Setiap peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) selalu menghadirkan makna yang lebih dalam daripada sekadar perayaan bertambahnya usia kota.
Pada HJKS ke-733 tahun 2026, tema “Pancasila Kuat, Surabaya Hebat” menjadi pesan penting bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kuatnya nilai-nilai kebangsaan yang hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Surabaya selama ini dikenal sebagai Surabaya yang memiliki sejarah panjang perjuangan, keberanian, dan semangat persatuan. Karakter tersebut tidak hadir begitu saja, melainkan tumbuh dari keberagaman masyarakat yang mampu hidup berdampingan dengan menjunjung tinggi toleransi, gotong royong, dan kebersamaan.
Dalam konteks itulah tema HJKS tahun ini menjadi sangat relevan. Pancasila ditempatkan sebagai fondasi utama yang menjaga persatuan warga sekaligus menjadi arah dalam pembangunan kota yang berkelanjutan.
Perkembangan zaman yang semakin dinamis menghadirkan berbagai tantangan baru bagi masyarakat perkotaan. Perbedaan pandangan, perubahan sosial, hingga derasnya arus informasi sering kali menjadi ujian bagi persatuan dan kohesi sosial.
Namun, Surabaya menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah hambatan, melainkan kekuatan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi perekat yang menjaga harmoni sosial sekaligus mendorong masyarakat untuk terus bergerak maju bersama.
Semangat tersebut tidak berhenti pada slogan semata. Berbagai program pembangunan yang dijalankan Pemerintah Kota Surabaya berupaya memperkuat ruang-ruang kebersamaan dan partisipasi masyarakat.
Melalui Kampung Pancasila, Balai RW, Kader Surabaya Hebat, hingga berbagai gerakan gotong royong, masyarakat diajak menjadi bagian aktif dalam proses pembangunan kota. Program-program tersebut menunjukkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus bertumpu pada keterlibatan warga serta penguatan solidaritas sosial.
Keberanian yang menjadi identitas Surabaya tetap relevan hingga hari ini. Secara filosofis, nama Surabaya berasal dari kata sura yang berarti berani dan baya yang berarti bahaya.
Filosofi tersebut menggambarkan keberanian dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman. Semangat itu pula yang terus diwarisi oleh warga Surabaya dalam menghadapi berbagai persoalan perkotaan, mulai dari lingkungan, ekonomi, hingga transformasi digital yang berkembang begitu cepat.
Keberanian menghadapi tantangan menjadi modal penting agar Surabaya mampu terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Kota Pahlawan.
Pesan kebangsaan yang diusung HJKS ke-733 juga tercermin dalam identitas visual yang digunakan tahun ini.
Nuansa Garuda yang menjadi bagian dari logo melambangkan kokohnya nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Sementara bentuk tulisan “Surabaya” yang terinspirasi dari aksara Jawa Hanacaraka menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan akar budaya.
Sebaliknya, penghormatan terhadap sejarah dan budaya lokal justru menjadi fondasi yang memperkuat identitas kota di tengah arus modernisasi.
Berbagai rangkaian kegiatan yang memeriahkan HJKS, termasuk Surabaya Vaganza dan beragam festival kolosal lainnya, menjadi simbol kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
Perayaan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk memperkuat rasa memiliki terhadap kota sekaligus menumbuhkan optimisme dalam menyongsong masa depan.
Pada usia ke-733 tahun, Surabaya telah menunjukkan bahwa pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang mampu menyeimbangkan kemajuan fisik dengan pembangunan karakter masyarakat.
Infrastruktur dapat dibangun dalam waktu relatif singkat, tetapi persatuan, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong memerlukan komitmen yang terus dirawat dari generasi ke generasi.
Karena itu, tema “Pancasila Kuat, Surabaya Hebat” sejatinya merupakan ajakan bagi seluruh warga untuk terus mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan persatuan yang kuat dan semangat gotong royong yang tetap hidup, Surabaya akan terus menjadi kota yang tidak hanya maju dan modern, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, inklusif, dan berkeadaban.





0 Tanggapan
Empty Comments