Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Melihat Kemeriahan Muktamar ke-15 Muhammadiyah 1926 di Surabaya (1)

Iklan Landscape Smamda
Melihat Kemeriahan Muktamar ke-15 Muhammadiyah 1926 di Surabaya (1)
Ilustrasi Kongres Muhammadiyah pada tempo dulu (Foto: ist/PWMU.CO)
Oleh : Muh Kholid AS

Muhammadiyah menyelenggarakan Muktamar ke-15 di Surabaya pada tanggal 25 Februari – 1 Maret 1926. Saat itu, namanya masih kongres, dan diselenggarakan setiap tahun. Surabaya tercatat sebagai tuan rumah yang pertama acara di luar Yogyakarta. Suasana kongres terekam cukup rinci dalam surat kabar De Indische Courant 1, 2, dan 3 Maret 1926. Juga De Lokomotief edisi 3 Maret 1926, dan De Sumatra Post edisi 12 Maret 1926.

***

Berbagai media berbahasa Belanda itu melaporkan jalannya kongres sejak hari pertama hingga hari terakhir. Lengkap dengan daftar peserta, agenda sidang, hingga perkembangan amal usaha Muhammadiyah yang ketika itu mulai menjangkau berbagai wilayah di Nusantara.

Laporan itu memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana gerak Muhammadiyah. Baru berdiri sekitar 14 tahun sebelumnya, tapi telah berkembang menjadi organisasi Islam modern dengan jaringan yang semakin luas.

Kongres dimulai pada Kamis malam, 25 Februari 1926. Sekitar pukul 20.30, panitia mengadakan pertemuan tertutup di gedung sekolah Tarbiatoel Aitam di Genteng. Malam pertama ini lebih difokuskan pada penyambutan dan perkenalan antardelegasi yang datang dari berbagai daerah.

Para utusan yang hadir berasal dari Wotgalek (Surabaya), Pliken Banyumas, Sumberpucung, Kotagede, Malang, Bondowoso, Jagang di Madiun, hingga Monrujan di Madiun. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa jaringan Muhammadiyah saat itu telah menjangkau berbagai kota di Pulau Jawa.

Selain para utusan itu, hadir pula wakil-wakil dari cabang Muhammadiyah. Cabang yang hadir dari Surabaya, Kepanjen, Pekalongan, Pekajangan, Surakarta, Garut, Purwokerto, Batavia, Purbalingga, Ponorogo, Lumajang, Klaten, Bumiayu, Jember, Banjarnegara, Kutoharjo, Blitar, Kudus, Madiun, Pasuruan, Bangil, dan Tegal.

Daftar peserta itu memperlihatkan bahwa Muhammadiyah tidak lagi hanya berpusat di Yogyakarta. Dalam waktu relatif singkat, organisasi ini telah membangun jaringan yang kuat di berbagai daerah, terutama di Jawa.

Pertemuan malam pertama berlangsung hingga sekitar pukul 00.00 tengah malam. Karena sifatnya tertutup, agenda yang dibahas lebih banyak berkaitan dengan koordinasi internal dan persiapan pelaksanaan sidang utama pada keesokan harinya hingga 1 Maret 1926 mendatang.

Keesokan harinya, Jumat pagi, 26 Februari 1926, suasana kongres berubah jauh lebih semarak. Sidang anggota diselenggarakan di Stadstuin-Theater. Yaitu sebuah gedung pertunjukan yang saat itu menjadi salah satu bangunan representatif di Surabaya.

Selain para utusan cabang dan grup (ranting) Muhammadiyah, hadir pula wakil dari sejumlah organisasi yang memiliki hubungan erat dengan Persyarikatan, yakni Tarbiatoel Aitam, Watonnijah, Mardi Santosa, Mardi Oetomo, Moefidah, dan Choerrijah.

SMPM 5 Pucang SBY

Tepat pukul 09.00, rapat dibuka oleh ketua sidang, KH Ibrahim –oleh media massa ditulis Hadji Brahim. Sebelum memasuki agenda utama, sebuah telegram dari Pengurus Besar Muhammadiyah –sekarang Pimpinan Pusat– di Yogyakarta dibacakan di hadapan seluruh peserta.

Yang menarik, laporan De Indische Courant menyebutkan bahwa sekitar 1.500 laki-laki dan perempuan memenuhi ruang sidang. Jumlah itu tergolong sangat besar untuk ukuran pertemuan organisasi pada masa kolonial. Kehadiran perempuan dalam jumlah yang signifikan juga menunjukkan bahwa Muhammadiyah sejak awal telah memberikan ruang bagi partisipasi perempuan dalam kehidupan organisasi.

Agenda pertama diawali dengan sambutan Ketua Panitia Kongres. Yaitu S. Wondowidjojo, yang pada saat bersamaan juga sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya.

Dalam pidatonya, panitia menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta yang datang dari berbagai daerah. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Direktur Stadstuin-Theater yang telah meminjamkan gedung itu secara cuma-cuma sehingga kongres dapat berlangsung dengan baik.

Setelah itu, Ketua PP Muhammadiyah menyampaikan pidato pembukaan. Isi pidato diawali dengan ucapan selamat datang dan rasa syukur, dilanjutkan doa kepada Allah Swt., serta nasihat yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an beserta penjelasannya. Nuansa religius menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap rangkaian sidang.

Pembacaan ayat suci Al-Qur’an kemudian dilakukan oleh H. Mas Mansur, penasihat Muhammadiyah Cabang Surabaya. Menariknya, ayat-ayat yang dibacakan tidak hanya dilantunkan. Tapi juga diterjemahkan serta dijelaskan maknanya kepada para peserta. Cara seperti ini menjadi ciri khas Muhammadiyah yang menekankan pentingnya memahami isi Al-Qur’an, bukan sekadar membacanya.

Setelah pengesahan risalah rapat sebelumnya, sidang memasuki sesi yang paling dinantikan, yakni penyampaian laporan perkembangan Muhammadiyah. Laporan menunjukkan pertumbuhan organisasi yang sangat pesat.

Hingga tahun 1925, Muhammadiyah telah memiliki 38 cabang. Menariknya, satu cabang sudah berdiri di luar Pulau Jawa atau wilayah yang saat itu disebut Buitenbezittingen. Selain itu terdapat 28 grup atau ranting, beberapa di antaranya juga berada di luar Jawa.

Sepanjang tahun 1925 saja, Muhammadiyah berhasil mendirikan 15 cabang baru. Angka itu menunjukkan laju ekspansi organisasi yang cukup mengesankan mengingat usia Muhammadiyah ketika itu baru sekitar satu setengah dekade. (bersambung)

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 19/07/2026 07:44
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu