Musyawarah Wilayah XXIV Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur (Musywil XXIV PW IPM Jatim) yang berlangsung pada 3–5 Juli 2026 di Kota Malang menjadi penanda berakhirnya masa kepemimpinan Hengki Pradana, sebagai Ketua Umum Pimpinan Wilayah IPM Jawa Timur.
Bagi Hengki, berakhirnya masa jabatan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, momen itu menjadi ruang untuk menengok kembali jejak panjang seorang kader yang tumbuh dari sebuah desa kecil di tepian Bengawan Solo.
Hengki lahir dan dibesarkan di Desa Siser, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Sebuah desa yang hingga kini belum terhubung jembatan penyeberangan. Bagi masyarakat Siser, Bengawan Solo bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Untuk menuju desa di seberang sungai, warga masih mengandalkan perahu sebagai satu-satunya akses penyeberangan. Dari tepian sungai itulah Hengki belajar tentang kesederhanaan, perjuangan, dan arti sebuah harapan.
Perjalanan Hengki di Ikatan Pelajar Muhammadiyah dimulai pada tahun 2016 saat menempuh pendidikan di SMK Muhammadiyah 5 Babat. Merantau dari kampung halamannya, ia tinggal di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah (PAYM) Babat selama mengenyam pendidikan. Kehidupan di lingkungan sekolah Muhammadiyah dan panti asuhan menjadi ruang yang menempa karakter, kemandirian, kedisiplinan, serta semangat pengabdiannya kepada Persyarikatan.
Keaktifannya dalam organisasi mengantarkannya dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Ranting IPM SMK Muhammadiyah 5 Babat periode 2017–2018. Dari ranting inilah langkah kepemimpinannya dimulai. Ia terus menapaki proses kaderisasi, mengemban berbagai amanah di PC IPM Babat, PD IPM Lamongan, sampai akhirnya dipercaya memimpin PW IPM Jawa Timur yang membawahi 38 Pimpinan Daerah IPM kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Semangat kepemimpinannya tidak berhenti di IPM. Saat menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Hengki aktif sebagai Menteri Dalam Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknik, serta Ketua Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Teknik. Pengalaman tersebut semakin menguatkan kapasitasnya dalam membangun kolaborasi, mengelola organisasi, dan menggerakkan kader.
Di luar aktivitas organisasi, Hengki juga meniti karier profesional. Ia pernah menjadi tenaga kependidikan di Lembaga Digitalisasi dan Teknologi Informasi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dan juga pernah mengemban amanah sebagai Tenaga Ahli Konsultan Teknologi Informasi dan Jaringan pada Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur.
Bagi Hengki, IPM bukan sekadar organisasi pelajar, melainkan rumah kaderisasi yang membentuk cara berpikir, kepemimpinan, dan pengabdian. Berawal dari seorang pelajar yang tinggal di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Babat, ia membuktikan bahwa proses kaderisasi yang dijalani dengan sungguh-sungguh mampu mengantarkan seorang kader dari tingkat ranting menuju kepemimpinan di tingkat wilayah.
Bertepatan dengan Milad ke-65 Ikatan Pelajar Muhammadiyah pada 18 Juli 2026, Hengki mengajak seluruh kader untuk terus merawat semangat kaderisasi, memperkuat persaudaraan, dan memperluas kebermanfaatan bagi umat, bangsa, dan Persyarikatan. Menurutnya, perjalanan IPM selama 65 tahun membuktikan bahwa organisasi ini akan terus bertahan selama kader-kadernya tidak pernah berhenti mencintai dan mengabdi.
Motto yang selalu ia gaungkan selama memimpin PW IPM Jawa Timur, “Salam Cinta, Salam Juang. Karena dengan cinta, kita berjuang,” bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang ia pegang dalam setiap proses kaderisasi. Baginya, cinta kepada Allah, Persyarikatan, organisasi, dan sesama kader akan melahirkan semangat perjuangan yang tulus, tanpa pamrih, dan penuh keikhlasan.
“Selamat Milad ke-65 Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Terima kasih kepada seluruh ayahanda, ibunda, senior, alumni, dan kader IPM yang telah menjaga nyala perjuangan selama enam setengah dekade. Teruslah berproses dengan ikhlas, rawat kaderisasi, kuatkan persaudaraan, dan jangan pernah lelah mencintai IPM. Sebab, seperti yang selalu saya yakini, salam cinta, salam juang, karena dengan cinta kita berjuang,” pesan Hengki.
Bagi Hengki, jabatan memiliki batas waktu, tetapi pengabdian tidak pernah mengenal kata usai. Seperti Bengawan Solo yang terus mengalir melewati Desa Siser, perjalanan seorang kader akan terus berlanjut. Amanah boleh berganti, tetapi semangat untuk mencintai, berjuang, dan memberi manfaat akan tetap hidup dalam setiap langkah kader Muhammadiyah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments