Perjalanan PSHW Ponorogo U-17 di Piala Soeratin 2026 akhirnya terhenti. Bermain penuh tekanan di Stadion Jenggolo Sidoarjo, Ahad (6/9/2026), PSHW Ponorogo harus mengakui keunggulan Persida Sidoarjo dengan skor 0-2.
Kekalahan ini terasa pahit karena PSHW Ponorogo sebenarnya tampil berani sejak menit awal. Anak asuh mantan pemain Timnas Indonesia, Aris Budi Prasetyo, langsung mengambil inisiatif serangan dan beberapa kali mengancam pertahanan Persida.
Namun, sepak bola bukan hanya soal menciptakan peluang. Efektivitas di depan gawang menjadi pembeda.
PSHW Ponorogo gagal mengonversi sejumlah peluang menjadi gol. Sebaliknya, Persida Sidoarjo tampil lebih klinis ketika mendapatkan kesempatan.
Dua peluang yang berhasil dimanfaatkan Persida bahkan berbuah gol pada babak pertama. PSHW Ponorogo pun memasuki ruang ganti dengan ketertinggalan 0-2.
Memasuki babak kedua, PSHW Ponorogo tidak menyerah. Intensitas serangan ditingkatkan. Para pemain mencoba memperkecil ketertinggalan dengan terus menekan pertahanan Persida.
Pertandingan pun berlangsung terbuka. Kedua tim silih berganti melakukan serangan. PSHW Ponorogo berusaha mengejar gol, sementara Persida beberapa kali mengancam melalui serangan balik.
Peluang demi peluang kembali tercipta. Namun, tidak ada yang mampu mengubah papan skor.
Hingga wasit meniup peluit panjang, skor tetap 0-2 untuk kemenangan Persida Sidoarjo.
Persida pun berhak melangkah ke babak semifinal, sedangkan PSHW Ponorogo harus mengakhiri perjuangannya di Piala Soeratin U-17 2026.
Aris: Kami Kurang Efektif Memanfaatkan Peluang
Pelatih PSHW Ponorogo U-17, Aris Budi Prasetyo, mengakui salah satu persoalan timnya dalam pertandingan tersebut adalah penyelesaian akhir.
Menurutnya, para pemain sebenarnya mampu membangun permainan dan menciptakan sejumlah peluang. Namun, kesempatan yang hadir belum mampu dikonversi menjadi gol.
“Kami sebenarnya punya beberapa peluang. Tetapi kami kurang mampu memanfaatkannya menjadi gol,” ujar Aris.
Dia menilai dua gol Persida pada babak pertama menjadi faktor penting yang memengaruhi jalannya pertandingan.
PSHW Ponorogo kemudian harus bekerja lebih keras pada babak kedua untuk mengejar ketertinggalan.
Meski kecewa dengan hasil akhir, Aris tetap memberikan apresiasi kepada para pemain yang telah berjuang hingga pertandingan berakhir.
“Selamat untuk Persida Sidoarjo yang mampu memenangkan pertandingan dan melaju ke semifinal. Bagi kami, ini menjadi evaluasi agar anak-anak bisa berkembang dan lebih siap menghadapi kompetisi berikutnya,” katanya.
Presiden HWFC, Dr. Suli Da’im, MM juga memberikan apresiasi terhadap perjuangan para pemain PSHW Ponorogo U-17.
Menurutnya, hasil pertandingan tidak boleh menghapus proses dan kerja keras yang telah dilakukan para pemain selama kompetisi.
“Anak-anak sudah berusaha maksimal. Namanya sepak bola, pasti ada yang menang dan ada yang kalah,” ujar Suli Da’im.
Ia meminta para pemain tidak larut dalam kekecewaan. Kekalahan dari Persida, kata dia, harus menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk menghadapi kompetisi berikutnya.
“Tidak masalah. Kita tatap kompetisi lanjutan. Yang penting anak-anak tetap semangat, terus berlatih, dan mengambil pelajaran dari pertandingan ini,” katanya.
PSHW Ponorogo kini harus mengalihkan fokus. Piala Soeratin 2026 telah selesai bagi mereka, tetapi perjalanan pembinaan pemain muda belum berakhir.
Kekalahan 0-2 dari Persida menjadi catatan sekaligus bahan evaluasi.
Terutama soal bagaimana mengubah dominasi permainan dan peluang menjadi gol—modal penting bagi PSHW Ponorogo untuk kembali bersaing di kompetisi berikutnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments