Belajar sejarah tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Hal itu dibuktikan murid kelas V dan VI SD Muhammadiyah 1 Karanggeneng (SD Musaka) melalui Pembelajaran Kontekstual di Museum Muhammadiyah, Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Rihlah Kemuhammadiyahan bertajuk Napak Tilas Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. Para murid diajak mengenal secara langsung berbagai peninggalan, informasi, dokumentasi, serta perjalanan Muhammadiyah dari masa ke masa.
Setibanya di museum, peserta mendapatkan pendampingan dari guide yang menjelaskan sejarah berdirinya Muhammadiyah, perjuangan K.H. Ahmad Dahlan, perkembangan persyarikatan, hingga berbagai koleksi yang tersimpan di museum.
Melalui kunjungan ini, murid tidak sekadar melihat benda dan dokumentasi sejarah. Mereka diajak memahami cerita dan nilai perjuangan di baliknya. Museum Muhammadiyah menjadi ruang belajar yang mempertemukan sejarah, perjuangan, dan perkembangan Muhammadiyah dalam satu pengalaman nyata.
Berbagai arsip, dokumentasi, serta visualisasi perjalanan Muhammadiyah juga memberikan gambaran tentang kiprah persyarikatan dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah, dan kemanusiaan.
Pengalaman tersebut membuat materi Kemuhammadiyahan yang selama ini dipelajari di sekolah terasa lebih dekat. Murid dapat menghubungkan pengetahuan dari buku dengan jejak sejarah yang mereka lihat secara langsung.
Sepanjang kegiatan, murid tampak antusias menyimak penjelasan guide. Mereka mengamati berbagai koleksi dan informasi yang tersedia, bahkan sesekali menunjukkan rasa ingin tahu dengan memperhatikan lebih dekat bagian-bagian tertentu di museum.
Salah satu murid kelas VI SD Musaka, Aflah, mengaku senang dapat belajar langsung di Museum Muhammadiyah.
“Saya senang bisa belajar di Museum Muhammadiyah. Di sini saya bisa melihat dan mengetahui secara langsung sejarah perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dan perjalanan Muhammadiyah. Setelah berkunjung ke sini, saya menjadi lebih memahami bahwa perjuangan para tokoh Muhammadiyah harus kita lanjutkan dengan belajar, berakhlak baik, dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Bagi SD Musaka, kegiatan ini bukan sekadar kunjungan ke museum. Pembelajaran kontekstual tersebut menjadi upaya menanamkan kecintaan terhadap sejarah dan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah kepada generasi muda.
Sejarah pun tidak berhenti sebagai rangkaian nama dan tahun yang harus dihafalkan. Lebih dari itu, sejarah menjadi sumber keteladanan yang dapat menginspirasi generasi berikutnya untuk berilmu, berakhlak, mandiri, dan memberikan manfaat.
Dari jejak perjuangan K.H. Ahmad Dahlan, murid SD Musaka belajar bahwa perubahan besar dapat dimulai dari keberanian untuk belajar, bergerak, dan memberikan manfaat.
Sebab, sejarah telah menorehkan jejak. Kini, saatnya generasi Musaka melanjutkan langkah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments