Di usia yang tak lagi muda, ketika banyak orang mulai memperlambat langkah dan menikmati hasil kerja panjangnya, Dr. Drs. H. Wijayadi, M.Pd justru memulai sesuatu yang baru. Sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin dianggap terlambat. Namun baginya, kreativitas tidak pernah mengenal kata terlambat.
Pria kelahiran Madiun, 15 Mei 1966 itu, dikenal sebagai dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Di lingkungan kampus, dia akrab sebagai akademisi yang tekun bekerja, tenang, dan lebih sering membuktikan sesuatu lewat hasil daripada banyak bicara.
Namun di balik dunia akademik yang telah dijalaninya selama puluhan tahun, tersimpan sisi lain yang jarang diketahui banyak orang: Wijayadi adalah seorang musisi sekaligus penulis lagu.
Kini, Wijayadi sibuk memperkenalkan lagu-lagu ciptaannya ke dunia digital. Diam-diam, selama lebih dari dua dekade, dia menulis puluhan lagu.
Ada yang lahir dari kegelisahan hidup, ada yang tumbuh dari suasana politik dunia, ada pula yang hanya berangkat dari secangkir kopi hitam.
“Saya sudah upload satu lagu saya yang paling sederhana di DistroKid sembilan hari lalu,” ujarnya kepada PWMU.CO, Ahad (10/5/2026).
Padahal, yang ia lakukan bukan hal sederhana. Lagu itu didistribusikan ke berbagai platform dunia seperti YouTube Music dan Spotify. Sebuah langkah yang bahkan tidak semua anak muda berani memulai.
Dia lalu tertawa kecil ketika menceritakan hasilnya. “Di Spotify sudah diputar hampir 1.500 kali. Lumayan untuk pemula dan lagu pertama dalam sembilan hari,” cetusnya, lalu tersenyum.
Kalimat itu diucapkan tanpa nada membanggakan diri. Lebih seperti rasa syukur yang ditahan agar tidak terdengar berlebihan.
Namun di balik angka-angka digital itu, ada perjalanan panjang yang jarang diketahui orang.
Dua Puluh Tahun Menyimpan Lagu
Saya sudah lama mengenal Pak Wijayadi—begitu saya biasa memanggilnya. Sejak 1994, ketika saya masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya, yang saat itu masih dikenal sebagai Unmuh Surabaya.
Pak Wijayadi mengajar Listening, salah satu mata kuliah keterampilan berbahasa Inggris. Sosoknya tenang, sederhana, dan dekat dengan mahasiswa. Kakaknya, Ali Murtadho, adalah wartawan Jawa Pos yang juga saya kenal karena saat itu saya bekerja sebagai wartawan Suara Indonesia—yang kemudian berubah menjadi Radar Surabaya—bagian dari grup Jawa Pos.
Suatu hari, saya pernah melihat Pak Wijayadi memainkan gitar di Laboratorium Bahasa Inggris kampus. Lagu yang ia bawakan adalah Leaving on a Jet Plane, lagu ikonik karya John Denver yang ditulis pada 1966. Lagu tentang beratnya perpisahan itu terasa begitu pas dengan suasana sore di kampus.
Setelah momen itu, saya nyaris tidak pernah lagi melihat Pak Wijayadi bermain gitar. Musik seolah hanya menjadi sisi kecil dari dirinya yang tenggelam dalam kesibukan akademik.
Baru pada April 2016, ketika saya menjadi mahasiswa S2 Bahasa dan Sastra Indonesia, saya kembali bertemu dengannya di kampus. Saat itulah ia memperdengarkan lagu ciptaannya sendiri sambil memainkan gitar. Suasananya terasa syahdu. Ada nada-nada yang terdengar matang, seperti lahir dari perjalanan hidup yang panjang.
Ternyata selama hampir dua puluh tahun, Wijayadi diam-diam menyimpan lagu-lagunya sendiri. Kini jumlahnya mencapai sekitar 56 lagu. Sebagian besar ditulis di sela kesibukannya sebagai dosen di UMSurabaya, pengelola pendidikan, sekaligus aktivis akademik yang terlibat dalam berbagai perjuangan institusi.
Lagu-lagu itu tidak lahir dari studio mewah atau industri musik besar. Sebagian besar tumbuh dari ruang-ruang sunyi: dari perjalanan hidup, renungan malam, kegelisahan batin, hingga perjumpaannya dengan berbagai peristiwa dunia.
“Dua tahun upload di DistroKid belum tuntas,” katanya merendah, seolah karya-karya yang ia simpan selama puluhan tahun itu hanyalah catatan kecil dari perjalanan hidupnya.
Padahal, terasa seperti ada mimpi lama yang sedang ia rapikan satu per satu—mimpi yang dulu tertunda karena terlalu sibuk mengurus banyak hal dan membantu banyak orang.
Di kawasan Lidah Wetan, dekat lingkungan Unesa, Wijayadi kerap berkumpul dengan teman-temannya yang sama-sama mencintai musik. Mereka bukan musisi profesional. Hampir semuanya telah memiliki pekerjaan dan jalan hidup masing-masing. Musik bagi mereka hanyalah hobi. Namun, menurut Wijayadi, kemampuan teman-temannya itu “di atas rata-rata.”
Dari pertemuan-pertemuan sederhana itulah lagu-lagu lama kembali dihidupkan.
Tidak ada ambisi menjadi artis terkenal. Tidak ada obsesi panggung besar. Yang ada hanyalah keinginan sederhana: jangan sampai karya-karya itu ikut terkubur oleh usia.
Menariknya, lagu-lagu Wijayadi tidak berhenti pada tema cinta atau hiburan ringan. Banyak di antaranya menyimpan lapisan makna yang dalam.
Salah satu lagunya berjudul Kalau Waktu Tak Pernah Menunggu. Lagu itu terinspirasi dari Surat Al-‘Ashr dalam Al-Qur’an—tentang waktu yang terus berjalan, tentang manusia yang sering terlambat menyadari hidup, dan tentang umur yang diam-diam habis tanpa terasa.
Barangkali karena kesadaran itulah ia akhirnya mulai mengunggah lagu-lagunya sekarang. Ada pemahaman yang datang pelan-pelan: waktu memang tidak pernah menunggu siapa pun.
Selain itu, ada dua lagu yang sangat ia banggakan: The Power of Hormuz Strait dan A Sip of Black Coffee.
Dia bahkan secara khusus meminta agar dua lagu itu diberi perhatian lebih. “Hormuz Strait terinspirasi perang Iran versus Amerika dan Israel. Itu penuh majas dan rima yang tertata,” katanya.
Di tangan Wijayadi, Selat Hormuz tidak lagi sekadar jalur geopolitik dunia. Ia berubah menjadi puisi musikal. Konflik internasional diterjemahkan menjadi metafora yang kaya, penuh permainan bunyi dan pilihan kata yang terukur.
Sementara A Sip of Black Coffee terdengar seperti perenungan sunyi seorang lelaki yang menikmati hidup perlahan, ditemani secangkir kopi hitam dan kesepian yang akrab.
Barangkali latar belakangnya sebagai dosen bahasa Inggris membuat lirik-liriknya terasa berbeda. Ia tidak menulis secara sembarangan. Setiap metafora, bunyi, dan ritme dipikirkan dengan cermat.
“Di situ kaya dengan majas dan rima yang sangat terukur,” tuturnya.
Dekanat, Musik, dan Perjuangan Pendidikan Profesi
Namun kehidupan Wijayadi tidak hanya tentang musik. Di dunia pendidikan tinggi, ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang ikut memperjuangkan pendidikan profesi di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang kini berubah menjadi akultas Pendidikan, Komunikasi dan Sains (FPKS) Umsura selama bertahun-tahun.
Perjuangan itu tidak mudah. “Pendidikan profesi sudah diupayakan selama 15 tahun dan gagal. Baru era saya kemarin semuanya punya Pendidikan Profesi Guru (PPG),” ungkapnya.
Kalimat itu menyimpan sejarah panjang tentang birokrasi, proposal, perjuangan administratif, hingga ketekunan yang melelahkan. Bahkan pada akhirnya perjuangan itu membuahkan hibah hampir Rp 2 miliar dari Dikti.
Baginya, keberhasilan bukan hanya soal gelar atau jabatan. Tetapi tentang membuka jalan bagi banyak orang setelahnya.
Yang menarik, di tengah kesibukan mengurus dekanat dan perjuangan akademik, Wijayadi tetap membawa musik.
Dia pernah membawakan lagunya sendiri saat masa promosi di dekanat. Sebuah momen yang mungkin tidak biasa dalam dunia akademik yang sering terasa formal dan kaku.
Namun justru di situlah sisi lain dirinya muncul: seorang akademisi yang tidak kehilangan jiwa seni.
Tetap Ikhlas di Muhammadiyah
Di ujung percakapan, Wijayadi mengatakan sesuatu yang sederhana tetapi terasa dalam.
“Berupaya tetap ikhlas kerja di Muhammadiyah, apa pun yang terjadi,” tutur pria kalem ini.
Kalimat itu terdengar tenang. Tanpa drama. Tanpa keluhan. Padahal mungkin dia telah melewati banyak hal: kegagalan, penantian panjang, kerja sunyi yang tak selalu terlihat, hingga mimpi-mimpi pribadi yang tertunda puluhan tahun.Tetapi dia tetap berjalan.
Kini, di tengah usia yang telah matang, dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya itu mulai memperdengarkan lagu-lagunya kepada dunia. Pelan-pelan. Satu demi satu.
Mungkin tidak semua orang memahami lirik-liriknya. Mungkin tidak semua lagu akan viral. Mungkin sebagian hanya akan diputar diam-diam oleh orang asing di sudut dunia.
Namun bagi Wijayadi, barangkali itu sudah cukup. Karena sesungguhnya ia tidak sedang mengejar popularitas.
Dia hanya sedang memastikan bahwa nada-nada yang ia simpan selama 20 tahun itu akhirnya menemukan jalan pulang kepada pendengarnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments