Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab IV berjudul “Muhammadiyah Masa Pergolakan (1942-1956)”, sebagian halaman 141, 142, 143, 144, dan 145.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 56
***
Halaman 141
Pada 1953 Muhammadiyah Cabang Nganjuk mengadakan pergantian pengurus yang terdiri dari Muh. Dardiri (ketua I), Ismangil (ketua II), Rusman Hadi (penulis I), S. Jasmin (Penulis II), dan Martono (bendahara); Pembantu-pembantu: Mardisuwignyo, Muradi, Mustajab, Kartosentono, Sastrosudirjo, H. Hamid, Rustamaji, dan Mukhtar Bukhori.{140}
Pada 1953/1954 tercatat empat cabang di Jawa Timur yang mengadakan pembaruan pengurus, yaitu Cabang Tuban, Cabang Surabaya, Cabang Probolinggo, dan Cabang Genteng.{141}
Pengurus Muhammadiyah Tuban terdiri dari Muhammad Bayasut (ketua), R. Dirjosusastro (wakil ketua), Surais (penulis), Kasmirun (bendahara) dan Pembantu-pembantu: R.M. Damanhuri, R. Suhardi, Zainal Abidin, Ny. Lamijo, Awat Mertak, Husin, dan Lamijo.
Pengurus Cabang Muhammadiyah Surabaya adalah Dr. Moh. Suwandhie (ketua), M. Saleh Ibrahim (wakil ketua I), Aunur Rafiq Mansur (wakil ketua II), A. Syukur Idris (sekretaris), Suhaimi Ihsan (sekretaris II), Ajarsunyoto (bendahara), M. Wisatmo (Pengamat Besar), HA Rahman Utsman (Pengamat Urusan Agama), R. Usman Muttaqin (Bagian PKU), H.M. Mahin (Bagian Pengajaran), Abdillah (Bagian Tabligh).
Pengurus Cabang Muhammadiyah Probolinggo terdiri dari H.M. Kholil Abd. Aziz (ketua), H. Masykur (wakil Ketua), Usman Zaini (penulis I)., Muh. Amin (penulis II), K. Darmowisastro (Bendahara), Pembantu-pembantu: Moh. Jakfar, Abd. Syukur, Muhmmad Wasim, Dirjosumarto, Madra’i Sastro Utmo, dan Suteja.
Pengurus Cabang Muhammadiyah Genteng, Banyuwangi adalah K. Mudhofir (ketua I), A. Syarbini (ketua II), Zainuddin Rais (penulis I), A. Latif (penulis II), Kusran (keuangan), Pembantu: Sunaryo dan Husman, Abdul Ghani (Bagian Pengajaran), Musrifah Mustopo (Aisyiyah), Zainuddin Rais (Pemuda), A. Latif (Bagian Penerangan), Suripah (Nasyiatul Aisyiyah). Pengurus Cabang Pamekasan pada 1953 mengalami pergantian, yaitu Hasan Bawzir (ketua); Marzuki (wakil ketua); Muhd. Saleh (sekretaris); Ahmad Jazuli (bendahara);
Halaman 142
Pembantu-pembantu: Abdurrazak, Kartodimejo, dan Sunarya.{142}
Pengurus Cabang Muhammadiyah Kalianget (Sumenep) diperbarui dan dilantik oleh Muhammad Syafii (Wakil PB Muhammadiyah Daerah Madura). Pengurus Cabang terdiri dari: Abdurrahman Sjarkawi (ketua), Usman Ahmad Bahabazy (wakil ketua), K. Fathul Wahab, Ali Muhammad Bauts, Hasan Aljafie (bendahara), R. Muh. Taha, dan Abdullah bin Hasan. M. Saleh Muhammady (Tabligh), Muh. Khairudin (Pendidikan), Abdul Mukti (PKU), Ismail Haji (Ekonomi), R. Hafiluddin (Penasehat Pendidikan).{143}
Pada 1953 tercatat beberapa tokoh ulama Muhammadiyah yang berpengaruh di Sumenep, seperti Kyai Bahaudin Mudhari (Sumenep) yang kemudian dikenal sangat ahli tentang agama Kristen (Kristologi), Abdul Kadir Muhammad (Sumenep), R. Asmaun Surjodiharjo (Sumenep), dan Marikan Maany (Pasongsongan).{144} Sedangkan keberadaan Muhammadiyah Cabang Sampang ditandai dengan adanya perubahan pengurus. Pengurus baru pada periode ini dipimpin oleh M. Ahmad Putrodiharjo (ketua), R.A.D. Cokrosuseno (wakil ketua), R. Moh. Gasim Prawirodiharjo (sekretaris), Atmojo (bendahara), M. Prawiroamidarmo (Bagian Tabligh), R. Kadarisman, Moh. Ihsan Thahir (Pembantu).{145}
Pada 1954, sekalipun banyak pemimpin Muhammadiyah Cabang Malang yang beralih kegiatannya ke dunia politik, tidak berarti nafas kehidupan Muhammadiyah habis. Tanda-tanda bahwa Muhammadiyah di Malang masih ada dan hidup adalah adanya reformasi pengurus di tingkat ranting, seperti Poncokusumo, Donomulyo, Kebonsari Probolinggo, Kepanjen, Klayatan, Sumberpasir, Tutur Arjowinangun, dan Lekok.{146}
Suara Muhammadiyah (Januari 1955) memuat daftar ulama yang ada di beberapa cabang dan ranting di Daerah Malang, antara lain: Awad Talib (Malang), R.H. Muh. Yahya Rasidi (Lumajang), Muh. Bajuri (Lumajang), HM Kholil A. Aziz (Probolinggo), Abdusyakur (Probolinggo), H. Zayadi Anwar (Probolinggo), Moh. Wasian (Probolinggo), Moh. Ja’far (Probolinggo){147}
Sementara itu, di Pasuruan, kepengurusan HW Cabang diperbarui di bawah pimpinan Moh. Yunus (ketua), Sukardi (sekretaris I), Arif (sekretaris II), Prabowo (bendahara I), Sutrisno
Halaman 143
(bendahara II), Suharto, Karim (pembantu).{148} Pada 1955, Muhammadiyah Cabang Ponorogo dipimpin Alidiwiryo (ketua), Qomar (ketua II), H. Imam Jazuli (sekretaris I), Sujono (sekretaris II), Mohammad Jazuli (bendahara I), Ys. Achjari (bendahara II), Pembantu-pembantu: Dwijomartoyo, K. Harjosuwignyo, Prawirosuparto.{149}
- Gerak Amal Usaha
Amal usaha Muhammadiyah di Jawa Timur pada periode ini masih tampak di beberapa cabang. Cabang Gresik, misalnya pada 1950 masih menyelenggarakan sebuah Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hanya saja SMP ini terpaksa berhenti karena kurangnya tenaga pengelola, sehingga kalah bersaing dengan SMP Negeri. Baru pada 1956 SMP Muhammadiyah tersebut bangkit kembali.{150}
Berdirinya Muhammadiyah dan Pandu HW pada 1951 di Lamongan terus berlanjut dengan berdirinya Taman Kanak-Kanak. Menyusul pada 1952 berdiri SMP, sebagai SMP Muhammadiyah pertama di Lamongan.{151}
Pada 1951 Cabang Muhammadiyah Trenggalek mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI). Karena tidak mempunyai pengelola dari kalangan Muhammadiyah yang profesional, pengelolaannya
Halaman 144
diserahkan kepada orang yang bukan anggota Muhammadiyah bernama Sunaryo. Orang ini kemudian menghentikan kegiatan sekolah dan menggiring murid-muridnya ke sekolah yang dikelola Taman Siswa yang ia dirikan. Pengurus Cabang kemudian menutup SMI itu dan mendirikan SMPM, tetapi sekolah ini pun tidak dapat beroperasi, dan kemudian diubah menjadi PGA 4 Tahun.{152}
Pada 18 Nopember 1952, bertepatan dengan Milad ke-40 Muhammadiyah, diresmikan pembangunan gedung Anak Yatim yang berlokasi di Kampung Carikan Surabaya. Lokasi Panti Asuhan di kampung Carikan tersebut saat ini bernama Jalan Gresikan 59. Pada saat itu anak yatim yang diasuh berjumlah 10 orang.
Pada 9 Agustus 1954 Muhammadiyah Cabang Jombang membangun rumah yatim piatu. Pengurus membebaskan tanah seluas 3.000 meter persegi yang terletak di Jomatan, Jombang, dekat alun-alun Jombang (sekarang Jl. Dr. Sutomo).{153}
Pada 1954 Muhammadiyah Cabang Sumenep membuka Madrasah Diniyah di Pasongsongan yang dikepalai M. Marikan Maany,{154} juga sebuah Madrasah Diniyah yang dikelola Ranting Pasean, dan dikepalai oleh Achmad Syafi’i.{155}
Pada tahun yang sama, cabang-cabang Muhammadiyah di Daerah
Halaman 145
bidang pendidikan adalah Cabang Muhammadiyah Ponorogo dan Cabang Madiun. Di Ponorogo, Bustanul Athfal dikepalai oleh Ny. Suprapto, SR dikepalai oleh Sumail Edrisy, Pendidikan Guru Agama (PGA) dan SMP dikepalai Sujono.{156} Sementara itu, di kota Madiun sendiri, tercatat sejumlah sekolah yang dikelola oleh Muhammadiyah Ranting Barat, yakni PGA yang dipimpin oleh M. Sumoyong, dan Madrasah Diniyah di Ranting Plalangan yang dipimpin Mislan.{157}
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments