Edukasi pemilahan sampah menjadi langkah awal yang dilakukan mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) untuk mendorong kepedulian warga terhadap kebersihan lingkungan. Melalui program WARGA ASRI (Wujud Aksi Ramah Lingkungan melalui Gerakan Edukasi Pemilahan Sampah), mahasiswa mengajak masyarakat Lingkungan Gowah, Desa Blimbing, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, memahami pengelolaan sampah mulai dari rumah.
Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Maqbul, Lingkungan Gowah, pada Rabu (26/8/2026) dan diikuti sekitar 50 warga. Kegiatan menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman sekaligus mendorong kebiasaan memilah sampah berdasarkan jenisnya.
Program WARGA ASRI dilaksanakan berdasarkan hasil observasi mahasiswa PLP yang menemukan bahwa pemahaman masyarakat mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik masih perlu ditingkatkan. Pengelolaan sampah rumah tangga yang belum optimal juga menjadi salah satu persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian bersama.
Edukasi Dimulai dari Lingkungan Rumah
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai jenis-jenis sampah, perbedaan sampah organik dan anorganik, pentingnya memilah sampah sejak dari rumah, serta manfaat pengelolaan sampah bagi keberlanjutan lingkungan.
Materi disampaikan menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut membantu peserta mengenali jenis sampah yang sering ditemukan di lingkungan rumah sekaligus memahami langkah sederhana untuk mengelolanya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui diskusi dan sesi tanya jawab. Warga diberikan kesempatan menyampaikan pengalaman maupun kendala yang mereka hadapi dalam mengelola sampah di lingkungan sekitar.
Pendekatan tersebut menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Community Empowerment, dengan menempatkan masyarakat sebagai mitra aktif dalam proses pemberdayaan. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendorong masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga lingkungan.
Ketua Majelis, Sumei, mengapresiasi kegiatan edukasi yang dilakukan mahasiswa PLP Umsida. Menurutnya, pemilahan sampah merupakan kebiasaan penting yang perlu dimulai dari lingkungan keluarga.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama untuk menambah pemahaman tentang bagaimana membedakan dan memilah sampah. Harapannya, setelah mendapatkan sosialisasi ini, ibu-ibu dan masyarakat tidak hanya memahami materinya, tetapi juga dapat menerapkannya di rumah sehingga lingkungan menjadi lebih bersih dan nyaman,” ujarnya.
Hadirkan Gerakan “PILAH ITU MUDAH!”
Selain memberikan edukasi, mahasiswa mendorong masyarakat mulai menerapkan kebiasaan memilah sampah dari rumah dengan memisahkan sampah sesuai jenisnya. Langkah sederhana tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi kebiasaan bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, mahasiswa juga menghadirkan gerakan “PILAH ITU MUDAH!” melalui penyediaan fasilitas tempat sampah terpilah yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu warga menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama sosialisasi. Dengan demikian, edukasi tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dilanjutkan melalui praktik pemilahan sampah dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi mahasiswa PLP Umsida, kegiatan ini juga menjadi pengalaman pembelajaran langsung untuk memahami persoalan lingkungan di tengah masyarakat. Interaksi dengan warga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengidentifikasi kebutuhan sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi dalam proses pemberdayaan masyarakat.
Program WARGA ASRI menjadi bagian dari implementasi PLP yang mengintegrasikan edukasi, pendampingan, dan kolaborasi antara mahasiswa dengan masyarakat serta lingkungan sekitar.
Melalui program tersebut, mahasiswa PLP Umsida mengajak warga memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana. Pemilahan sampah bukan sekadar aktivitas memisahkan jenis sampah, melainkan langkah awal untuk membangun kepedulian dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan.
Dengan adanya edukasi, fasilitas pendukung, dan partisipasi masyarakat, gerakan pemilahan sampah di Lingkungan Gowah diharapkan dapat terus berkembang menjadi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments