Jalan menuju Universitas Al-Azhar tidak selalu mulus. Bagi Andhika Naufal Bagaskara, murid Boarding SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Sidoarjo, perjalanan itu justru dimulai dari keraguan.
Ia bukan berasal dari latar belakang pondok pesantren. Sesuatu yang sering dianggap sebagai kekurangan, justru ia ubah menjadi kekuatan. Dari titik itulah, tekadnya tumbuh. Pelan tapi pasti.
“Dalam proses ini, tidak ada yang instan. Butuh kedisiplinan, konsistensi, dan doa,” ungkapnya.
Rasa ragu dan pesimis sempat hadir. Bahkan, ia pernah merasa tertinggal dari teman-temannya. Namun, ia tidak memilih untuk berhenti. Justru dari perasaan itulah, ia menemukan energi untuk terus melangkah.
“Rasa ketidaktahuan itu yang membantu saya melawan rasa malas,” ujarnya.
Ditempa Proses, Dikuatkan Doa
Perjalanan Andhika bukan hanya tentang kerja keras pribadi. Ada doa orang tua dan keikhlasan guru yang terus mengiringi setiap langkahnya.
Di SMAMDA, ia merasakan pendidikan yang tidak sekadar mengajar, tetapi juga membersamai. Para guru tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga meluangkan waktu di luar jam belajar untuk membimbing secara intensif.
“Saya sangat bersyukur. Banyak guru yang rela mengorbankan waktu mereka demi masa depan saya,” tuturnya.
Proses itu tidak singkat. Berbulan-bulan ia ditempa. Menguatkan kemampuan bahasa Arab, melatih mental, dan membangun kesiapan dirimu menghadapi seleksi.
Hingga akhirnya, kabar yang dinanti pun datang. Andhika dinyatakan diterima di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Namun baginya, ini bukanlah akhir. Justru awal dari perjalanan yang lebih besar.
“Saya bersyukur dan bahagia. Tapi saya tidak ingin larut dalam eforia. Karena perjalanan ke depan pasti lebih besar dari ini,” katanya.
Mimpi, Ikhtiar, dan Keyakinan
Dari perjalanan itu, Andhika membawa satu pesan sederhana: jangan biarkan keraguan membatasi mimpi.
Ia percaya, kesempatan akan datang kepada mereka yang bersungguh-sungguh mempersiapkan diri.
“Jika saya bisa sampai di titik ini, maka teman-teman bisa lebih dari ini,” ucapnya.
Bagi Andhika, menuntut ilmu ke luar negeri—bahkan hingga ke Universitas Al-Azhar—bukanlah sesuatu yang mustahil.
“Selama Allah bersama kita, tidak ada yang tidak mungkin,” tutupnya.





0 Tanggapan
Empty Comments