Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pertigaan Kecil Plampitan yang Menggerakkan Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Pertigaan Kecil Plampitan yang Menggerakkan Indonesia
Papan petunjuk Masjid Plampitan Surabaya. Foto: Agus Wahyudi/PWMU.CO.
Oleh : Muhkholidas

Menyusuri kawasan tua di tepian Kalimas, jejak sejarah Surabaya terasa hidup di setiap sudutnya. Ahad pagi, 3 Mei 2026, langkah kaki membawa kami memasuki sebuah gang dari Jalan Achmad Jais. Plampitan Gang VIII. Berikut perjalanan Muh Kholid AS yang membersamai Pemred Utama PWMU.CO Agus Wahyudi dan Pemred Klikmu.co Andi Hariyadi.

Dari luar, gang itu yang tampak sederhana. Namun menyimpan cerita besar tentang perjalanan bangsa Indonesia. Gang itu lurus memanjang hingga bertemu pada sebuah pertigaan. Persimpangan di gang yang sama, tapi ada jalan tembusan.

Di pertigaan inilah berdiri sebuah bangunan yang dikenal sebagai Masjid Plampitan. Sepintas, masjid ini tidak tampak istimewa. Ukurannya tidak besar, dan arsitekturnya pun sederhana. Namun, nilai historisnya jauh melampaui tampilan fisiknya.

Pertigaan Kecil Plampitan yang Menggerakkan Indonesia
Rua utama Masjid Plampinan. (Foto: Agus Wahyudi/PWMU.CO)

Pada tahun 1920-an, bangunan ini masih berupa langgar, atau surau. Dulu, masyarakat setempat menyebutnya sebagai “langgar lanang”. Bangungannya tidak terlalu luas, tapi tempat ini menjadi titik temu para tokoh yang memainkan peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Di sinilah KH Ahmad Dahlan kerap berdakwah ketika berada di Surabaya. Tidak hanya berdakwah, datang dari Yogyakarta, pendiri Muhammadiyah ini juga bertemu dan berdiskusi dengan para tokoh pergerakan. Termasuk di antaranya adalah H.O.S. Tjokroaminoto dan Tjokrosoedarmo, dua tokoh Sarekat Islam (SI).

Dari ruang sederhana inilah gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan tumbuh. “Tjokroaminoto itu tiga kali pindah rumah. Pada tahun 1918, dia pindah ke Plampitan gang VIII itu,” jelas aktivis Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo

Tak hanya para tokoh “tua”, meski berpikiran muda. Lebih dari itu, langgar ini juga menjadi tempat berkumpulnya para pemuda maju. Baik para pemuda yang berguru secara ideologis kepada Tokroaminoto ataupun tidak.

Nama-nama besar seperti Mas Mansur, Soekarno, Semaun, Wondoamiseno, Wondowidjojo, hingga Kartosuwiryo pernah berada dalam lingkaran diskusi tersebut. Mereka kelak menjadi figur penting dengan jalan perjuangan masing-masing dalam sejarah Indonesia.

Kesaksian tentang aktivitas intelektual dan pergerakan di Masjid Plampitan ini dicatat oleh Roeslan Abdulgani. Tulisannya yang tertanggal 9 Mei 1991, ditempel di sisi dalam-utara bangunan Masjid.

Bahaya Scroll Tanpa Henti: Yuk Biasakan Istighfar agar Hati Lebih Tenang
Rak masjid yang dipenuhi buku dan Al-Qur-an. (Foto: Agus Wahyudi/PWMU.CO)

”Pada tahun 1920-an, langgar ini sering menjadi tempat tabligh tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Sarikat Islam seperti KH Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, Bung Karno, KH Mas Mansur dan lain-lain pemimpin.”

Tak jauh dari masjid, jejak sejarah lainnya juga tersimpan. Tepat di sisi timur, terdapat bangunan penting tentang Tjokroaminoto dan Soekarno. Bangunan yang kini bernomor 15 itu menjadi saksi peristiwa penting tentang pernikahan pertama Soekarno dengan Oetari, putri Tjokroaminoto.

SMPM 5 Pucang SBY

“Sekarang bangunan ini ditempati Pak Karman, yang dulunya adalah anak dari ajudan dari Bung Karno,” kata Ketua RT yang sekaligus pengelola Rumah Sejarah Roeslan Abdulgani, Djarot Indraedhi.

Sekitar 15 meter ke arah timur, berdiri sebuah bangunan yang dahulu dikenal sebagai “langgar wedok”, surau khusus perempuan. Di tempat ini, dulunya jamaah dan imamnya sama-sama perempuan. Sebuah simbol awal kesadaran akan kesetaraan gender dalam praktik keagamaan.

Kini, bangunan tersebut telah bertransformasi menjadi TK ABA Peneleh. Perubahan fungsi ini mencerminkan dinamika zaman, meski jejak sejarahnya tetap melekat.

Bahaya Scroll Tanpa Henti: Yuk Biasakan Istighfar agar Hati Lebih Tenang
Kesaksian Cak Roes yang ditempel di didin Masjid Plampitan. Foto: Agus Wahyudi/PWMU.CO

Agak ke timur lagi, dan berbelok ke selatan, bertemu dengan pesarean atau makam tokoh setempat. Di tembok bangunan pesarean tertulis “Makam Kyahi Pasopati dan Saudarinya”. “Beliau adalah pendiri Masjid Jami’ Peneleh, dan murid langsung dari Kanjeng Sunan Ampel,” jelas Djarot.

Kembali ke depan Masjid Plampitan, terdapat sebuah rumah yang ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Surabaya. Rumah bersejarah itu merupakan tempat kelahiran Roeslan Abdulgani. Dia ini tokoh pejuang Surabaya dan pernah menjadi Menteri Luar Negeri dan Menteri Penerangan RI. Rumah orangtuanya, H Abdulgani dan Hajah Siti Murad Abdulgani, persis di depan masjid.

Di kawasan pertigaan itu pula berdiri rumah milik Achmad Jais. Seorang penjahit yang memiliki peran tak kalah penting. Melalui profesinya, ia berinteraksi dengan tentara Belanda. “Posisi ini justru memberinya akses pada informasi strategis terkait apa yang akan dilakukan oleh Belanda,” terang Djarot.

Informasi yang didapatkan Achmad Jais itu kemudian disalurkan kepada para pejuang Indonesia. Yang tentu saja sangat membantu mereka mengantisipasi langkah-langkah kolonial. Perannya mungkin tidak terlihat di medan perang, tetapi sangat krusial dalam perjuangan.

Rumah Achmad Jais bersebelahan dengan rumah Roeslan. Bangunan itu kemudian dihibahkan kepada Aisyiyah, sehingga ia pernah dipakai sebagai Kantor Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur.

Plampitan hari ini mungkin tampak seperti kawasan biasa. Namun di balik gang-gang sempit dan bangunan sederhana, tersimpan denyut sejarah yang pernah menggerakkan bangsa. Di pertigaan Plampitan VIII inilah pertemuan ide, iman, dan perjuangan sebagai pondasi bagi Indonesia merdeka. (*)

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 04/05/2026 09:25
  • Agus Wahyudi - 04/05/2026 09:44
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu