Pagi itu, ruang kelas satu dan dua SDN Jerukwangi, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, dipenuhi suara anak-anak yang belum genap sepekan mengenal bangku sekolah dasar. Sebagian dari mereka masih menggenggam erat tas ransel di pangkuan, seolah belum yakin apakah benda itu boleh diletakkan di lantai atau harus terus dijaga.
Sebagian lain sesekali menoleh ke arah pintu, mencari-cari sosok orang tua yang beberapa menit lalu masih berdiri di gerbang sekolah sebelum akhirnya pulang. Di tengah kegugupan khas anak baru itu, tiga mahasiswa berseragam almamater Universitas Muhammadiyah Surabaya duduk membaur di antara bangku-bangku kecil.
Mereka sesekali berjongkok agar sejajar dengan tinggi badan murid-murid yang mereka dampingi di dalam kelas. Tasnim, Arsyana, dan Andi adalah tiga nama yang belakangan menjadi sangat akrab di telinga murid-murid kelas satu dan dua.
Ketiganya merupakan bagian dari Kelompok 20 Kuliah Kerja Nyata (KKN) UMSURA yang selama beberapa pekan terakhir ditempatkan di Desa Jerukwangi. Sebuah desa yang sehari-hari lebih banyak bergantung pada aktivitas pertanian ketimbang hiruk pikuk yang biasa ditemui di wilayah perkotaan.
Kehadiran mereka bertepatan dengan gelaran Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang jamak digelar di awal tahun ajaran baru. Rutinitas tahunan yang di banyak sekolah lazimnya diisi barisan panjang tata tertib, pengenalan fasilitas, dan seremoni yang kadang terasa terlalu formal.
Namun tahun ini, ada pemandangan yang terasa berbeda di lingkungan SDN Jerukwangi. Ruang kelas diramaikan oleh kehadiran “kakak-kakak” dari kampus yang memilih pendekatan jauh dari kesan kaku, dan lebih dekat pada cara anak-anak biasa bermain.
Mencairkan Kecemasan Lewat Nyanyian
Bagi anak seusia mereka, hari-hari pertama di sekolah kerap menjadi pengalaman yang membingungkan sekaligus menegangkan. Ada lingkungan baru yang belum familiar, wajah-wajah asing yang belum dikenal, serta aturan-aturan yang belum sepenuhnya mereka pahami dengan baik.
Rasa cemas semacam ini sebetulnya wajar dialami anak-anak yang baru saja melewati masa transisi dari taman kanak-kanak. Tempat di mana suasana belajar biasanya lebih santai dan penuh permainan, menuju sekolah dasar yang menuntut mereka untuk duduk lebih lama.
Menyadari kondisi itu, mahasiswa KKN tidak langsung menyodorkan materi pengenalan sekolah begitu melangkah masuk ke dalam kelas. Mereka memilih membuka sesi dengan bernyanyi bersama, sebuah pilihan yang terlihat sederhana namun sesungguhnya sengaja dirancang untuk meredakan kecanggungan.
Lagu-lagu anak yang dipilih pun sangat akrab di telinga, sehingga tidak butuh waktu lama bagi murid-murid untuk mulai ikut bernyanyi. Mereka mulai bertepuk tangan, bahkan tertawa lepas bersama kakak pendamping di depan kelas.
Cara ini, sekecil apa pun kelihatannya, ternyata punya efek psikologis yang cukup terasa bagi perkembangan anak. Suasana kelas yang semula kaku perlahan mencair dan berganti menjadi ruang yang menyenangkan.
Anak-anak yang tadinya diam dan menunduk mulai berani mengangkat wajah mereka dengan penuh percaya diri. Sebagian bahkan mulai berebut ingin memimpin lagu berikutnya di depan teman-teman sekelasnya.
Menulis Cita-cita pada Selembar Kertas
Setelah suasana kelas lebih rileks, giliran sesi perkenalan diri yang dikemas dalam bentuk formulir sederhana digelar. Kolom lembaran tersebut harus diisi setiap siswa, berisi baris nama lengkap, hobi, dan cita-cita masa depan mereka.
Sebagian besar dari mereka masih dibantu mengeja huruf demi huruf oleh para mahasiswa pendamping. Sementara sebagian lain yang lebih percaya diri langsung menuliskan jawabannya sendiri dengan tulisan tangan yang masih belum rapi.
Bagi sebagian anak, ini barangkali pertama kalinya mereka diminta menuliskan sesuatu yang menyangkut masa depan mereka sendiri. Bukan sekadar menyalin huruf atau angka dari papan tulis seperti yang biasa mereka lakukan setiap hari.
Ada jeda yang cukup lama sebelum beberapa dari mereka akhirnya menuliskan jawaban di lembar tersebut. Seolah pertanyaan tentang cita-cita bukan hal yang setiap hari mereka pikirkan, apalagi dituliskan secara formal di atas kertas.

Jawaban-jawaban yang muncul dari kepolosan mereka pun terasa sangat beragam dan menarik. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, terinspirasi dari sosok yang pernah menangani mereka saat jatuh sakit.
Ada pula yang ingin menjadi guru, mengikuti jejak sosok yang setiap hari mengajar mereka di depan kelas. Sebagian lain menuliskan polisi, sementara beberapa anak laki-laki hampir kompak menuliskan cita-cita menjadi pemain sepak bola profesional.
Di atas kertas-kertas kecil itu, untuk pertama kalinya, mimpi-mimpi anak Desa Jerukwangi dituangkan dalam bentuk tulisan. Sebuah momen yang menurut para mahasiswa pendamping terasa sangat sederhana namun cukup menggugah emosi siapa pun yang melihatnya.
Berkeliling Sekolah, Mengenal Para Guru
Kegiatan seru ini tidak hanya berhenti di dalam ruangan kelas saja. Anak-anak diajak berkeliling dari satu ruang ke ruang lain, menemui para guru satu per satu untuk meminta tanda tangan sebagai bagian dari rangkaian MPLS.
Rombongan kecil ini berjalan beriringan menyusuri lorong sekolah dengan penuh canda tawa. Mereka sesekali berhenti ketika ada anak yang tertinggal di belakang atau ingin mengikat tali sepatu yang terlepas.
Bagi mahasiswa KKN, momen berkeliling ini sekaligus menjadi kesempatan memperkenalkan diri kepada seluruh tenaga pendidik SDN Jerukwangi. Mereka menemui guru kelas, guru mata pelajaran tertentu, hingga staf tata usaha yang bertugas di sekolah.
Perkenalan semacam ini menjadi cukup penting bagi mahasiswa KKN untuk membangun relasi yang lebih cair dengan pihak sekolah. Mengingat program KKN akan berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang dan melibatkan banyak kegiatan pengabdian lainnya.
Sesi berkeliling ini juga disisipi pelajaran berharga tentang bagaimana bersikap sopan dan menghormati guru. Anak-anak diajarkan untuk mengucapkan salam, menyalami tangan guru dengan sopan, dan menunggu giliran dengan tertib sebelum meminta tanda tangan.
Di banyak desa, termasuk Jerukwangi, sosok guru masih dipandang sebagai figur yang sangat dihormati dan digugu oleh masyarakat. Mereka bukan sekadar pengajar yang mentransfer ilmu di ruang kelas, melainkan teladan hidup bagi lingkungan sekitar.





0 Tanggapan
Empty Comments