Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Wakaf Musholla Putri Kedurus, Dari Inisiatif Dermawan hingga Jadi Pusat Keputrian

Iklan Landscape Smamda
Jejak Wakaf Musholla Putri Kedurus, Dari Inisiatif Dermawan hingga Jadi Pusat Keputrian
Musholla Putri yang bakal ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya Muhammadiyah. Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Agus Wahyudi

Sebuah bangunan sederhana berukuran 6 x 4 meter persegi di Dusun Kedurus, Desa Kepatihan RT 01 RW 04, Kecamatan Tulangan, menyimpan sejarah panjang gerakan dakwah perempuan Muhammadiyah.

Musala yang dikenal dengan nama Musholla Putri ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol kepedulian, wakaf, dan pemberdayaan perempuan sejak puluhan tahun silam.

Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Tulangan U’un Mas’ulah menuturkan, Musholla Putri berdiri di atas tanah milik Sukardi, yang dengan sukarela menyerahkan lahannya demi kepentingan umat.

“Awalnya, ada seorang pemborong bernama M. Ghozi, seorang keturunan Arab yang tinggal di Kenongo, mencari tanah untuk dibangun musholla,” ungkapnya kepada PWMU.CO, Selasa (5/5/2026).

Pencarian tersebut berbuah hasil ketika Sukardi menawarkan tanah miliknya. Tanpa ragu, pembangunan pun dimulai pada tahun 1981. Seluruh biaya pembangunan ditanggung sepenuhnya oleh M. Ghozi sebagai bentuk amal jariyah.

Setelah selesai dibangun, musala tersebut kemudian diserahkan oleh Sukardi kepada Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kedurus sebagai musala wakaf.

Pada masa itu, Dusun Kedurus sebenarnya telah memiliki tiga musala, terdiri dari dua musala wakaf dan satu musala milik keluarga.

Namun, di bawah kepemimpinan Ketua PRM Kedurus saat itu, M. Sulkan, muncul gagasan untuk memberikan identitas khusus pada musala baru tersebut.

“Akhirnya dinamai Musholla Putri, dengan harapan dapat menjadi tempat ibadah khusus perempuan sekaligus pusat kegiatan keputrian,” jelas U’un.

Seiring waktu, Musholla Putri tidak hanya digunakan untuk salat berjamaah bagi perempuan, tetapi juga berkembang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan pendidikan.

Berbagai kegiatan Aisyiyah digelar secara rutin, termasuk pembinaan keislaman bagi anak-anak melalui pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

SMPM 5 Pucang SBY

Bahkan, keberadaan musala ini turut mendukung aktivitas pendidikan Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TKA ABA) 2 Kedurus, yang memanfaatkan musala sebagai ruang pembelajaran nilai-nilai keislaman sejak dini.

Menariknya, meski telah berdiri lebih dari empat dekade, Musholla Putri tetap aktif difungsikan hingga kini.

Sekitar tiga tahun lalu, pihak keluarga kembali menegaskan komitmen wakafnya, sehingga keberadaan musholla semakin kokoh sebagai aset umat.

Sebagai bentuk penghargaan atas nilai sejarah dan peran strategisnya, Musholla Putri direncanakan akan diresmikan sebagai Bangunan Cagar Budaya Muhammadiyah.

Peresmian tersebut dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei 2016, bertepatan dengan kegiatan Tabligh Akbar Aisyiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sidoarjo.

Menjelang agenda tersebut, pada 9 Mei dilakukan kunjungan dari Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PDA Sidoarjo sebagai bagian dari proses penilaian dan verifikasi.

U’un menegaskan, Musholla Putri bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga warisan nilai.

“Ini adalah bukti nyata bagaimana sinergi antara dermawan, masyarakat, dan organisasi bisa melahirkan ruang ibadah yang berdampak luas, khususnya bagi perempuan dan generasi muda,” pungkasnya.

Kini, Musholla Putri tetap berdiri kokoh, menjadi saksi perjalanan dakwah Aisyiyah di Tulangan, sekaligus ruang tumbuhnya generasi muslimah yang berilmu, berakhlak, dan berdaya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 05/05/2026 15:03
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡