Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

PDNA Banyuwangi Sukses Gelar ‘Bonding with Earth’ Lewat Dialog Inklusif

Iklan Landscape Smamda
PDNA Banyuwangi Sukses Gelar ‘Bonding with Earth’ Lewat Dialog Inklusif
Peserta Eco Sign Language Mini Class PDNA Banyuwangi saat mengikuti Pembelajaran bahasa isyarat bersama perwakilan komunitas tuli, Sabtu (30/05/2026). (Cici Arista/PWMU.CO).
pwmu.co -

Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Banyuwangi Jawa Timur menghadirkan pendekatan berbeda dalam mengajak generasi muda peduli terhadap lingkungan.

Melalui kegiatan “Bonding with Earth, Grounding with Heart: Young Women Guardians of Civilization”, peserta tidak hanya diajak membersihkan pesisir Pantai Cemara Banyuwangi Jawa Timur. Tetapi juga belajar membangun komunikasi yang lebih inklusif bersama komunitas tuli.

Adapun agenda ini terselenggara dalam rangka Memperingati Milad ke-95 Nasyiatul Aisyiyah.

Pelajari Bahasa Isyarat

Kegiatan yang berlangsung di Pantai Cemara, Pakis, Banyuwangi Jawa Timur, pada Sabtu (30/05/2026) tersebut terhadiri Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur.

Kemudian hadir pula pengurus PDNA Banyuwangi, Komunitas Tuli Banyuwangi, Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) Banyuwangi, serta Rumah Quran Sahabat Tuli (RQST).

Kegiatan ini diikuti sekitar 60 kader Nasyiatul Aisyiyah dari 17 Pimpinan Cabang se-Kabupaten Banyuwangi bersama 12 teman tuli dari berbagai wilayah di Banyuwangi.

Selain aksi bersih pantai, peserta mengikuti Inclusive Eco Dialogue dan Eco Sign Language Mini Class yang menjadi salah satu rangkaian utama kegiatan.

Melalui sesi tersebut, peserta berkesempatan memahami pentingnya keterlibatan penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk gerakan pelestarian lingkungan.

Dalam sesi pembelajaran bahasa isyarat, peserta terbagi ke dalam beberapa kelompok kecil yang masing-masing didampingi oleh perwakilan komunitas tuli.

Pendampingan tersebut membuat proses belajar berlangsung lebih interaktif karena peserta dapat berkomunikasi secara langsung dan mempraktikkan setiap materi yang diberikan.

Peserta mempelajari dasar-dasar bahasa isyarat, mulai dari mengenal huruf alfabet, memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, hingga mempraktikkan bacaan Bismillah, Alhamdulillah, dan Surah Al-Fatihah menggunakan bahasa isyarat.

Selain itu, peserta juga belajar menyampaikan pesan sederhana tentang kepedulian lingkungan, seperti ajakan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Suasana belajar berlangsung hangat dan penuh antusias. Setelah menerima materi, beberapa peserta mendapat kesempatan untuk mempraktikkan kembali apa yang telah dipelajari di hadapan kelompok lain.

SMPM 5 Pucang SBY

Mereka diminta menjelaskan materi menggunakan bahasa isyarat sebagai bentuk evaluasi sekaligus penguatan pemahaman.

Keresahan PWNA Jatim

Ketua PWNA Jawa Timur, Zahrotul Jannah SKom MM menjelaskan bahwa hadirnya konsep inklusivitas dalam kegiatan tersebut berangkat dari keresahannya terhadap masih minimnya keterlibatan penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan.

“Jadi awal kenapa ada inklusivitas di kegiatan Nasyiatul Aisyiyah ini berawal dari sebuah keresahan saya. Banyak kegiatan, termasuk aksi lingkungan, yang jarang melibatkan teman-teman difabel, padahal mereka juga bagian dari kita semua,” ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan akses yang dimiliki penyandang disabilitas tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan bersama.

“Kita bisa aksi bersih pantai bersama, kemudian belajar bahasa isyarat sehingga kita lebih menyatu dan lebih inklusif. Kegiatan kita tidak eksklusif hanya untuk yang bisa mendengar atau melihat, tetapi juga menyertakan teman-teman difabel,” tambahnya.

Untuk mewujudkan semangat tersebut, PDNA Banyuwangi menggandeng berbagai komunitas, di antaranya gerakan Merdeka Sampah yang juga terinisiasi oleh Zahrotul Jannah, Komunitas Tuli Banyuwangi yang dipimpin Kak Putri Pangestu.

Kemudian ada juga GERKATIN Banyuwangi yang diwakili Kak Ricky Maleby Reksatama, serta Rumah Quran Sahabat Tuli bersama Ibu Alfia Nurin Ni’mah.

Kolaborasi tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk belajar langsung dari teman-teman tuli dalam suasana yang setara dan saling menghargai.

Melalui dialog inklusif dan pembelajaran bahasa isyarat, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru tentang cara berkomunikasi dengan teman tuli. Namun juga memahami pentingnya memberikan ruang yang setara bagi semua orang untuk terlibat dalam gerakan sosial dan lingkungan.

Kegiatan “Bonding with Earth, Grounding with Heart” ini menjadi bukti bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang memungut sampah. Melainkan juga tentang membangun kepedulian, kebersamaan, dan kesetaraan akses bagi seluruh lapisan masyarakat.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 31/05/2026 20:51
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu