Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

SatuMu: Mengubah “Saya Kira” Menjadi “Data Menunjukkan”

Iklan Landscape Smamda
SatuMu: Mengubah “Saya Kira” Menjadi “Data Menunjukkan”
Dr. Hasan Ubaidillah
Oleh : Dr. Hasan Ubaidillan, MM Ketua LPCRPM PWM Jawa Timur

Beberapa waktu terakhir, ada satu kata yang semakin sering terdengar di lingkungan Muhammadiyah: SatuMu.

Ya, nama platform digital Persyarikatan Muhammadiyah yang memudahkan operator dalam mengelola data dan layanan persyarikatan.

Kehadirannya menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk membangun tata kelola organisasi yang lebih terintegrasi, berbasis data, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Di forum pimpinan dibahas. Di grup WhatsApp Cabang dibagikan. Di Ranting mulai disosialisasikan. Bahkan, sebagian pengurus mulai sibuk mengumpulkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), nomor telepon, alamat, hingga data keluarga.

Ada yang menyambut antusias. Ada pula yang mengernyitkan dahi.

“Tambah pekerjaan lagi.”

“Yang penting kan dakwah. Kok malah sibuk input data?”

Kalimat-kalimat semacam itu sebenarnya bukan hal baru. Hampir setiap perubahan besar selalu diawali dengan keraguan.

Dulu, ketika administrasi mulai menggunakan komputer, ada yang merasa mesin tik masih cukup. Ketika rapat mulai memakai proyektor, papan tulis dianggap lebih praktis. Ketika media sosial mulai digunakan untuk berdakwah, ada pula yang bertanya, “Apa dakwah harus lewat Facebook?”

Kini pertanyaannya bergeser: Mengapa semua harus masuk SatuMu?

Jawabannya sederhana: bagaimana mungkin organisasi sebesar Muhammadiyah mengambil keputusan yang tepat jika tidak benar-benar mengenal warganya sendiri?

Muhammadiyah adalah organisasi besar. Warganya tersebar di berbagai daerah, dengan latar belakang profesi, pendidikan, usia, dan kemampuan yang beragam.

Namun, dalam mengelola organisasi, kita kadang masih menggunakan ilmu “kira-kira”.

“Kira-kira Ranting kita maju.”

“Kira-kira masjid kita ramai.”

“Kira-kira kaderisasi aman.”

“Kira-kira anak muda masih banyak.”

Masalahnya, “kira-kira” tidak selalu sama dengan kenyataan.

Bisa jadi sebuah Ranting tampak aktif, tetapi kader mudanya mulai berkurang. Sebuah masjid terlihat ramai, tetapi jamaahnya didominasi kelompok usia tertentu. Sebuah Cabang tampak besar dari luar, tetapi sebenarnya membutuhkan penguatan serius di dalam.

Di sinilah data menjadi penting.

Data membantu organisasi melihat kenyataan secara lebih jernih. Ia mengurangi ruang bagi asumsi, perasaan, dan perkiraan.

Bukan berarti intuisi pimpinan tidak penting. Justru pengalaman dan intuisi seorang pimpinan tetap dibutuhkan. Namun, di tengah perubahan yang begitu cepat, intuisi perlu diuji dengan fakta.

Pimpinan boleh punya feeling. Tetapi keputusan organisasi harus punya basis.

Perubahan Cara Berpikir

Karena itu, SatuMu semestinya tidak dipahami hanya sebagai proyek digital.

Lebih jauh dari itu, SATUMU adalah ikhtiar untuk mengubah cara Muhammadiyah berpikir dan mengambil keputusan.

Ini bukan soal sekadar memindahkan data dari kertas ke layar. Bukan pula sekadar membuat aplikasi agar terlihat modern.

Yang jauh lebih penting adalah membangun memori organisasi.

Bayangkan jika sebuah Pimpinan Cabang ingin mengetahui berapa banyak dokter Muhammadiyah di wilayahnya. Tidak perlu lagi bertanya dari satu orang ke orang lain.

Klik. Data tersedia. Ingin mengetahui siapa saja pengusaha Muhammadiyah di wilayah tersebut?

Klik. Ingin memetakan masjid yang belum memiliki Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA)?

Data dapat ditelusuri. Ingin mengetahui potensi kader muda berdasarkan profesi, pendidikan, dan kompetensinya?

Data dapat menjadi pintu masuk. Organisasi akhirnya tidak lagi hanya bertanya, “Siapa yang kita punya?”

Tetapi bisa mulai bertanya lebih jauh: “Potensi apa yang kita miliki dan apa yang bisa kita lakukan dengannya?”

Cara paling sederhana memahami pentingnya data adalah dengan melihat cara dokter bekerja.

Dokter tidak seharusnya memberikan diagnosis hanya berdasarkan dugaan. Keluhan pasien didengar. Pemeriksaan dilakukan. Jika diperlukan, hasil laboratorium dibaca.

SMPM 5 Pucang SBY

Barulah tindakan ditentukan. Diagnosis dulu, kemudian terapi. Bukan sebaliknya. Begitu pula organisasi.

Jangan sampai program dibuat terlebih dahulu, baru kemudian mencari siapa yang menjadi sasaran. Jangan sampai kegiatan kaderisasi disusun tanpa mengetahui kondisi kader. Jangan sampai program pemberdayaan dirancang tanpa memahami potensi warga.

Data membantu organisasi mengetahui persoalan sebelum menentukan tindakan.

Dengan begitu, energi organisasi tidak habis untuk program yang sebenarnya tidak menjawab kebutuhan.

Jangan Jadikan Sekadar Gudang Data

Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting. Aplikasi secanggih apa pun tidak akan banyak berarti jika budaya organisasinya tidak berubah.

Jangan sampai SatuMu hanya menjadi gudang data digital. Data dikumpulkan. Diinput. Tersimpan. Lalu selesai. Kalau itu yang terjadi, kita hanya memindahkan pekerjaan administrasi dari kertas ke layar.

Data harus hidup. Artinya, data harus dibaca, dianalisis, dan diterjemahkan menjadi kebijakan serta amal nyata. Data kader menjadi dasar kaderisasi. Data jamaah menjadi dasar pelayanan. Data profesi menjadi dasar pemberdayaan. Data anak muda menjadi dasar strategi regenerasi. Data masjid menjadi dasar penguatan dakwah.

Dengan cara itulah data berubah dari sekadar angka menjadi pengetahuan. Dan pengetahuan kemudian berubah menjadi tindakan.

Di situlah organisasi mulai menjadi adaptif. Organisasi yang adaptif bukan sekadar organisasi yang cepat bekerja. Ia adalah organisasi yang cepat belajar.

Cepat membaca perubahan. Cepat mengenali persoalan. Cepat menemukan potensi. Dan cepat mengubah pengetahuan menjadi amal.

Karena itu, keberhasilan SatuMu  jangan hanya diukur dari berapa juta data yang berhasil dikumpulkan. Jumlah data memang penting. Tetapi itu baru permulaan.

Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya justru terjadi ketika cara berpikir pimpinan ikut berubah.

Dari yang semula berkata: “Saya kira…”

menjadi: “Data menunjukkan…”

Perubahan kalimat itu tampak sederhana. Tetapi sesungguhnya menyimpan perubahan budaya organisasi yang sangat besar.

Sebab, ketika pimpinan mulai mengatakan “data menunjukkan”, keputusan tidak lagi semata-mata lahir dari kebiasaan. Ia lahir dari pengetahuan. Di situlah Muhammadiyah naik kelas.

Dari organisasi yang bekerja berdasarkan kebiasaan menjadi organisasi yang bekerja berdasarkan pengetahuan, pembelajaran, dan bukti.

Kembali kepada Semangat “Iqra”

Bukankah Islam sejak awal mengajarkan pentingnya membaca?

Wahyu pertama yang turun adalah:

اقْرَأْ

Iqra’.

Bacalah.

Membaca bukan hanya teks. Membaca juga berarti membaca keadaan, membaca perubahan, membaca manusia, membaca peluang, membaca persoalan, dan membaca masa depan.

Dalam konteks itu, SatuMu dapat dilihat sebagai salah satu ikhtiar Muhammadiyah untuk kembali menghidupkan semangat membaca.

Membaca warganya. Membaca potensinya. Membaca tantangannya. Membaca kekuatannya. Dan akhirnya, membaca masa depannya.

Dunia berubah begitu cepat. Teknologi berkembang. Generasi berganti. Pola komunikasi berubah. Kebutuhan masyarakat bergerak. Tantangan dakwah pun semakin kompleks.

Dalam situasi seperti itu, organisasi tidak cukup hanya mengandalkan jumlah anggota atau kebesaran sejarah.

Yang akan bertahan dan berkembang adalah organisasi yang mampu belajar lebih cepat daripada perubahan yang dihadapinya.

SatuMu, karena itu, jangan berhenti sebagai urusan mengisi data. Ia harus menjadi pintu menuju cara berorganisasi yang baru.

Cara berorganisasi yang lebih mengenal warganya, lebih peka membaca persoalan, lebih tepat mengambil keputusan, dan lebih cepat mengubah potensi menjadi amal.

Sebab pada akhirnya, data bukan tujuan. Data adalah cara untuk mengenali kenyataan. Pengetahuan adalah cara untuk memahami kenyataan. Dan amal adalah cara untuk mengubah kenyataan.

Di situlah SatuMu menemukan maknanya. Bukan sekadar mengisi data. Tetapi belajar membaca Muhammadiyah agar Muhammadiyah mampu membaca zaman. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 01/08/2026 11:32
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu