang unik dan monumental. Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta yang memberikan gelar doktor kehormatan kepada Soekarno.
Kampus yang kini dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah terbesar di Indonesia itu menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada Soekarno pada 3 Agustus 1965. Dalam piagam resmi yang dikeluarkan Universitas Muhammadiyah, Soekarno disebut dengan berbagai gelar kehormatan.
“Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi, Pahlawan Islam dan Kemerdekaan serta Anggota Setia Muhammadiyah,” begitu bunyi Piagam itu.
Yang menarik, gelar yang diberikan bukan dalam bidang politik, kenegaraan, hukum, atau perjuangan kemerdekaan. Melainkan dalam bidang “Falsafah Ilmu Tauhid”.
Dalam piagam tersebut dijelaskan bahwa rektor dan senat Universitas Muhammadiyah, setelah mempelajari alasan dan bukti yang diajukan promotor, berkeyakinan bahwa Soekarno memiliki pemahaman, perasaan, dan keahlian yang sangat tinggi dalam bidang tersebut.
“… lahir pada tanggal enam Djuni seribu sembilanratus satu – di Surabaja, Indonesia, memiliki pengertian, perasaan dan keahlian jang sungguh² tinggi mutunja dalam lapangan: Falsafah Ilmu Tauhid,” begitu bunyi Piagam yang diawali dengan kata Basmallah itu.
Penilaian itu didasarkan pada gagasan-gagasan, karya-karya, tindakan, serta amal perbuatan Soekarno yang dinilai mencerminkan pemikiran mendalam mengenai ketuhanan. Karena alasan itu, berdasarkan ketentuan Pasal 19 Ayat 1 Huruf b Kaidah Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi, Universitas Muhammadiyah mengambil keputusan penting.
“… memutuskan menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa dalam Falsafah Ilmu Tauhid kepada Soekarno Gelar Doctor Honoris Causa Dalam Falsafah Ilmu Tauhid dengan memberikan kepadanja segala hak dan kehormatan jang bertalian dengan gelar itu menurut undang-undang, peraturan-peraturan lain, adat istiadat dan kebiasaan.”
“Sebagai bukti dari penganugerahan tersebut, maka diberikan kepadanja Piagam ini jang ditanda tangani oleh Rektor dan Sekretaris Senat Universitas Muhammadiyah dan jang dibubuhi materai besar Universitas Muhammadiyah,” lanjut piagam.
Piagam penganugerahan itu diterbitkan di Jakarta pada 3 Agustus 1965 yang bertepatan dengan 5 Rabiulakhir 1385 Hijriah. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Rektor Universitas Muhammadiyah, Brigadir Jenderal TNI Sutjipto, SH, serta Sekretaris Senat, Drs. H. Saad Siswowidjojo.

Di Indonesia sendiri, hanya ada tujuh perguruan tinggi yang menganugerahkan gelar doktor kehormatan kepada Soekarno. Selain UMJ, enam lainnya merupakan perguruan tinggi negeri. Universitas pertama yang memberikan gelar tersebut adalah Universitas Gadjah Mada pada 19 September 1951.
Sementara PTN lainnya adalah Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 13 September 1962. Setelah itu ada Universitas Indonesia di Jakarta pada 2 Februari 1963, serta Universitas Hasanuddin Makassar pada 29 April 1963. Selanjutnya adalah IAIN Jakarta –sekarang UIN Syarif Hidayatullah– pada 2 Desember 1964, serta Universitas Padjajaran Bandung pada 23 Desember 1964.
Di antara seluruh gelar DR HC Soekarno, gelar dari UMJ memiliki tempat tersendiri dalam sejarah. Bukan hanya karena diberikan oleh satu-satunya perguruan tinggi swasta. Tapi bidang yang dipilih juga tidak umum. Yaitu Falsafah Ilmu Tauhid.
Karena itu, piagam tertanggal 3 Agustus 1965 tersebut bukan sekadar dokumen akademik biasa. Ia menjadi salah satu jejak sejarah yang merekam hubungan Soekarno dan Muhammadiyah. Sekaligus menandai penghargaan unik dari dunia pendidikan tinggi Indonesia kepada seorang tokoh yang memainkan peran sentral dalam lahir dan berdirinya Republik Indonesia.





0 Tanggapan
Empty Comments