Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Anak Bukan Putri Malu: Kita yang Sering Memaksa Mereka Menguncup

Iklan Landscape Smamda
Anak Bukan Putri Malu: Kita yang Sering Memaksa Mereka Menguncup
Tanaman kecil di sela ilalang: putri malu Mimosa Pudica. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Basirun

Pagi itu bakda sholat Subuh, Ahad (10/5/2026), saya berjalan-jalan di sekitar Stasiun Keboharan bersama cucu. Di antara udara segar dan semak liar yang tumbuh bebas, perhatian kami tertuju pada satu tanaman kecil di sela ilalang: putri malu Mimosa pudica

Cucu saya menyentuh daunnya. Seketika, daun hijau itu menguncup rapat.

“Mbah Kung, kenapa tanaman ini menutup kalau saya pegang?” tanyanya polos.

Sebuah pertanyaan sederhana, namun dari sanalah sebuah refleksi besar bermula. Saya menjelaskan kepadanya tentang seismonasti—respons alami tumbuhan terhadap rangsangan fisik. Namun, jauh di lubuk hati, pikiran saya justru melayang pada fenomena yang jauh lebih mengkhawatirkan di dunia manusia: bullying.

Normalisasi Luka yang Tersembunyi

Kita sering melabeli anak yang pendiam sebagai sosok yang “kalem”. Kita menyebut anak yang menarik diri sebagai pribadi yang “kurang percaya diri”. Kadang, kita bahkan menertawakan anak yang tampak terlalu perasa.

Padahal, barangkali mereka tidak terlahir seperti itu. Mereka mungkin sedang “menguncup”.

Layaknya putri malu, anak-anak menutup diri bukan tanpa alasan. Ada “sentuhan” yang terlalu kasar yang mereka terima—ejekan yang dianggap remeh, tekanan yang melampaui batas, atau kekerasan verbal yang dibungkus dengan dalih candaan.

Sering kali, kita gagal membedakan antara humor dan luka. Di lingkungan pendidikan, perundungan masih kerap berlindung di balik kalimat pemakluman:

“Namanya juga anak-anak.”

“Ah, cuma bercanda kok.”

“Biar mentalnya kuat menghadapi dunia.”

Kalimat-kalimat ini terdengar lumrah, namun di situlah letak bahayanya: kita sedang menormalisasi luka. Data dari berbagai lembaga perlindungan anak di Indonesia menunjukkan bahwa kasus perundungan bersifat repetitif (berulang) dan destruktif (merusak). Dampaknya tidak pernah sederhana; mulai dari hilangnya rasa percaya diri, kecemasan akut, hingga trauma jangka panjang yang membekas hingga dewasa.

SMPM 5 Pucang SBY

Ilalang Sosial dan Rasa Aman

Ironisnya, semua itu bermula dari hal kecil yang dianggap sepele—seperti sentuhan ringan pada daun putri malu. Bedanya, daun putri malu akan kembali mekar setelah beberapa saat. Namun, hati anak yang terluka tidak selalu memiliki kemewahan untuk pulih secepat itu.

Kita hidup di lingkungan yang penuh dengan “ilalang sosial”—persaingan sengit, tekanan standar hidup, dan tuntutan yang menyesakkan. Anak-anak dipaksa tumbuh cepat, tangguh, dan kuat. Namun, kita sering melupakan satu fondasi mendasar: rasa aman.

Tanpa rasa aman, yang tumbuh bukanlah keberanian, melainkan ketakutan yang disembunyikan dengan rapi.

Pengalaman pagi itu menyadarkan saya bahwa barangkali masalahnya bukan pada anak-anak yang terlalu sensitif. Barangkali, justru kita yang terlalu kasar dalam bersikap—baik melalui kata-kata, candaan yang merendahkan, maupun pola didik yang kaku.

Kita menuntut anak untuk tampil berani, namun kita sering mempermalukan mereka di depan umum. Kita ingin anak percaya diri, namun kita gemar membanding-bandingkan mereka dengan orang lain. Kita ingin anak menjadi kuat, namun kita membiarkan mereka disakiti atas nama “proses pendewasaan”.

Jika ini terus dibiarkan, jangan heran jika semakin banyak anak yang memilih untuk diam. Bukan karena mereka tidak memiliki suara, tetapi karena mereka telah belajar bahwa bersuara di dunia ini tidaklah aman.

Menanam Empati Sejak Dini

Saya menatap cucu saya yang masih asyik bermain dengan putri malu itu. Saya berbisik pelan kepadanya, “Nanti kalau punya teman, jangan suka mengejek, ya. Karena hati temanmu itu persis seperti daun ini.”

Ia mengangguk pelan. Mungkin ia belum sepenuhnya memahami kedalaman makna di baliknya. Namun, di sanalah harapan itu tumbuh—bahwa empati harus ditanam sejak dini, sebelum kerasnya dunia mengajarkan hal yang sebaliknya.

Kita memang tidak bisa menghentikan setiap sentuhan kasar yang mungkin menerpa hidup anak-anak kita. Namun, kita punya pilihan: apakah kita ingin menjadi sentuhan yang menyirami mereka untuk terus tumbuh, atau justru menjadi alasan mengapa mereka memilih untuk menguncup.

Sebab pada akhirnya, anak-anak bukanlah putri malu. Mereka tidak dilahirkan untuk menutup diri dari dunia. Kitalah—orang dewasa dan lingkungan—yang tanpa sadar sering mengajarkan mereka untuk melakukannya. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 10/05/2026 13:30
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡