Mata pelajaran Seni Budaya di SMP Muhammadiyah 1 Gresik kembali membuktikan bahwa proses belajar tidak selalu harus berlangsung di atas kertas. Pada Selasa (05/05/2026), Aula Al Qolam berubah menjadi panggung penuh semangat ketika siswa kelas 8A menampilkan gelar karya tari tradisional sebagai implementasi materi semester genap.
Di bawah bimbingan Maflakhah, S.S, guru Seni Budaya, para siswa menunjukkan antusiasme luar biasa dalam setiap penampilan.
“SNB adalah mapel yang ditunggu-tunggu karena porsi praktiknya besar. Anak-anak lebih bebas berekspresi,” ungkap Bu Maf, panggilan akrabnya.
Menariknya, semangat tersebut tidak hanya datang dari para siswi. Siswa laki-laki pun aktif berlatih dan tampil percaya diri, mematahkan stigma bahwa tari tradisional hanya identik dengan perempuan.
Penampilan dimulai pukul 13.15 WIB pada jam pelajaran ke-9 dan ke-10 dengan sajian tarian yang beragam. Salah satu kelompok menampilkan Tari Mappadendang dengan gerakan kipas yang anggun dan luwes. Sementara kelompok lain membawakan Tari Gundul-Gundul Pacul yang sarat pesan moral tentang tanggung jawab seorang pemimpin.
Kostum dan properti yang digunakan merupakan hasil kreativitas siswa sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menghasilkan karya yang menarik dan bermakna.
Momen paling berkesan hadir ketika kelompok siswa laki-laki menampilkan Tari Yamko Rambe Yamko dari Papua. Gerakannya sederhana namun penuh energi, mulai dari tepuk dada, hentakan kaki, hingga seruan semangat bersama.
Penampilan tersebut menjadi semakin istimewa karena melibatkan Hafiz, siswa kelas 8A yang merupakan anak berkebutuhan khusus.
Sejak proses latihan, kelompok ini menunjukkan solidaritas tinggi. Mereka dengan sabar mendampingi Hafiz, memberikan contoh gerakan, serta menempatkannya pada posisi yang memudahkan mengikuti irama. Hasilnya, Hafiz tampil percaya diri di atas panggung dan mampu mengikuti setiap ketukan bersama teman-temannya.
Maflakhah, S.S mengaku sangat mengapresiasi sikap para siswa dalam mendukung temannya.
“Yang mereka praktikkan hari ini bukan hanya teknik menari, tetapi juga nilai empati, kerja sama, dan penerimaan. Inilah hakikat pendidikan seni budaya,” tuturnya.
Momen haru tersebut turut diabadikan oleh wali kelas 8A, Hefa Yutisia Fanani, S.Pd, yang merekam dan membagikan dokumentasinya ke grup WhatsApp wali siswa. Orang tua Hafiz pun menyampaikan rasa syukur dan haru mendalam melihat putranya mendapat ruang untuk berekspresi serta diterima dengan hangat oleh teman-temannya.
Keberhasilan gelar karya ini menegaskan bahwa pembelajaran Seni Budaya di Spemutu mampu menjadi sarana pembentukan karakter siswa. Anak-anak tidak hanya belajar tentang keberagaman budaya Nusantara, tetapi juga mempraktikkan nilai toleransi dan kebersamaan secara langsung.
Usai penampilan, banyak siswa kelas 8A berharap kegiatan serupa dapat kembali diadakan. Mereka bahkan mengusulkan penampilan tari kontemporer dan modern pada kesempatan berikutnya sebagai ruang eksplorasi yang lebih luas.
Gelar karya tari tradisional ini bukan sekadar penilaian praktik, tetapi juga menjadi cerminan semangat Spemutu dalam mewujudkan sekolah yang ramah, kreatif, dan inklusif.
Dari Aula Al Qolam, semua belajar bahwa seni merupakan bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai perbedaan.





0 Tanggapan
Empty Comments