Setiap sekolah memiliki cerita yang tidak selalu tercatat dalam laporan tahunan. Ada kisah tentang orang-orang yang memilih bertahan ketika keadaan nyaris membuat harapan padam. Ada pula sosok yang bekerja tanpa banyak bicara, tetapi kehadirannya menjadi alasan sebuah lembaga tetap berdiri, untuk mengabdi kepada bangsa.
Salah satu sosok itu adalah Drs. Abdul Kodim, M.Pd.I.
Ia bukan pendiri SD Muhammadiyah 16 Surabaya dalam arti membangun sekolah dari tanah kosong. Namun, ia adalah salah satu orang yang ikut menjaga sekolah itu ketika masa depannya berada di ujung tanduk, lalu bersama rekan-rekannya mengantarkannya menjadi pelopor Sekolah Kreatif Muhammadiyah yang kini dikenal di berbagai daerah di Indonesia.
Belajar Mengabdi dari Masjid
Abdul Kodim lahir di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Jalan hidup membawanya merantau ke Surabaya pada usia muda. Pada 1988 ia mulai mengabdikan diri sebagai guru di SD Muhammadiyah 16 Surabaya sekaligus mengajar di SMP Muhammadiyah 8 Surabaya.
Namun, sekolah bukanlah satu-satunya tempat ia menempa diri.
Masjid Al Fath Bratang menjadi ruang yang membentuk karakter kepemimpinannya. Di sana, Kodim muda tidak pernah memilih pekerjaan. Baginya, setiap tugas adalah bagian dari ibadah.
“Saya di Masjid Al Fath menjadi apa saja. Adzan, menjadi imam, mengajar TPA, menyampaikan khutbah, sampai menjadi tukang parkir. Semua saya jalani.”
Pengabdian itu dijalaninya sejak 1989 sebagai sukarelawan aktivis masjid. Apa pun yang dibutuhkan, ia berusaha hadir.
Dari masjid itulah ia belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari mimbar atau jabatan. Kepemimpinan justru lahir dari kesediaan melayani, bahkan melalui pekerjaan-pekerjaan yang sering kali luput dari perhatian orang lain.
Nilai itulah yang kemudian ia bawa ke dunia pendidikan.
Ketika Sekolah Hampir Kehilangan Masa Depan
Banyak orang mengenal SD Muhammadiyah 16 Surabaya sebagai Sekolah Kreatif. Namun, sedikit yang mengetahui bahwa sekolah ini pernah berada di ambang kehilangan masa depannya.
Ketika Abdul Kodim dipercaya menjadi kepala sekolah pada 1998, kondisinya jauh dari kata ideal. Ia bahkan masih lajang ketika menerima amanah tersebut.
Ia menggambarkan kondisi sekolah saat itu dengan sebuah ungkapan yang masih diingatnya hingga kini.
“Kalau boleh saya gambarkan, sekolah ini waktu itu la yamutu wa la yahya—hidup enggan, mati pun tak mau.”
Ungkapan itu bukan sekadar kiasan.
Selama rentang 1988 hingga 2001, jumlah siswa di setiap jenjang tidak pernah lebih dari 20 anak. Rata-rata hanya sekitar 15 siswa per kelas, sehingga keseluruhan siswa sekolah saat itu hanya sekitar 90 orang.
Jumlah tersebut menjadi cerminan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. Ruang-ruang kelas belum seramai sekarang. Masa depan sekolah pun dipenuhi ketidakpastian.
Situasinya bahkan lebih mengkhawatirkan ketika muncul wacana untuk mengalihfungsikan sekolah menjadi rumah kos, klinik, bahkan minimarket.
Bagi banyak orang, mungkin lebih mudah menutup sekolah yang terus merugi daripada mempertahankannya. Namun, bagi Abdul Kodim dan beberapa rekannya, menyerah bukanlah pilihan.
Lahirnya Gagasan Sekolah Kreatif
Harapan mulai tumbuh dari ruang-ruang diskusi yang sederhana.
Abdul Kodim bersama Heru Tjahyono, Ahmad Zaini, dan Ismadi Retty berulang kali duduk bersama mencari jalan keluar agar sekolah tetap bertahan. Mereka tidak memiliki modal besar ataupun fasilitas yang memadai. Yang mereka miliki hanyalah keyakinan bahwa SD Muhammadiyah 16 masih memiliki masa depan.
Dari diskusi-diskusi itulah lahir sebuah gagasan yang kemudian mengubah arah perjalanan sekolah: Sekolah Kreatif.
Menurut Abdul Kodim, lahirnya nama itu bukan keputusan yang dibuat dalam satu kali rapat. Prosesnya berlangsung panjang melalui berbagai pertukaran gagasan. Dalam proses tersebut, Heru Tjahyono menjadi salah satu tokoh yang paling kuat mendorong lahirnya identitas baru sekolah.
Tujuannya bukan sekadar mengganti nama.
Mereka ingin membangun cara berpikir baru tentang pendidikan Muhammadiyah—sebuah sekolah yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai Islam yang menjadi fondasinya.
“Kami ingin sekolah ini selalu relevan dengan perkembangan zaman.”
Kalimat itu sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan visi besar yang kemudian menjadi ruh Sekolah Kreatif hingga hari ini.
Mengetuk Pintu demi Membangun Kepercayaan
Gagasan besar tidak akan berarti jika berhenti sebagai konsep.
Abdul Kodim dan rekan-rekannya menyadari bahwa perubahan hanya akan terjadi apabila masyarakat kembali percaya kepada sekolah. Karena itu, pada 2002, SD Muhammadiyah 16 Surabaya secara resmi melakukan branding sebagai Sekolah Kreatif.
Perubahan nama itu bukan sekadar strategi pemasaran. Bagi mereka, Sekolah Kreatif adalah wajah baru yang mencerminkan semangat pembaruan dalam pendidikan Muhammadiyah.
Namun, memperkenalkan gagasan baru bukanlah perkara mudah.
Saat itu belum ada media sosial. Belum ada promosi digital yang mampu menjangkau masyarakat dalam hitungan detik. Yang mereka miliki hanyalah tekad untuk mendatangi calon orang tua murid secara langsung.
Di bawah koordinasi Heru Tjahyono, Ahmad Zaini, dan Ismadi Retty, Abdul Kodim bersama tim berkeliling dari satu taman kanak-kanak ke taman kanak-kanak lainnya. Mereka menjelaskan konsep Sekolah Kreatif, berdialog dengan para guru dan kepala sekolah, serta berusaha meyakinkan orang tua bahwa SD Muhammadiyah 16 sedang berbenah.
“Kami door to door mendatangi setiap TK untuk menawarkan konsep Sekolah Kreatif.”
Perjuangan itu tidak memberikan hasil secara instan.
Mereka harus membangun kepercayaan sedikit demi sedikit. Menjawab keraguan masyarakat. Meyakinkan bahwa sekolah yang pernah dipandang sebelah mata itu sedang bergerak menuju perubahan.
Kerja keras tersebut akhirnya mulai membuahkan hasil.
Pada tahun pertama setelah branding, SD Muhammadiyah 16 menerima 43 siswa baru yang dibagi ke dalam dua rombongan belajar. Setahun kemudian jumlah itu meningkat menjadi 50 siswa.
Angka tersebut mungkin belum terlihat besar jika dibandingkan dengan kondisi sekarang. Namun, bagi Abdul Kodim dan timnya, setiap siswa baru adalah tanda bahwa kepercayaan masyarakat mulai kembali.
Perubahan terus terjadi dari tahun ke tahun.
Hingga kini, penerimaan peserta didik baru di Sekolah Kreatif Muhammadiyah mampu memenuhi kuota empat kelas setiap tahun. Sebuah capaian yang dahulu mungkin sulit dibayangkan ketika jumlah seluruh siswa sekolah hanya sekitar 90 anak.
Perubahan Dibangun dengan Ilmu dan Kebersamaan
Abdul Kodim dan tim menyadari bahwa perubahan tidak cukup hanya mengandalkan semangat. Sekolah juga membutuhkan arah yang jelas agar identitas barunya memiliki landasan yang kuat.
Karena itu, mereka aktif berdiskusi dan meminta masukan dari berbagai tokoh pendidikan Muhammadiyah maupun akademisi.
Di antara mereka adalah Prof. Ir. Daniel M. Rosyid, Ph.D., Prof. Dr. dr. Abd. Hafid Bajamal, Sp.BS(K), serta sejumlah tokoh lain ya     ng memberikan perhatian terhadap pengembangan sekolah.
Bagi Abdul Kodim, dukungan itu bukan sekadar masukan akademik. Kehadiran para tokoh tersebut menjadi suntikan semangat bagi tim kecil yang sedang berjuang membangun sekolah dari keterpurukan.
Ia masih mengingat bagaimana Prof. Daniel Rosyid beberapa kali meluangkan waktu untuk memimpin rapat dan mendampingi proses penyusunan arah pengembangan Sekolah Kreatif, bahkan di tengah kesibukannya.
Pendampingan itu membuat mereka merasa tidak berjalan sendirian.
“Masa itu memang sangat sulit. Tetapi kami punya kegigihan hati untuk bangkit.”
Kalimat itu seolah merangkum seluruh perjalanan mereka. Bukan perjalanan yang dipenuhi kemudahan, melainkan perjalanan yang dijalani dengan keyakinan bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Estafet yang Terus Berlanjut
Setelah fondasi Sekolah Kreatif mulai terbentuk, perjalanan sekolah memasuki babak berikutnya.
Abdul Kodim menjadi kepala sekolah pertama pada era Sekolah Kreatif. Setelah itu estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Ahmad Zaini selama satu periode. Abdul Kodim kemudian kembali dipercaya memimpin selama dua periode berikutnya sebelum tongkat estafet diteruskan kepada Maulana Muhammad, Suyono, hingga kini berada di bawah kepemimpinan Elly Rhodlifah.
Menariknya, ketika mengenang perjalanan panjang tersebut, Abdul Kodim hampir tidak pernah berbicara tentang dirinya sendiri.
Ia justru lebih sering menyebut nama-nama yang berjalan bersama sejak awal. Baginya, keberhasilan Sekolah Kreatif bukanlah hasil kerja satu orang, melainkan buah dari kolaborasi banyak pihak yang memiliki visi yang sama.
Barangkali di situlah letak kekuatan sesungguhnya.
Sekolah Kreatif tidak dibangun oleh seorang tokoh, tetapi oleh sekelompok orang yang memilih tetap berjalan bersama, bahkan ketika masa depan sekolah belum memberikan banyak harapan.
Warisan yang Terus Hidup
Lebih dari dua dekade telah berlalu sejak Sekolah Kreatif diperkenalkan kepada masyarakat. Wajah sekolah berubah. Jumlah siswa bertambah. Kepercayaan masyarakat kembali tumbuh.
Namun, satu hal yang tidak berubah adalah semangat untuk terus berinovasi.
Perjalanan itu tidak berhenti pada satu periode kepemimpinan. Setelah menjadi kepala sekolah pertama pada era Sekolah Kreatif, Abdul Kodim menyerahkan estafet kepada Ahmad Zaini selama satu periode. Ia kemudian kembali dipercaya memimpin selama dua periode berikutnya. Kepemimpinan sekolah selanjutnya diteruskan oleh Maulana Muhammad, Suyono, hingga kini berada di bawah kepemimpinan Elly Rhodlifah.
Bagi Abdul Kodim, pergantian pemimpin bukanlah akhir sebuah perjuangan. Justru di situlah sebuah gagasan diuji: apakah mampu bertahan melampaui orang-orang yang pernah memulainya.
Selama berbincang, ia hampir tidak pernah menceritakan keberhasilannya sebagai pencapaian pribadi. Sebaliknya, ia lebih sering menyebut nama Heru Tjahyono, Ahmad Zaini, Ismadi Retty, para guru, para pengurus Muhammadiyah, dan tokoh-tokoh yang mendampingi perjalanan sekolah.
Cara bercerita itu memperlihatkan satu hal: perubahan besar tidak pernah lahir dari kerja seorang diri.
Ia lahir dari orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, saling menguatkan, dan bersedia mengambil peran, sekecil apa pun, demi menjaga harapan tetap hidup.
Hari ini, ketika setiap tahun empat rombongan belajar di Sekolah Kreatif Muhammadiyah selalu terpenuhi, tidak banyak yang membayangkan bahwa sekolah ini pernah memiliki sekitar 90 siswa dan berada di ambang penutupan.
Generasi yang belajar hari ini mungkin tidak lagi mengenal masa-masa sulit itu. Mereka datang ke sekolah yang telah tumbuh menjadi salah satu ikon pendidikan Muhammadiyah.
Namun, setiap ruang kelas, setiap tawa anak-anak, dan setiap langkah pembaruan yang terus dilakukan sekolah sesungguhnya menyimpan jejak perjuangan banyak orang.
Di antaranya adalah Abdul Kodim.
Seorang guru yang belajar melayani dari masjid, memilih bertahan ketika keadaan tidak mudah, dan percaya bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, perubahan berawal dari keberanian menjaga sesuatu agar tidak padam.
Dan dari keyakinan bahwa sebuah sekolah selalu pantas diperjuangkan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments