Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 58

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 58

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab IV berjudul “Muhammadiyah Masa Pergolakan (1942-1956)”, sebagian halaman 145 s/d 153.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 57

***

Halaman 145

Catatan:

{1} Ahmad Mansur Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta di Cileuca Pengalengan Bandung Selatan (Jakarta: Yayasan Wira Patria Mandiri, 1996), 65.

{2} Heru Sukadri, Soewarno, Ny. Umiati (Tim Peneliti), Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur 1945-1949 (Jakarta: Depdikbud Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1983/1984), 8.

{3} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 65; Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren (Jogjakarta: Pustaka Sastra LKiS, 2001), 219.

{4} Heru Sukadri, Soewarno, Ny. Umiati (Tim Peneliti), Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur, 8-9.

{5} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 67; Heru Sukadri, Soewarno, Ny. Umiati (Tim Peneliti), Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur, 9.

{6} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 69-70.

{7} Heru Sukadri, Soewarno, Ny. Umiati (Tim Peneliti), Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur, 13-14.

{8} Ibid., 14.

{9} Ibid.

{10} Ibid., 12-3.

{11} R.Z. Leirissa, Terwujudnya Suatu Gagasan Sejarah Masyarakat Indonesia 1900-1950 (Jakarta: Akademika Pressindo, 1985), 88.

Halaman 146

{12} Nouruzzaman Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang: Sebuah Tinjauan tentang Peranan Ulama dan Pergerakan Muslim Indonesia,” dalam H. A. Muin Umar, dkk., Penulisan Sejarah Islam di Indonesia dalam Sorotan Seminar IAIN Sunan Kalijaga (Jogjakarta: Dua Dimensi, 1985), 39.

{13} Organisasi ini berdiri pada 1937 atas inisiatif tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

{14} Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 39; Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam di Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang, terjemahan Daniel Dhakidae (Jakarta: Pustaka Jaya, 1980), 134.

{15} Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 135.

{16} Nieuwenhuijze, Aspect of Islam in Post-Colonial Indonesia, 117.

{17} Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 142.

{18} Ibid., 163.

{19} Ibid., 161 dan 163-4.

{20} Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 47.

{21} Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 43-4; Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 142.

{22} Heru Sukadri, Soewarno, Ny. Umiati (Tim Peneliti), Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur, 15. Sukadri dkk. mengutip R. Mawardi Perintis Kemerdekaan No. Pol.24/VII/PK., Mengenang Hari Pahlawan 10 Nopember, th. 1974, Naskah Khusus, 11.

{23} Aboebakar Atjeh, Sedjarah Hidup K.H.A. Wahid Hasjim, 112; Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, 226.

{24} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 82.

{25} Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 47-8; Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 168.

{26} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 76-7.

{27} Ibid.; Harry J. Benda, “Indonesian Islam Under the Japanese Occupation, 1942-1945,” Pacific Affairs 28 No. 4 (December 1955), 354; sebagaimana dikutip Ahmad Syafii Maarif, Studi tentang Percaturan dalam Konstituante: Islam dan Masalah Kenegaraan (Jakarta: LP3ES, 1987), 97.

Halaman 147

{28} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 81-2.

{29} Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 54.

{30} Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 150.

{31} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 82; Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 168.

{32} Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 173; Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur, 38.

{33} Ibid., 83; Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 171.

{34} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 86 dan 89; Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 50. Susunan Pengurus Masyumi selengkapnya adalah K.H. Hasyim Asy’ari (Ketua Besar), K.H. Mas Mansur (Ketua Muda I), K.H.A. Wahid Hasyim (Ketua Muda II). Duduk sebagai penasehat Masyumi ialah Ki Bagus Hadikusumo (Ketua Muhammadiyah), K.H. Abdul Wahab Hasbullah (Ketua NU), dengan anggota-anggota: K.H. Mukhtar (NU), Farid Ma’ruf (Muhammadiyah), Abdul Mu’thi (Muhammadiyah), T. Kartosudarmo (Muhammadiyah), K.M. Hasyim (Muhammadiyah), dan Nahrawi Thahir (NU), periksa Syaifullah, “Sikap dan Pandangan Hidup K.H. Mas Mansur,” 218.

{35} Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 74; Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur, 46; Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 97-8.

{36} Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 74; Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 110-118 dan 150.

{37} Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 75; Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 157; Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 174-5.

{38} Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 79; Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 149.

{39} Shiddiqi, “Islam Pada Masa Pendudukan Jepang,” 79.

{40} Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 225.

{41} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 142.

{42} Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 169.

{43} Periksa Saifuddin Zuhri, “Kehidupan Masa Jepang,” dalam Aboebakar Atjeh, Sedjarah Hidup KHA Wahid Hasjim, 182.

Halaman 148

{44} Ibid., 179-181.

{45} Pada 1939 Muhammadiyah telah berdiri di Sabang, dan pada 1942 Muhammadiyah telah eksis di Fakfak dan Merauke.

{46} Perang Pasifik pecah pada 8 Desember 1941, ditandai dengan dihancurkannya Pearl Harbour, markas Angkatan Laut Amerika Serikat di Pasifik, oleh pasukan Angkatan Udara dan Laut Jepang; periksa Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 61; Periksa juga Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 71.

{47} Jusuf Abdullah Puar, Perjuangan dan Pengabdian Muhammadiyah (Jakarta: Pustaka Antara, 1989), 63-4; Periksa juga Moh. Djaldan, Muhammadiyah: Pertumbuhan dan Perkembangannya (Diktat No.1 Kursus Kader Pembinaan Pemuda), 6; PDM Kota Malang, “Sejarah dan Perkembangan Muhammadiyah Malang Tahun 1927–1988” (naskah, 2003), 45.

{48} Ibid., 64-5.

{49} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 127.

{50} Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995), 266.

{51} Ibid., 130.

{52} Sukarno, “Lahirnya Pantja-Sila Pidato Pertama tentang Pantja Sila yang diutjapkan pada tg. 1 Djuni 1945 oleh Bung Karno sekarang Presiden Negara Republik Indonesia,” dalam Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi (Jakarta: Percetakan Negara Departemen Penerangan, t.th), 7-32. Sepanjang pidato itu, Bung Karno 10 kali menyebut nama Ki Bagus Hadikusumo.

{53} Suryanegara, Menemukan Sejarah, 263.

{54} Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, 273.

{55} Ibid., 266.

{56} Moch. Said, Pedoman Untuk Melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat I (Surabaya: Permata, 1961), 117.

{57} Suryanegara, Pemberontakan Tentara Peta, 154. Pada masa pasca kemerdekaan Kasman lebih dikenal sebagai tokoh Masyumi, tetapi setelah keluar penjara, sejak akhir 1960-an sampai akhir hayatnya ia aktif dalam kegiatan dakwah yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah, antara lain di wilayah Karesidenan Kediri.

Halaman 149

{58} Ibid., 154.

{59} Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, 157; mengutip Soeara MIAI 1 (1 Januari 1943), 5-6.

{60} Ibid.; mengutip laporan pertemuan dalam Panji Pustaka XXI/20-21 (1 Agustus 1943), 731; Suryanegara, Menemukan Sejarah, 257.

{61} Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 76.

{62} Ibid., 76-7.

{63} Ibid., 71 dan 77.

{64} Ibid.; dari wawancara dengan Hadi Subroto, tetua Muhammadiyah Malang.

{65} PDM Ngawi, “Sejarah Perkembangan Muhammadiyah Ngawi,” 8.

{66} PDM Nganjuk, “Peringatan Milad Muhammadiyah (hari lahir 18-11-1912 — 18-11-1966) ke 54,” 13.

{67} Heru Sukadri, Suwarno, Umiati, Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur 1945-1949 (Jakarta: Depdikbud Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1983/1984), 59.

{68} Ibid.

{69} Ibid., 62

{70} Ibid., 71

{71} Ibid., 111.

{72} Ibid., 111-117. Menurut sumber ini (h.111-112), kekuatan tentara sekutu yang terlibat pada peristiwa itu diperkirakan sebanyak 30.000 orang (24000 tentara di antaranya berada di bawah komando Mayor Jendral Mensergh, pengganti Mallaby).

{73} PDM Surabaya, “Sejarah Muhammadiyah Daerah Surabaya,” (naskah, 2004), 4.

{74} Heru Sukadri K, Soewarno, dan Umiati RA, Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur, 196.

{75} Ibid., 186.

Halaman 150

{76} Kementerian Penerangan, Republik Indonesia Propinsi Djawa-Timur (Djawatan Penerangan Republik Indonesia Propinsi Djawa-Timur, 1953), 103-104.

{77} Heru Sukadri K, Soewarno, dan Umiati RA, Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur, 114.

{78} A. Syafii Maarif, Islam dan Politik di Indonesia Pada Masa Demokrasi Terpimpin 1959-1965 (Jogjakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988), 30.

SMPM 5 Pucang SBY

{79} Sjamsudduha, Konflik dan Rekonsiliasi NU Muhammadiyah: Kajian Kontemplatif (Surabaya: Bina Ilmu, 1999), 75.

{80} Ibid., 76

{81} Wawancara dengan H. Nurhasan Zein (78 tahun), pada 4 September 2004, di Surabaya

{82} Ibid.; Munawir Sjadzali menjabat sebagai Menteri Agama selama dua periode pada masa Orde Baru.

{83} Wawancara dengan H. Nur Hasan Zen, pada 4 September 2004.

{84} Kementerian Penerangan, Republik Indonesia Propinsi Djawa-Timur, 64.

{85} M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia c. 1300 to the present (Bloomington: Indiana University Press, 1981), 216; R. Z. Leirissa, Terwujudnya Suatu Gagasan Sejarah Masyarakat Indonesia 1900-1950 (Jakarta: Akademika Pressindo, 1985), 103.

{86} Heru Sukadri, Suwarno dan Umiati RA, Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur, 175.

{87} Ricklefs, A History of Modern Indonesia, 216-217; periksa Kementerian Penerangan, Republik Indonesia Propinsi Djawa-Timur, 54.

{88} Tim Penelitian dan Penulisan Sejarah Muhammadiyah Ponorogo, Selintas Perkembangan Muhammadiyah Ponorogo, 41-42.

{89} Ibid., 42.

{90} Ibid., 43.

{91} Ibid., 42.

{92} Ibid., 196.

{93} Menurut sumber lisan, Juwariyah dan Suprihati berasal dari Jogjakarta, sedangkan Sumardiyah dari Solo, sedangkan Anwar

Halaman 151

Hudaya merupakan putera daerah Gresik. Mustakim, Taufiqullah Ahmady dan Anas Thohir, “Sejarah Pergerakan Muhammadiyah di Gresik Tahun 1926-2003,” [naskah, 2004]. Juga periksa Suara Pendidikan Muhammadiyah No. 5/Tahun I (November 1954), 49.

{94} Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 78-9.

{95} Ibid., 79.

{96} Ibid., 80.

{97} Ibid., 81. Lihat pula Kementerian Penerangan, Republik Indonesia Propinsi Djawa-Timur, 114; juga periksa Heru Sukadri, Soewarno, Ny.Umiati, Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Timur, 189.

{98} PDM Nganjuk, “Peringatan Milad Muhammadiyah,” 13.

{99} Tim Pengumpul Data Sejarah PDM Bojonegoro, “Kumpulan Data Sejarah Muhammadiyah Bojonegoro,” (Naskah, 2004), 3.

{100} Ibid., 3-4.

{101} Ibid., 4.

{102} Ibid.

{103} Maarif, Islam dan Politik Pada Masa Demokrasi Terpimpin, 37.

{104} Aboebakar Atjeh, Sejarah Hidup KHA Wahid Hasjim, 563.

{105} B.J. Boland, Pergumulan Islam di Indonesia, terjemahan Saafroeddin Bahar (Jakarta: Grafiti Press, 1985), 49.

{106} Pipitseputra, Beberapa Aspek dari Sejarah Indonesia Aliran Nasionalisme, Islam, Katolik sampai Akhir Zaman Perbedaan Paham (Ende-Flores: Nusa Indah, 1973), 350-1.

{107} Ibid., 351; Boland, Pergumulan Islam di Indonesia, 50.

{108} SM No. 14 (14 Nopember 1951), 179.

{109} Ibid., 186.

{110} Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 84

{111} SM No.42/Tahun XXX (Mei 1954), 569.

{112} Boland, Pergumulan Islam di Indonesia, 50.

{113} Sjamsudduha, Masyarakat Islam di Indonesia dalam Problema (Surabaya: FIAD Universitas Muhammadiyah Surabaya, 1975), 22.

{114} Ibid.

Halaman 152

{115} T.M. Usman el-Muhammady, Kulijah Iman dan Islam (Jakarta: Pustaka Agusalim, t.th.), Cet. III, 3-4.

{116} Pipitseputra, Beberapa Aspek dari Sejarah Indonesia, 370.

{117} SM (1974), 24.

{118} Almanak Muhammadiyah (1974), 98.

{119} Pusat Penelitian dan Kajian UMM, Sejarah Pergerakan Muhammadiyah Daerah Malang, 84.

{120} PDM Magetan, “Sejarah Muhammadiyah Magetan,” [naskah, 2004], 3.

{121} Ibid., 3-4.

{122} K.H. Fauzan, Sejarah Singkat Berdirinya Muhammadiyah di Jombang (Jombang: PDM Kabupaten Jombang, 2002), 15.

{123} Redaksi Buku Kenang-kenangan, Kenang-kenangan D.P.R.D.S. (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara Kabupaten Lamongan) 1950 – 1956, 26.

{124} Ibid., 177-8.

{125} SM No. 14 (November 1951), 176; Keberadaan Daerah Pati ke dalam “wilayah” Jawa Timur diperkuat oleh daftar perwakilan Daerah yang menghadiri Sidang Tanwir pada 19–24 Agustus 1951 di Jogjakarta (periksa SM yang sama h.177).

{126} Sjamsudduha, Konflik dan Rekonsiliasi NU Muhammadiyah: Kajian Kontemplatif (Surabaya: Bina Ilmu, 1999), 57; hasil wawancara dengan R.H. Mulyadi, Ahad, 2 Januari 1991, pukul 10.00. Pada 1950 Mulyadi menjadi anggota DPRDS, kemudian DPDS Kabupaten Lamongan dari Masyumi, dan belum menjadi “Muhammadiyah.”

{127} Mattaji, kelahiran Dusun Badu Wanar, adalah murid langsung K.H. Mas Mansur. Pada 1920-an ia bekerja di Pelabuhan Tanjung Perak dan bertempat tinggal di Kampung Plampitan, Surabaya.

{128} Redaksi Buku Kenang-kenangan, Kenang-kenangan D.P.R.D.S. (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara Kabupaten Lamongan) 1950 – 1956, 26.

{129} Ibid., 58.

{130} Ibid.

{131} Ibid., 58-9.

{132} SM No. 14 (November 1951), 197.

{133} SM No. 13 (Oktober 1951), 163.

Halaman 153

{134} SM No. 32 (November 1953), 434.

{135} SM No. 36 (Juni 1953), 480. Putusan ini juga menyangkut HW dan Pusat Pimpinan Aisyiyah yang kemudian diteruskan kepada Majelis HW dan Pusat Pimpinan Aisyiyah sebagaimana lazimnya.

{136} SM No. 36 (Juni 1953), 481.

{137} SM No. 41/Tahun XXX (Jumadil Akhir 1373/Februari 1954), 552-554.

{138} Mustakim, Taufiqullah Ahmady, Anas Thohir, “Sejarah Pergerakan Muhammadiyah di Gresik 1926-2003,” 79.

{139} SM No. 13 (Oktober 1951), 163.

{140} SM No. 36 (Juni 1953), 485.

{141} SM No. 41 (Pebruari 1954), 552-553.

{142} SM No. 40 (Januari 1954), 536.

{143} SM No. 31 (Januari 1953), 421.

{144} Ibid.

{145} SM No. 47 (Februari 1955), 649.

{146} SM No. 40/Tahun XXX (Jumadil Awwal 1373/Januari 1954), 535-536.

{147} SM No. 46/Tahun XXX (Jumadil Awwal 1374/Januari 1955), 644.

{148} SM No. 40 (Januari 1954), 544.

{149} SM No. 47 (Jumadil Akhir 1374/Februari 1955), 648.

{150} Mustakim, Taufiqullah Ahmady, Anas Thohir, “Sejarah Pergerakan Muhammadiyah di Gresik,” 80.

{151} Sjamsudduha, Konflik dan Rekonsiliasi NU Muhammadiyah, 58-9.

{152} PDM Trenggalek, “Perkembangan Muhammadiyah di Trenggalek,” [naskah, 2004], 3.

{153} Tanah tersebut merupakan hasil usaha H. Abd. Rohim yang saat itu menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang.

{154} SM No. 4 (Oktober 1954), 47.

{155} SM No. 5 (November 1954), 49.

{156} Ibid.

{157} SM No. 6 (Desember 1954), 45.

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 29/06/2026 13:52
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu